belanja

Salah satu aktifitas bulanan yang disukai keluarga kami setelah pembayaran upah tiba, seiring bertambahnya nilai di rekening adalah ‘bertamasya’ ke pasar swalayan untuk pemenuhan kebutuhan bulanan rumah tangga. Jauh sebelum payday itu istri sudah menyiapkan beberapa catatan wajib yang boleh kami ambil ketika bertamasya itu lengkap dengan perkiraan harga untuk menghindari kekhawatiran over budget.

Hampir tidak ada yang istimewa setiap kali menyelesaikan tamasya itu selain monitor cash register di kasir yang selalu lebih besar dengan yang sudah ditulis dalam sebuah oret-oretan yang kami beri nama Anggaran Rumah Tangga. Anggaran ya tetap anggaran namun siapa diantara kami berdua yang bisa melakukan fungsi kontrol terhadap ‘keleluasaan’ mengambil beberapa item yang tidak ada dalam secarik kertas rencana belanja itu, belum lagi ada permintaan khusus dari buah hati yang terkadang tidak mampu untuk tidak dipenuhi.

Masih ada godaan lain penyebab meningkatkan perbedaan angka budget dengan nilai cash register kasir seperti promo-promo yang ‘mendadak’ dilakukan oleh pasar swalayan tempat kita biasa datang tanpa ‘pemberitahuan’ terlebih dahulu, dimana kami berharap  bisa menganggarkannya terlebih dahulu.

Urusan anggaran dan bengkaknya nilai yang berujung pada perdebatan kecil di dalam rumah tangga ini memang tidak selalu menimpa setiap keluarga. John Meynard Keynes dalam salah satu teorinya mengatakan rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang disebut kecenderungan mengkonsumsi rata-rata akan  turun ketika pendapatan naik, kebutuhan mengambil beberapa barang dalam swalayan itu semakin bertubi-tubi selagi kita mengalami rata-rata kenaikan pendapatan (average propensity to consume ) namun setelah beberapa waktu kecenderung itu akan menurun, Keynes juga percaya bahwa tabungan adalah kemewahan sehingga ia barharap orang kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka ketimbang si miskin.

Belanja dan anggaran memang menjadi satu kesatuan yang tak tepisahkan, mekanisme kontrol yang seharusnya dilakukan semestinya tidak melulu pada bagaimana cara menahan pengambilan barang-barang diluar secarik kertas yang sudah dipersiapkan, namun lebih dari itu kita bisa lakukan dengan pola mengatur waktu belanja. Kelemahan berbelanja kebutuhan bulanan saat wiken dimana kita memiliki waktu luang lebih untuk mengambil beberapa barang diluar kebutuhan kita nampaknya perlahan-lahan bisa kita ganti dengan hari kerja dimana kita akan mempercepat waktu belanja dan tidak punya banyak waktu untuk mengambil barang-barang diluar catatan kita, tentu ini bukan satu-satunya cara karena saya bukan ahli perencana keuangan keluarga.

Saya pernah menemukan tulisan seorang perencana keuangan, Freddy Pieloor dia menyebutkan dalam tulisannya bahwa perencanaan keuangan rumah tangga yang baik berawal dari kejujuran dan komunikasi yang baik pasangan suami istri tanpa ada yang disembunyikan. Pieloor juga menegaskan pentingnya kejujuran tersebut sangat berguna ketika pasangan itu harus menentukan antara kebutuhan dan keinginan, tambahnya “kebutuhan itu kalau Anda tidak memilikinya, maka hidup Anda selalu terganggu, sebaliknya keinginan itu muncul secara spontan” nah loo, jadi item-item yang saya ambil ketika tamasya ke pasar swalayan saat terjadi promo secara spontan itu bisa jadi tidak masuk dalam definisi kebutuhan yaa.

Selamat “bertamasya’ dengan bijak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s