Awas, Jangan Berbagi Penggunaan Benda Ini dengan Orang Lain

02

Earphone rentan menularkan bakteri atau kuman (foto: hitech.vesti.ru)

Kadang begitu dekat hubungan kita dengan teman, hal meminjamkan properti dianggap biasa. Sebenernya ngga semua bisa kita bagi bersama dalam penggunaannya, bukannya pelit, namun hal itu perlu kita lakukan untuk hindari perpindahan virus dan kuman sebab bukan kah kuman itu bisa tersebar tanpa pandang teman akrab atau bukan? Nah, berikut yang sebaiknya tidak boleh you guys bagi bersama.

Earphone

Kita kadang merasa biasa saja mendengarkan musik bersama teman melalui earphone atau kala lupa bawa, seringkali pinjam dari teman untuk mendengakan musik. Tapi tahu ngga bahwa earphone rentan menularkan bakteri atau kuman. Bisa jadi si peminjam punya penyakit infeksi telinga, nah lo!! Jadi sebaiknya hindari berbagi earphone.

Pisau cukur

Biasanya saat traveling dan butuh alat ganteng, kita seenaknya ajah pakai alat cukur teman. Padahal sekali saja pisau cukur yang orang lain pakai dan mengenai pembuluh darahnya, maka jenis penyakit seperti HIV AIDS, hepatitis, dan lainnya bisa menular dengan cepat.

Deodoran

Lagi-lagi bisa terjadi saat traveling atau usai ganti salin setelah berenang, biasanya kita mudah saja berbagi deodoran dengan teman. Sesungguhnya deodoran rentan menyimpan banyak kuman sebab dipakai pada bagian tubuh yang berkeringat. Lagi pula, ketiak dapat menularkan bau badan jika bakteri yang ada di keringat saling berpindah tempat dengan ketiak orang lain. Jadi kalau terpaksa ngga bawa mending tahan untuk tidak pakai sampai ketemu indomaret atau alfameret lah, beli ajah, murah ini.

Sabun batang

Sekalipun satu keluarga sebaiknya gunakan sabun batang untuk masing-masing orang sebab berbagai bakteri pemicu penyakit kulit semisal herpes, panu, atau eksim bisa menular dengan mudah pada sabun batang yang berbagi, bahkan dengan saudara sekalipun lho’

 

Begini Rute Menikmati Pura Di Bali

Cari kata BALI untuk images di Google yang tampil gambar Pura dengan berbagai keindahan dan keteduhan lingkungan yang mengelilinginya. Ngga penasaran mau datangi Pura cantik nan teduh itu? Yuk telusuri beberapa Pura itu sembari cari tahu filosofi didirikannya setiap pura yang kita sambangi, begini rutenya! 

Pura Besakih

Rute pertama jatuh pada Pura Besakih, kenapa? Sebab Pura Besakih diyakini sebagai tempat pertama para leluhur Bali yang pindah dari Gunung Raung di Jawa Timur. Ada cerita menarik kenapa akhirnya leluhur Bali mendirikan Pura di tempat ini.

Begitu semangatnya mereka membersihkan lahan baru ini, hingga melupakan rasa syukur pada alam semesta, hingga suatu waktu alam menegur dengan bencana sakit dan banyak orang yang dimakan oleh bintang buas, hingga suatu waktu seorang pertapa mengigatkan untuk mengerjakan upacara yadnya atau dalam istilah Bali dikenal dengan nama bebanten atau sesaji bagi Sang Hyang Widhi Wasa. Nah, di tempat mula persembahyangan untuk menebas hutan di Bali ini leluhur menanam kendi atau payuk berisi air, beserta Pancadatu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten/sesajen) yang diperciki oleh Pangentas (air suci). Tempat aktivitas diletakkannya sesajen itu diberi nama Pura Basuki yang hingga kini dikenal dengan nama Pura Besakih. Setelah berdirinya Pura Besakih, aktivitas pembersihan diteruskan tanpa meninggalkan rasa syukur mereka bagi Sang Hyang Widhi Wasa.

besakih

Terbayang kan keteduhan Pura Besakih ini (suartur.com)

Pura Ulun Danu Bratan

Terbilang tidak jauh dari Pura Besakih, perjalanan menelusuri Pura di Bali lanjut ke Pura Ulun Danu Bratan. Salah satu daya pikat pura ini adalah letaknya di tengah danau diantara pegunungan sejuk. Ngga afdol deh ke Bali kalau belum lihat langsung pura yang tambah terkenal berkat ada di uang pecahan Indonesia Rp. 50.000 ini.

pura-ulun-danu-bratan

Seolah dikelilingi danau, Pura ini begitu indah untuk difoto setiap saat (accessibleindonesia)

Pura Ulun Danu Beratan berada di Desa Bedugul, Bedugul terkenal dengan udara yang sejuk berkat ketinggian 1.293 meter diatas permukaan laut. Pura Ulun Danu Beratan adalah pura yang ditujukan untuk pemujaan Dewi Danu sebagai simbol pemberi kesuburan dan kemakmuran untuk penduduk Desa Bedugul.

Pura Tanah Lot

Sebelum menikmati indahnya Pura Tanah Lot, yuk kita kepo-in dulu ada apa sih sampai disebut Pura Tanah Lot. Pada zaman dahulu kala…., cie mau membagi kisah nih. Jadi dahulu kala itu penduduk Bali terutama penduduk Desa Beraban percaya pada satu orang pemimpin yang dianggap sebagai utusan Tuhan. Suatu waktu datanglah seorang punggawa dari tanah Jawa, tepatnya dari Kerajaan Majapahit yang ingin menyebarkan agama Hindu menuju Lombok. Punggawa bernama Dang Hyang Dwijendera sebelum tiba di Mataram berhenti melakukan meditasi di Desa Beraban karena melihat cahaya yang keluar dari batu berbentuk burung beo dengan mata air di dalamnya.

Berkat kharisma dan ajaran yang dibawa, banyak penganut monotheisme lokal yang mulai mengikuti ajaran Dang Hyang Dwijendera. Pimpinan penganut monotheisme desa Beraban marah dan mengusir Dang Hyang Dwijendera. Dengan kesaktiannya Dang Hyang Dwijendera berhasil menggeser tempat pertapaan yang semula menyatu dengan tanah itu ke tengah laut. Maka jadi lah tanah dengan bangunan pura itu disebut Tanah Lot atau tanah di tengah laut, itu kenapa sekarang kita lihat Tanah Lot seperti terhempas ke laut, mungkin dahulu Pura itu berada didaratan Beraban.

sunset-tanah-lot-bali

Terpisah dari daratan bikin Pura di Tanah Lot ini semakin menarik 

 

Pura Puncak Mundi, Nusa Penida

Buat yang belum pernah menginjakkan kaki ke Nusa Penida, ini saatnya untuk menyambangi pulau nyentrik yang pernah jadi tempat pembuangan Soekarno itu. Dari penyeberangan Sanur kurang lebih 30 menit dengan boat ke Nusa Penida. Pura yang akan dituju adalah Pura Puncak Mundi.

Kisah para Dewa turun ke bumi menjelma jadi manusia diceritakan pada asal muasal Pura Puncak Mundi. Diyakini hal itu terjadi pada tahun saka 50 ketika Batara Siwa turun ke dunia menjelma jadi manusia di sekitar Puncak Bukit Mundi  yang merupakan dataran tertinggi di Nusa Penida. Ketika itu Batara Siwa menjelma jadi seorang pendeta besar yang sakti, bernama Dukuh Jumpungan.

Seperti keyakinan Hindu umumnya jika salah satu dewa turun ke bumi tentu berpasangan, nah! pasangan Dukuh Jumpungan adalah Dewi Uma, yang juga seorang Dewi yang menjelma jadi wanita jelita.  

Tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Kisah ini lah yang jadi muasal cerita berkembang biaknya penduduk di Pulau Nusa Penida, bukan hanya penduduk yang terus bertambah, sejak pura pertama di Nusa Penida itu, kini sudah terdapat banyak pura di Nusa Penida. Jadi ngga salah you guys begitu tiba di dermaga Nusa Penida kudu ke pura ini terlebih dahulu sebelum menyambangi pura lain di Nusa Penida.

Jangan lupa untuk berpakaian sopan dan menyapa dengan ramah petugas penjaga Pura sebelum masuk, dan tolong jangan buang sampahmu sembarangan yaaa

dalem-puncak-mundi

Keteduhan yang luar biasa bisa berada di Pura ini, harus coba guys! 

 

Radio (2003): A lesson in Humanity

radio

Akan ayah ceritakan kepadamu apa yang belum belum pernah ayah ceritakan selama ini, ketika ayah berusia 12 tahun, saat berjualan koran dan mengantar ke beberapa rumah di sekitar komplek, ayah selalu melawati sebuah rumah dan di rumah itu selalu terdengar suara rintihan seperti anak terjepit. Ketika ayah lihat ternyata suara itu keluar dari mulut seorang anak seusia ayah dengan keterbelakangan. Dia merintih karena dipasung oleh orang tuanya. Selama dua tahun ayah selalu melewati rumah itu dan selalu mendengar suara itu, namun ayah tidak pernah bisa berbuat apa pun untuk anak itu

Obrolan Pelatih Harold Jones yang diperankan oleh Ed Harris kepada anak tunggalnya Mary Helen (Sarah Drew) diatas adalah cuplikan di akhir cerita film Radio (2003). Sosok anak dengan keterbelakangan mental bernama James Robert Kennedy (Cuba Gooding Jr) ini lah yang menghiasi hampir seluruh isi film.

Kegembiraan Kennedy dengan keranjang dorong dan beberapa alat yang dibawa menjadi perhatian Pelatih Jones saat melintas lapangan football tempat ia melatih siswa SMA Hanna di Anderson Street, South Carolina. Ketertarikan Kennedy pada radio sejak pertama saat dirinya diundang oleh Pelatih Jones dan kesulitan menyebut nama menciptakan sebutan Radio untuk anak yatim keturunan Afrika-Amerika ini.

radio-2003-movie-poster

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri Radio, Pelatih Jones terus mengikutsertakan Radio dalam setiap latihan dan aktivitas di SMA Hanna. Namun keadaan tidak seindah yang dibayangkan, niat Pelatih Jones untuk memberikan perhatian lebih kepada Radio menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak suka sebagaian orang tua murid. Dengan berbagai cara mereka mulai menghasut orang tua lain agar pihak sekolah mengeluarkan Radio dari sekolah. Niat licik itu berhasil, Radio akhirnya dikeluarkan dari sekolah kerena dikerjai oleh Frank, salah seorang murid bankir kaya dengan  cara menipu Radio untuk masuk ke kamar ganti siswi selepas latihan. Kondisi ini malah meyakinkan Pelatih Jones bahwa Radio harus ditolong sepenuhnya. Dalam sebuah pertemuan tidak resmi yang juga dihadiri oleh ayah Frank, Pelatih Jones menegaskan bahwa niat dirinya untuk menolong Radio bukan tanpa alasan dan jika Radio tetap tidak diizinkan masuk ke sekolah, dia akan ambil keputusan yang akan berpengaruh pada kelangsungan prestasi football murid-murid SMA Hanna.

Pertemuan yang berlangsung tidak lama ini membalikkan opioni para orang tua yang selama ini mengira Pelatih Jones telah berbuat salah dengan mengajak Radio ikut melatih para siswa malah berbalik jadi menyalahkan ayah Frank yang dianggap telah menebar kebencian kepada Radio dengan tanpa alasan.

Film yang diangkat dari kisah nyata tahun 1976 ini mengajarkan seberapa besar manfaat kita bagi orang lain. Apa yang Pelatih Jones lakukan kepada Radio menjadi sebuah pemahaman fundamental bagi kehidupan Radio di masa depan.

Dengan memilih berhenti menjadi pelatih dan terus membimbing Radio hingga kelak bisa diterima masyarakat, Pelatih Jones bisa berkata kepada anak tunggalnya bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan kedua terhadap apa yang seharusnya ia lakukan saat berusia 12 tahun lampau, A lesson of Humanity.

 

Starring: 

Cuba Gooding Jr (Radio), Ed Harris (Coach Jones), Alfre Woodard (Principal Daniels), S. Epatha Merkerson (Maggie), Brent Sexton (Honeycutt), Chris Mulkey (Frank Clay), Sarah Drew (Mary Helen ), Riley Smith (Johnny), Patrick Breen (Tucker) dan Debra Wing

Genre: 
Drama

Kemana Hilangnya Film “Soeara Berbisa” (1941)

soeara_berbisa_ad

Atlet muda bernama Mitra dan Neng Mardinah akan menikah. Namun, seorang pemuda yang bernama Mardjohan jatuh cinta dengan Mardinah, dan kemudian menyebarkan fitnah bahwa Mitra adalah anak perampok. Tak tahan dengan fitnah itu, Mitra pergi ke luar kota dan bekerja pada sebuah perkebunan. Ternyata penguasa perkebunan itu Mardjohan. Suatu waktu Mardjohan mengalami kecelakaan dan ditolong oleh Mitra. Setelah diantarkan ke rumah Mardjohan, Ibu Mardjohan mengenali Mitra sebagai anaknya yang telah lama hilang: Mitra adalah adik kandung Mardjohan”

Alur diatas adalah film karya sutradara R Hu dan sutradara Ang Hock Liem yang seharusnya tayang perdana di Medan  bertepatan dengan Idul Fitri tanggal 22 Oktober 1941. Film hitam putih dibawah bendera Union Film ini dibintangi oleh Raden Soekarno, Ratna Djoewita, Oedjang, dan Soehaena. Alur kisah ditulis oleh Djojopranoto. Film dengan setting pemandangan Jawa Barat ini banyak dihiasi oleh alunan musik keroncong. Union Film mengklaim bahwa mereka memperbaiki dialog dan alur sebaik-baiknya dengan memerhatikan kemauan penonton bangsa Indonesia, bahkan dalam surat kabar berbahasa Belanda, film tersebut diiklankan sebagai kisah hebat dan menarik dari dua laki-laki muda di dunia olahraga pribumi  yang diproduksi secara beradab sehingga patut dihargai oleh masyarakat Eropa.

Union Film berkantor di Mangga Besar Jakarta dan didirikan oleh pengusaha etnis Tionghoa, Ang Hock Liem dan Tjoa Ma Tjoen. Union Film hadir saat industri perfilman Indonesia mulai bangkit ketika itu, mereka berorientasi pada pertumbuhan kalangan inteligensia bangsa Indonesia. Film pertama karya Union Film adalah Kedok Ketawa yang dirilis pada Juli 1940. Film ini diikuti oleh serangkaian film yang ditulis oleh Saeroen.

Film-film mereka disutradarai oleh oleh empat orang, sebagian besar etnis Tionghoa, dan melambungkan karier aktor-aktor seperti Raden Sokarno dan Djoewariah. Setelah perusahaan ini tutup, Raden Soekarno tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai pemain film sampai 1970an dan berganti nama menjadi Rendra Karno

Seorang antropolog visual Amerika Karl G. Heider berpendapat bahwa seluruh film Indonesia yang berasal dari masa sebelum 1950 telah hilang, entah oleh pencurian, terbakar bersama dengan kebakaran besar gudang Produksi Film Negara tahun 1952, atau sengaja dibakar oleh beberaapa pihak. Bisa jadi film kisah percintaan Soeara Berbisa ini dicuri oleh Belanda lalu disimpan dengan rapih dan mereka terus merahasiakan keberadaannya hingga kini, wallahualam.

Ah! jika saja film Soeara Berbisa dan ketujuh film lain produksi Union Film tidak hilang apalagi jika Union Film terus berproduksi hingga kini mungkin perkembangan film Indonesia lebih bagus dari sekarang.

Diolah dari Wikipedia

“ku ingin hidup seribu tahun lagi”

Mungkin harapan Itu yang diinginkan para guru, karena mereka ingin hidup lebih lama agar bisa terus mengajarkan kebaikan.

Lantunan lagu diatas adalah salah satu yang dibawakan oleh seorang guru pada acara reuni SMA Kristen Ignatius Slamet Riyadi (SMAK SLAMER) angkatan 1986 ke-30 di Cimanggis, 15 Oktober 2016. Berkesempatan ikut mengabadikan moment itu akhirnya berujung posting ke Facebook, semoga ini jadi semangat bagi semua untuk menjaga tali pertemanan, rasa syukur atas ilmu yang telah guru berikan dan tentu terhadap semua kebaikan Tuhan bagi kita. Enjoy the video

https://plus.google.com/+mahmurmarganti-damiri/posts/L5DtqUFDcKu?_utm_source=1-2-4

Destinasi Keren di Magelang Bukan Cuma Borobudur

Dari kecil sudah ribuan kali dengar nama Candi Borobudur terus sudah  punya uang gini kalau mau plesir ke Magelang mesti ke Borobudur banget, ngga kali ya?

Berkat candi peninggalan Dinasti Syailendra yang sempat ditinggal begitu saja selama 400an tahun sampai ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffless tahun 1814, Magelang benar-benar diberkati dan punya banyak destinasi keren selain Candi Borobudur.  Mau tahu apa aja destinasi menarik di Magelang? Ini dia.

Gunung Andong

aaaaaaa

Foto: yukpiknik

You guys yang suka mendaki gunung, ngga cuma Gunung Ceremai atau Rinjani loh yang menarik. Di Magelang ada Gunung Andong. Untuk pemula, Gunung Andong adalah salah satu gunung paling ramah didaki. Gunung  di Kabupaten Magelang ini hanya memiliki ketinggian  1.726 mdpl. Et! Tapi jangan meremehkan ketinggiannya yang ngga terbilang mencakar langit, pemandangan yang disajikan Gunung Andong tetap amazing loh!
Jangan dianggap remeh yah, untuk mendaki Gunung Andong tetap butuh persiapan fisik dan materi yang matang. Sebuah kesalahan bila mendaki gunung kurang persiapan. Base pendakian Gunung Andong ada di kecamatan Ngablak, Magelang. You guys yang mau lewat jalur pendakian yang ngga mainstream, bisa coba pendakian via Desa Sawit. Menuju Desa Sawit juga terbilang ngga rumit, ada kendaraan umum yang bisa ditumpangi.

Arung Jeram Kali Progo Atas

aaaaaaaaaaa

Foto: tempatraftingdimalang.com

Ngga percaya kalau di Magelang bukan cuma Candi Borobudur? Arum Jeram Kali Progo Atas yang masih masuk dalam wilayah Magelang ini benar-benar menjanjikan tantangan adrenalin yang luar biasa. Perlu kamu ketahui, Kali Progo adalah sungai yang mengaliri Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Jogja  sungai ini menjadi batas alami Kabupaten Kulonprogo dengan Kabupaten Sleman dan Bantul. Sumber dari sungai adalah lereng Gunung Sumbing, luar biasa bukan? Nah pada jaman Belanda aliran sungai di daerah Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Kali Progo dibendung menjadi dua aliran untuk sarana irigasi bagi masyarakat Yogyakarta oleh Belanda. Bendungan itu dikenal dengan istilah Ancol Bligo, lokasi ini juga jadi destinasi wisata loh.

Sungai Progo Atas mempunyai jeram-jeram kelas II-III yang cukup menantang dengan durasi kira-kira 3 jam pengarungan. Jeram ini cocok bagi Anda yang terbilang newby ber-arung jeram karena tingkat bahaya yang relatif rendah.

 

Rumah Kamera

aaaaaa

Foto: Kompasiana

Dengar nama dan foto tempat ini, kayaknya bisa jadi magnet tersendiri buat para pecinta fotografi. Kayaknya perlu dikunjungi nih. Ada apa sih rumah yang di dalamnya terdapat berbagai lukisan karya seniman asal Semarang yang lama tinggal di Bali, Tanggol Angien Jatikusumo.

Bangunan besar berbentuk kamera DSLR ini menyajikan view cantik pemandangan desa-desa di Magelang dari atas. Bukan Cuma itu, view Candi Borobudur juga Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Andong, Punthuk Setumbu, dan perbukitan Menoreh juga bakal bikinkamu etah disini. Bukan cuma itu yang bikiin betah, di Rumah Kamera ini banyak sekali spot selfie yang ngga bisa begitu ajah dilewati. Tongsis jadi semacam alat yang ngga boleh lupa dibawa kesini.

Menuju Rumah Kemera bisa lewat Candi Borobodur ke arah selatan, Rumah Kamera ada di sekitar 800 meter kiri jalan. Rumah Kamera buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 08.00-17.00 WIB.

Desa Wisata Candirejo

00000000000

Foto: Matajatim

Pengalaman berada di kampung Jawa yang sebenernya musti kamu alami selagi ada di Magelang, dan Desa Wisata Candirejo adalah destinasi yang tepat sekali ketika berada di Magelang.

Masih berada di Kecamatan Borobudur Magelang, sekitar 2,5KM dari Candi Borobudur, kamu sudah bisa menikmati suasana khas pedesaan dengan kehidupan tradisional Jawa yang kental. Ambience kehidupan warga di desa ini yang masih alami bikin pendatang benar-benar merasa waktu berjalan lambat, lupa sama macet, lupa sama stres, dan yang penting lupa deadline malah, LoL!.

Kehidupan alami dengan ketenangan desa yang asli jadi daya tarik yang luar biasa yang bikin orang dari mana pun, ngga terkecuali turis mancanegara  mau berlama-lama duduk di tepi jalan desa ini. Kalau kamu mampir ke desa ini, jangan lupa ya  untuk membeli beberapa hasil kerajinan mereka, bukan cuma untuk peningkatan kesejahteraan mereka tapi materi yang kita beli bisa jadi alat untuk mengenang kalau kita pernah berada di desa yang penuh dengan ketentraman dan keteduhan asli Jawa ini

 

Kota Baru Parahyangan, Cara Nikmati Bandung dari Sisi yang Berbeda

Mau menikmati segarnya Kota Bandung di hari libur tapi ngga mau ketemu macet-macet? Ya sudah ngga usah melaju terus sampai tol Pasteur, keluar ajah di Gerbang Tol Padalarang. Kota baru di Bandung Barat ini  patut dijajal.

Ada apa ajah sih di Kota Baru Parahyangan ini? Sebelum you guys benar-benar memutuskan untuk pergi kesana, ngga ada salahnya cari tahu ada apa ajah sih disana, yuk!

Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan

Kamu yang belum pernah dengar istilah Sundial, mending kita cari tahu dulu istilah Sundial. Menurut Wikipedia, Sundial atau Jam matahari adalah sebuah perangkat sederhana yang menunjukkan waktu berdasarkan pergerakan matahari di Meridian. Jam Matahari merupakan perangkat penunjuk waktu yang sangat kuno. Jaman dulu itu belum ada jam baik analog apalagi digital yang bisa kamu dapatkan dimana-mana seperti sekarang. Sayangnya tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan perangkat Sundial dibuat.

Jam Matahari tertua yang pernah ditemukan, kebanyakan berasal dari Yunani, berupa sebuah bentukan sirkular dengan penanda di tengah yang ditemukan oleh Chaldean Berosis, yang hidup sekitar 340 SM. Beberapa artefak jam matahari lain ditemukan, di Tivoli, Italia tahun 1746, di Castel Nuovo dan Rigano tahun 1751, dan di Pompeii tahun 1762.

111

Berada di rounabout Kota Baru Parahyangan, jadi mudah dikenal banget kalau ini adalah Puspa Iptek (Foto gua olah dari Google Maps, keren ngga?!!!)

 

Rancangan jam matahari memanfaatkan bayangan yang menimpa permukaan datar yang ditandai dengan jam-jam dalam suatu hari. Seiring dengan perubahan pada posisi Matahari, waktu yang ditunjukkan oleh bayangan tersebut pun turut berubah. Pada dasarnya, jam Matahari dapat dibuat menggunakan segala jenis permukaan yang ditimpa bayangan yang dapat ditebak posisinya. Kekurangan dari jam Matahari adalah tidak bisa mengukur waktu pada saat jam malam. Lalu bagaimana nenek moyang kita mengetahui waktu di malam hari? Sebagai pengganti pada saat malam hari dapat digunakan jam bintang. Kecanggihan nenek moyang kita untuk mengetahui waktu pada masa lampau bisa kamu lihat di Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan ini.

11111

Karya purba kala itu sekarang ada di Kota Baru Parahyangan

Selain jam matahari yang merupakan bukti kecanggihan purbakala, Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan juga punya lebih dari 180 buah alat peraga interaktif dimana kamu bisa mencoba dan mengeksplorasi sendiri alat teknologi itu. Menarik bukan? Jam buka Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan beroperasi hari Selasa hingga Minggu dari pukul 08.30 hingga 16.30. Harga Tiket Masuk Puspa Iptek Kota Baru Parahyangan Bandung sebesar Rp.12.000 dan Rp.24.000 Harga Tiket Masuk jika ingin menyaksikan juga pertunjukan film 4 dimensi.

Bale Pare the Shop and Dine Experience

Ke Bandung ngga mampir ke wisata kuliner pasti ada yang kurang. Nah, selagi di Kota Baru Parahyangan sebaiknya kamu mampir ke Bale Pare. Bale Pare adalah kawasan komersial yang menawarkan konsep suasana wisata kuliner dengan nuansa alam eksotis. Kamu bisa menikmati kuliner dalam suasana bertema etnik budaya tradisional di alam terbuka nan nyaman.

Di Bale Pare terdapat 9 restoran dan 6 kafe yang menyajikan berbagai makanan dan minuman, dilengkapi dengan sarana bermain anak, hiburan musik. Untuk harga makanan dan minuman ngga usah khawatir. Harga makanan disini mulai dari Rp.20.000 sudah free Wifi.

11111a

Pas untuk arena main keluarga (Foto: liburananak.com)

Masjid Al-Irsyad Satya

Bandung tidak hanya memiliki tempat wisata alam, wisata belanja, wisata kuliner yang menjadi alasan kamu menyambangi kota ini, Bandung juga memiliki tempat ibadah yang bisa menjadi wisata religi yang khidmat dan menyenangkan. Salah satu tempat yang bisa dijadikan tempat wisata religi yang menyenangkan adalah Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan.

Terletak di lokasi yang strategis dan terbilang mudah ditemukan di Jl. Parahyangan Km 2,7 Kota Baru Parahyangan, Bandung. Kamu yang baru melintasi jalan ini pasti sudah akan aware dengan bangunan masjid bergaya mirip dengan bangunan Kabah.

aaaaaaaa

Artsitektur keren, sampai menyabet penghargaan internasional karagori tempat ibadah (Foto: Wikipedia)

Hal yang menarik dari Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan adalah arsitektur dan interiornya yang berbeda dari masjid-masjid yang lain. Masjid dengan arsitekur walikota Bandung Ridwan Kamil ini bukan hanya menarik dan unik dilihat dari luar akan tetapi sampai interior masjid juga menarik.

Dengan warna dasar abu-abu, masjid yang masih dalam satu komplek dengan Al Irsyad Satya Islamic School ini juga memberikan sentuhan ornament yang berbeda. Dinding-dinding yang menjadi pelindung masjid terbuat dari susunan batu bata yang mengagumkan. Susunan batu bata ini tidak sembarangan. Susunan batu bata ini membentuk kalimat Bahasa Arab yang bertuliskan kalimat syahadat.

Gimana Seru juga kan? kalau you guys mau sekalian bermalam disana, ada Hotel Maison Pine yang lumayan bagus dan punya view keren, terbilang ngga terlalu mahal kok. Oh iya saat di Kota Baru Parahyangan, posting di Path From-nya tetep Bandung kok? LoL.