Sunrise via JT011

Hal yang ngga pernah gua lakukan sebelum ini adalah balik ke Jakarta menggunakan penerbangan paling pagi dari Denpasar. Kali ini gua lakukan karena dua hari jelang Nyepi hampir seluruh penerbangan di setiap jam penerbangan sudah ludes terjual.

Sore itu ada keburuntungan karena ternyata pemesanan tiket via online Lion Air untuk besok hari pukul 06:30 masih available dan cuma itu yang ada hingga penerbangan satu hari setelahnya sebab seluruh penerbangan dari dan ke Denpasar saat hari Nyepi praktis ngga ada.

Tiga hari tinggal di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur yang penuh dengan leyeh-leyeh akhirnya harus tegang sejak jelang tidur malam. Alarm, baik yang disetel di HP maupun titp via resepsionis hotel malam itu harus dipastikan banget bekerja untuk bangun jam setengah 5 pagi, sebab secara hitung-hitungan harus check out jam 5 pagi dari hotel. Perjalanan dari Sanur ke Ngurah Rai mungkin ditempuh setengah jam sekalipun pagi itu sudah gua bayangkan akan melintas tol Bali Mandara menuju Bandara Ngurah Rai itu.

Syukurlah seluruh alarm berbunyi, semua berjalan lancar walaupun agak kurang rela karena harus meninggalkan pantai Sanur dengan harapan sunrise yang mungkin bakal ada kerena dua hari kemarin selalu mendung.

Berbeda dengan Jakarta, pukul 5 pagi di Sanur rasanya ayam pun enggan bangun, cuaca yang sesekali gerimis itu memang mestinya masih enak untuk tidur atau bermalas-malasan.

Setibanya di Bandara Ngurah Rai ketegangan mulai memuncak, karena ternyata perjalanan Sanur-Bandara Ngurah Rai yang diperkirakan setengah malah sampai 45 menit ditambah dengan bandara yang baru ini, dimana motor (karena gua diantar motor temen Bali yang ikut menginap) ngga boleh melintas depan bandara (dulu boleh ngga yaa?) jadi harus lebih jauh ke belakang dan menempuh jalan kaki dengan memakan waktu cukup lama untuk sampai ke terminal keberangkatan.

Singkat cerita akhirnya duduk manis di kursi Boeing 737-300ER kursi nomor 39F Lion Air penerbangan JT011 pukul 06:30 dan bisa menikmati sunrise tentu bukan permintaan gua sebelumnya. Ini semacam posisi bonus buat gua, karena duduk di sisi kanan paling belakang pesawat dimana titik matahari terbit tepat berada di pandangan mata gua. Mungkin penumpang lain di depan ngga dapat kesempatan ini karena posisi mereka tertutup oleh badan pesawat di sisi kanan, apalagi penumpang yang ada di sisi kursi A atau kiri. Sedikit menyesal karena kamera DSLR sudah masuk tas di dalam kabin, tapi… ah sudahlah toh yang penting kan moment sunrise-nya. Dengan kemampuan zoom iPhone 4s yang gua pakai terpaksa gua manfaatkan moment ini

ini penampakan awal saat gua menoleh pertama kali ke jendela

Image

duh, selain belum begitu matang warna horizon-nya, tetesan sisa air hujan di jendela ganggu banget nih, lagian Mr. Matahari juga belum nongol bener, take lagi ah..

Image

nah, mulai mateng nih warna horizon-nya, tunggu sambil harap-harap cemas semoga bener-bener terlihat Sang Mentari pagi

Image

jreeeenggggg, baru deh tampak jelas seluruh body sunrise pagi itu, akhirnya dapet juga moment sunrise di pangkalan udara.

Ngga cukup saat matahari terbit pemandangan indah jelang pesawat taxi dan menuggu antrian di taxi way juga ada pemandangan antrian di landasan termasuk ‘jurang’ landasan take off pesawat dengan laut yang khas di Ngurah Rai, Denpasar.

Image

Masih ada lagi bonus tambahan setelah pesawat take off, duh nikmatnya penerbangan JT011 Lion Air ini. Ternyata dengan duduk di kursi F kita juga akan leluasa menikmati pemandangan jalan tol Bali Mandara sepanjang 12 KM yang menghubungkan Nusa Dua, Ngurah Rai dan Benoa di tengah laut ini.

Image

Tadinya gua kira bakal bete pagi-pagi buta sudah harus meninggalkan Bali. Diberi kesempatan duduk di kursi 39F bikin perjalanan balik ke Jakarta makin asyik. Suatu saat gua akan gunakan lagi penerbangan dari DPS ke CKG ini untuk dapet moment lebih oke lagi.

Jadi bagi yang mau dapet moment keren ini, pastikan memesan penerbangan dengan Lior Air penerbangan JT011 pukul 06:30, et!! jangan lupa, jangan simpan DSLR Anda di dalam bagasi, pastikan dia duduk manis bersama Anda di kursi dan siap jepret.

Sanoyara Bali

Advertisements

Seandainya Diego Garcia ada di Indonesia

Gara-gara dugaan pesawat MH370 sempat terlihat di pulau Atol di Teritori Samudra Hindia Britania, sekitar 1.600 km sebelah selatan pesisir selatan India, gua lantas berhayal seandainya Indonesia punya karang atol se-keren dan sebesar ini lalu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pariwisata, wah pasti akan jadi tempat kedua ter-seru setelah pulau Bali deh.

Diego Garcia sendiri sebenarnya pulau yang ditemukan pelaut Spanyol Diego Garcia de Moguer sekitar tahun 1.500-an. Terletak di koordinat 718′48″ LS dan 7224′40″ BT. Kepulauan yang berada jauh dari jangkauan daratan ini kayaknya sengaja dijadikan pangkalan militer karena mungkin sulitnya dijangkau, bayangkan jarak pulau ini dari daratan terdekat adalah: 2.000 mil laut dari timur Tanzania dan 2.500 mil dari pantai barat Australia, atau 2.142 mil dari Sumatra.

Karang atol sepanjang 60 kilometer atau kurang lebih setara dengan panjang rel kereta listrik dari stasiun Jakarta Kota Ke stasiun Bogor pernah didiami oleh para pekerja perkebunan kelapa yang didatangkan dari Afrika dan Cina. Namun gara-gara tempat ini strategis, dua ribuan orang-orang Afrika, Cina dan Hindu yang sudah menghuni sejak tahun 1793 terpaksa di-“deportasi” demi depopulasi oleh pemerintah Amerika dan Inggris. ter-l.a.l.u..

Setelah pengusiran itu, praktis pulau ini tertutup untuk semua kedatangan benda atau mahluk apapun yang mendekat tanpa izin khusus penguasa. Segitunya yah, demi untuk mewujudkan pangkalan militer yang steril abis, mentang-mentang jadi salah satu basis CIA untuk Asia-Pasifik dan basis penempatan kekuatan militer.

Sementara kita lupakan dulu cerita karena dugaan menempuh pulau ini, lalu MH370 diserang abis-abisan oleh tentara dengan persenjataan super canggih disana atau ada penumpang yang sempat minta tolong ke sebuah forum diskusi di http://4plebs.org/ dengan tagging lokasi pulau ini; sekarang mari kita bayangkan seandainya karang atol segini gede ada di Indonesia, kayak apa sih asyiknya, yuu lihat dulu lingkaran 60 km itu

Image

Asik kan? Bayangkan, berapa banyak garis pantai yang bisa kita manfaatkan dengan atol sepanjang itu, belum lagi aktivitas pantai yang bakal banyak mengundang turis lokal dan asing macam diving, snorkling, banana boat, wah bakalan seru deh semua akfivitas yang dilakukan di tengah karang atol itu. Pengen tahu indahnya garis pantai Diego Garcia, nih

Image

dahsyat ya, kemarin gua tinggal 3 hari di Hotel Bintang Lima di Sanur yang udah tumplek orang ajah asik bener, gimana pulau dengan garis pantai seindah dan selembut itu. Tinggal seminggu di rumah putih yang ada di foto itu nikmat banget kali yaaa.

Terakhir yang bikin jleb adalah lingkaran tengah karang atol ini pasti tidak lebih dalam dibanding laut yang berada di sisi luarnya, gua membayangkan kondisi ini swimming pool yang besar dengan side pool pepohonan kelapa, pasti asik dan romantis.

ah, sudah lah semoga cerita hayalan gua siang ini tetap menambah semangat untuk mencintai Indonesia apa adanya dengan memanfaatkan seluruh sumber alam yang ada.

Ingkar Janji sang “Musim Panas”

Image

Masih dalam ingatan ketika sekolah dulu saat guru menerangkan 2 musim yang berlaku di negara ini. Musin hujan dan musin panas. Hanya 2 musim? Ya memang hanya dua musim. Berbeda dengan negara-negara yang beriklim sub tropis yang memiliki musim lebih banyak dari kita. Lalu, sang guru meneruskan pelajaran tentang musim tersebut dengan “peraturan” waktu yang seolah ditetapkan bak peraturan pemerintah bahwa kedua musim yang mengunjungi Indonesia itu, untuk musin panas datangnya antara bulan Januari sampai bulan Juni sementara jatah bagi musim hujan adalah antara bulan Juli hingga bulan yang berakhiran ber, mengutip clue yang diberikan sang guru untuk mengatakan bahwa musin hujan (seharusnya) berakhir bulan Desember.

Tulisan ringan ini saya tulis jelang April dan saya masih merasakan bau-bau sedap tanah yang tersiram oleh hujan. Kemana pelajaran sekolah tentang “pembagian” jatah musim itu. Ada apa dengan semua ini. Tidak perlu bertanya pada rumput yang bergoyang untuk sedikit tahu tentang hal yang terjadi diluar pelajaran kita ini.

Pemanasan Global yang berakibat pada perubahan iklim seluruh lapisan bumi adalah penyebab ketidakteraturan waktu datangnya musim. Pembalakan hutan secara besar-besaran, penggunaan zat Chlorofloro Carbon secara berlebihan dan meningkatnya industri pengirim asap yang menembus dan merusak langit kita juga disalahkan oleh ilmuwan yang fokus terhadap keseimbangan iklim bumi sebagai faktor perusak semua ini.

Lembaga internasional pun segera diberdaya menjalankan fungsi kontrol negara-negara di dunia untuk menjaga paru-paru bumi agar tetap terus bekerja memompa udara segar bagi kehidupan. Indonesia tidak luput dari harapan mereka untuk menjaga paru-paru dunia terutama yang ada di pulau Kalimantan. United Nations Framework Convention on Climate Change atau UNFCCC ditugasi menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir hingga taraf yang tidak membahayakan kehidupan organisme dan memungkinkan terjadinya adaptasi ekosistem, sehingga dapat menjamin ketersediaan pangan dan pembangunan berkelanjutan. Dampak kekhawatiran itu ada pada ekosistem yang berpengaruh langsung terhadap sektor pariwisata secara kuantitatif dan kualitatif dampak ini jelas berpengaruh.

Meningginya suhu permukaan bumi mengakibatkan cairnya es di kedua kutub bumi, ini bukan tidak berpengaruh bagi kita. Menoleh data Departemen Kelautan dan Perikanan RI, antara tahun 2005 sampai tahun 2007 negara kita kehilangan 24 pulau akibat meningginya permukaan laut. Belum lagi meningginya suhu ini berakibat pada perubahan warna pada terumbu karang yang ada di beberapa destinasi wisata, seperti Wakatobe, Derawan, Raja Ampat dan beberapa tempat lain, dan akhir dari perubahan warna ini adalah matinya komunitas terumbu karang pada wilayah itu.

Selamat menikmati datangnya April, dan mulai sekarang lupakan pelajaran tentang musim yang pernah kita terima di bangku sekolah dulu.

[tulisan saya ini juga dimuat di Majalah Tourism edisi April]