Sunrise via JT011

Hal yang ngga pernah gua lakukan sebelum ini adalah balik ke Jakarta menggunakan penerbangan paling pagi dari Denpasar. Kali ini gua lakukan karena dua hari jelang Nyepi hampir seluruh penerbangan di setiap jam penerbangan sudah ludes terjual.

Sore itu ada keburuntungan karena ternyata pemesanan tiket via online Lion Air untuk besok hari pukul 06:30 masih available dan cuma itu yang ada hingga penerbangan satu hari setelahnya sebab seluruh penerbangan dari dan ke Denpasar saat hari Nyepi praktis ngga ada.

Tiga hari tinggal di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur yang penuh dengan leyeh-leyeh akhirnya harus tegang sejak jelang tidur malam. Alarm, baik yang disetel di HP maupun titp via resepsionis hotel malam itu harus dipastikan banget bekerja untuk bangun jam setengah 5 pagi, sebab secara hitung-hitungan harus check out jam 5 pagi dari hotel. Perjalanan dari Sanur ke Ngurah Rai mungkin ditempuh setengah jam sekalipun pagi itu sudah gua bayangkan akan melintas tol Bali Mandara menuju Bandara Ngurah Rai itu.

Syukurlah seluruh alarm berbunyi, semua berjalan lancar walaupun agak kurang rela karena harus meninggalkan pantai Sanur dengan harapan sunrise yang mungkin bakal ada kerena dua hari kemarin selalu mendung.

Berbeda dengan Jakarta, pukul 5 pagi di Sanur rasanya ayam pun enggan bangun, cuaca yang sesekali gerimis itu memang mestinya masih enak untuk tidur atau bermalas-malasan.

Setibanya di Bandara Ngurah Rai ketegangan mulai memuncak, karena ternyata perjalanan Sanur-Bandara Ngurah Rai yang diperkirakan setengah malah sampai 45 menit ditambah dengan bandara yang baru ini, dimana motor (karena gua diantar motor temen Bali yang ikut menginap) ngga boleh melintas depan bandara (dulu boleh ngga yaa?) jadi harus lebih jauh ke belakang dan menempuh jalan kaki dengan memakan waktu cukup lama untuk sampai ke terminal keberangkatan.

Singkat cerita akhirnya duduk manis di kursi Boeing 737-300ER kursi nomor 39F Lion Air penerbangan JT011 pukul 06:30 dan bisa menikmati sunrise tentu bukan permintaan gua sebelumnya. Ini semacam posisi bonus buat gua, karena duduk di sisi kanan paling belakang pesawat dimana titik matahari terbit tepat berada di pandangan mata gua. Mungkin penumpang lain di depan ngga dapat kesempatan ini karena posisi mereka tertutup oleh badan pesawat di sisi kanan, apalagi penumpang yang ada di sisi kursi A atau kiri. Sedikit menyesal karena kamera DSLR sudah masuk tas di dalam kabin, tapi… ah sudahlah toh yang penting kan moment sunrise-nya. Dengan kemampuan zoom iPhone 4s yang gua pakai terpaksa gua manfaatkan moment ini

ini penampakan awal saat gua menoleh pertama kali ke jendela

Image

duh, selain belum begitu matang warna horizon-nya, tetesan sisa air hujan di jendela ganggu banget nih, lagian Mr. Matahari juga belum nongol bener, take lagi ah..

Image

nah, mulai mateng nih warna horizon-nya, tunggu sambil harap-harap cemas semoga bener-bener terlihat Sang Mentari pagi

Image

jreeeenggggg, baru deh tampak jelas seluruh body sunrise pagi itu, akhirnya dapet juga moment sunrise di pangkalan udara.

Ngga cukup saat matahari terbit pemandangan indah jelang pesawat taxi dan menuggu antrian di taxi way juga ada pemandangan antrian di landasan termasuk ‘jurang’ landasan take off pesawat dengan laut yang khas di Ngurah Rai, Denpasar.

Image

Masih ada lagi bonus tambahan setelah pesawat take off, duh nikmatnya penerbangan JT011 Lion Air ini. Ternyata dengan duduk di kursi F kita juga akan leluasa menikmati pemandangan jalan tol Bali Mandara sepanjang 12 KM yang menghubungkan Nusa Dua, Ngurah Rai dan Benoa di tengah laut ini.

Image

Tadinya gua kira bakal bete pagi-pagi buta sudah harus meninggalkan Bali. Diberi kesempatan duduk di kursi 39F bikin perjalanan balik ke Jakarta makin asyik. Suatu saat gua akan gunakan lagi penerbangan dari DPS ke CKG ini untuk dapet moment lebih oke lagi.

Jadi bagi yang mau dapet moment keren ini, pastikan memesan penerbangan dengan Lior Air penerbangan JT011 pukul 06:30, et!! jangan lupa, jangan simpan DSLR Anda di dalam bagasi, pastikan dia duduk manis bersama Anda di kursi dan siap jepret.

Sanoyara Bali

Advertisements

Seandainya Diego Garcia ada di Indonesia

Gara-gara dugaan pesawat MH370 sempat terlihat di pulau Atol di Teritori Samudra Hindia Britania, sekitar 1.600 km sebelah selatan pesisir selatan India, gua lantas berhayal seandainya Indonesia punya karang atol se-keren dan sebesar ini lalu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pariwisata, wah pasti akan jadi tempat kedua ter-seru setelah pulau Bali deh.

Diego Garcia sendiri sebenarnya pulau yang ditemukan pelaut Spanyol Diego Garcia de Moguer sekitar tahun 1.500-an. Terletak di koordinat 718′48″ LS dan 7224′40″ BT. Kepulauan yang berada jauh dari jangkauan daratan ini kayaknya sengaja dijadikan pangkalan militer karena mungkin sulitnya dijangkau, bayangkan jarak pulau ini dari daratan terdekat adalah: 2.000 mil laut dari timur Tanzania dan 2.500 mil dari pantai barat Australia, atau 2.142 mil dari Sumatra.

Karang atol sepanjang 60 kilometer atau kurang lebih setara dengan panjang rel kereta listrik dari stasiun Jakarta Kota Ke stasiun Bogor pernah didiami oleh para pekerja perkebunan kelapa yang didatangkan dari Afrika dan Cina. Namun gara-gara tempat ini strategis, dua ribuan orang-orang Afrika, Cina dan Hindu yang sudah menghuni sejak tahun 1793 terpaksa di-“deportasi” demi depopulasi oleh pemerintah Amerika dan Inggris. ter-l.a.l.u..

Setelah pengusiran itu, praktis pulau ini tertutup untuk semua kedatangan benda atau mahluk apapun yang mendekat tanpa izin khusus penguasa. Segitunya yah, demi untuk mewujudkan pangkalan militer yang steril abis, mentang-mentang jadi salah satu basis CIA untuk Asia-Pasifik dan basis penempatan kekuatan militer.

Sementara kita lupakan dulu cerita karena dugaan menempuh pulau ini, lalu MH370 diserang abis-abisan oleh tentara dengan persenjataan super canggih disana atau ada penumpang yang sempat minta tolong ke sebuah forum diskusi di http://4plebs.org/ dengan tagging lokasi pulau ini; sekarang mari kita bayangkan seandainya karang atol segini gede ada di Indonesia, kayak apa sih asyiknya, yuu lihat dulu lingkaran 60 km itu

Image

Asik kan? Bayangkan, berapa banyak garis pantai yang bisa kita manfaatkan dengan atol sepanjang itu, belum lagi aktivitas pantai yang bakal banyak mengundang turis lokal dan asing macam diving, snorkling, banana boat, wah bakalan seru deh semua akfivitas yang dilakukan di tengah karang atol itu. Pengen tahu indahnya garis pantai Diego Garcia, nih

Image

dahsyat ya, kemarin gua tinggal 3 hari di Hotel Bintang Lima di Sanur yang udah tumplek orang ajah asik bener, gimana pulau dengan garis pantai seindah dan selembut itu. Tinggal seminggu di rumah putih yang ada di foto itu nikmat banget kali yaaa.

Terakhir yang bikin jleb adalah lingkaran tengah karang atol ini pasti tidak lebih dalam dibanding laut yang berada di sisi luarnya, gua membayangkan kondisi ini swimming pool yang besar dengan side pool pepohonan kelapa, pasti asik dan romantis.

ah, sudah lah semoga cerita hayalan gua siang ini tetap menambah semangat untuk mencintai Indonesia apa adanya dengan memanfaatkan seluruh sumber alam yang ada.

Ingkar Janji sang “Musim Panas”

Image

Masih dalam ingatan ketika sekolah dulu saat guru menerangkan 2 musim yang berlaku di negara ini. Musin hujan dan musin panas. Hanya 2 musim? Ya memang hanya dua musim. Berbeda dengan negara-negara yang beriklim sub tropis yang memiliki musim lebih banyak dari kita. Lalu, sang guru meneruskan pelajaran tentang musim tersebut dengan “peraturan” waktu yang seolah ditetapkan bak peraturan pemerintah bahwa kedua musim yang mengunjungi Indonesia itu, untuk musin panas datangnya antara bulan Januari sampai bulan Juni sementara jatah bagi musim hujan adalah antara bulan Juli hingga bulan yang berakhiran ber, mengutip clue yang diberikan sang guru untuk mengatakan bahwa musin hujan (seharusnya) berakhir bulan Desember.

Tulisan ringan ini saya tulis jelang April dan saya masih merasakan bau-bau sedap tanah yang tersiram oleh hujan. Kemana pelajaran sekolah tentang “pembagian” jatah musim itu. Ada apa dengan semua ini. Tidak perlu bertanya pada rumput yang bergoyang untuk sedikit tahu tentang hal yang terjadi diluar pelajaran kita ini.

Pemanasan Global yang berakibat pada perubahan iklim seluruh lapisan bumi adalah penyebab ketidakteraturan waktu datangnya musim. Pembalakan hutan secara besar-besaran, penggunaan zat Chlorofloro Carbon secara berlebihan dan meningkatnya industri pengirim asap yang menembus dan merusak langit kita juga disalahkan oleh ilmuwan yang fokus terhadap keseimbangan iklim bumi sebagai faktor perusak semua ini.

Lembaga internasional pun segera diberdaya menjalankan fungsi kontrol negara-negara di dunia untuk menjaga paru-paru bumi agar tetap terus bekerja memompa udara segar bagi kehidupan. Indonesia tidak luput dari harapan mereka untuk menjaga paru-paru dunia terutama yang ada di pulau Kalimantan. United Nations Framework Convention on Climate Change atau UNFCCC ditugasi menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir hingga taraf yang tidak membahayakan kehidupan organisme dan memungkinkan terjadinya adaptasi ekosistem, sehingga dapat menjamin ketersediaan pangan dan pembangunan berkelanjutan. Dampak kekhawatiran itu ada pada ekosistem yang berpengaruh langsung terhadap sektor pariwisata secara kuantitatif dan kualitatif dampak ini jelas berpengaruh.

Meningginya suhu permukaan bumi mengakibatkan cairnya es di kedua kutub bumi, ini bukan tidak berpengaruh bagi kita. Menoleh data Departemen Kelautan dan Perikanan RI, antara tahun 2005 sampai tahun 2007 negara kita kehilangan 24 pulau akibat meningginya permukaan laut. Belum lagi meningginya suhu ini berakibat pada perubahan warna pada terumbu karang yang ada di beberapa destinasi wisata, seperti Wakatobe, Derawan, Raja Ampat dan beberapa tempat lain, dan akhir dari perubahan warna ini adalah matinya komunitas terumbu karang pada wilayah itu.

Selamat menikmati datangnya April, dan mulai sekarang lupakan pelajaran tentang musim yang pernah kita terima di bangku sekolah dulu.

[tulisan saya ini juga dimuat di Majalah Tourism edisi April]

Bersama “Memburu” Lumba-Lumba di Kiluan

mahmur on kiluan

Tersembunyi di ujung Pulau Sumatera, sekitar 80 kilometer dari Kota Bandar Lampung, Teluk Kiluan yang dini hari itu kami datangi belum berkilau. Perjalanan dari Hotel Inna 8 Lampung yang kami mulai sekitar pukul 01:00 dini hari memakan waktu tidak terlalu lama.Ketakutan kami tentang medan menuju Teluk Kiluan yang diperkirakan akan sangat lama dari Inna 8 Lampung, ternyata jauh lebih cepat dari dugaan kami. Maka tiba lah kami di pantai yang sebagian besar penduduknya masih terlelap tidur dengan angin pantai dan dingin yang menyelimuti.Tidak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan di pagi buta itu selain coba mengambil beberapa foto perahu yang bersandar.

Setelah beberapa lama menunggu akhirnya kami tersohok oleh aktivitas sekumpulan nelayan. Rupanya niat kami untuk sekedar melihat kawanan Lumba-lumba diisi juga oleh aktivitas nelayan yang mengumpulkan Ubur-ubur di sekitar Teluk Kiluan.

Tentu ini bukan aktivitas yang biasa dipertontonkan, sebab kegiatan “panen” Ubur-ubur ini hanya setahun dua kali atau bahkan sekali di sekitar laut ini. Para nelayan dadakan yang sehari-harinya adalah petani ini menangguk untung besar saat panen Ubur-ubur. Rupanya perusahaan dari Korea adalah pembeli utama hasil tangkapan Ubur-ubur ini.

Selfie doloooo

Hari mulai siang ketika rombongan kami yang terdiri dari saya, Senior Marketing Manager Inna 8 Lampung, Arya Yudhawinata dan seorang kawan yang sengaja menyusul dari Jakarta, Dwi Wijayanto harus menyiapkan segala sesuatunya untuk melaut karena kapal yang kami pesan sudah mulai diisi bahan bakar. Waktu menunjukan pukul 07:15 saat perahu yang hanya berkapasitas 4 orang yang kami muati mulai menjauh dari pantai.

Perjalanan menuju ‘arena’ berkumpulnya Lumba-lumba ini memakan waktu cukup lama, kurang lebih satu jam dan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Syukurlah hari itu ombak tidak terlalu besar walaupun langit terus mendung. Berada di tengah laut dengan perahu kecil bermesin satu ini sungguh merupakan pengalaman yang tak kan terlupakan, apalagi sebelum berangkat si Bapak ‘Nahkoda’ ini berkali-kali bercerita bahwa kita akan melalui pulau yang berpenghuni Hiu walaupun cerita itu ditutup dengan kalimat hiburan yang cukup menenangkan yaitu tidak ada penduduk disini korban ikan Hiu itu. Sontak kami amini kalimat ini sambil berdoa terus dalam hati.

Sudah dua jam lebih perjalanan kami namun belum menemukan ciri-ciri adanya Lumba-lumba. Perahu kami tidak sendirian, ada dua rombongan lain dari TV Swasta Nasional dan satu kapal nelayan yang mencari ikan sekitar kami ‘memburu’ Lumba-lumba. Waktu sudah menunjukan pukul 09:45 ketika kami hampir putus asa dengan kemunculan Lumba-lumba. Menurut Bapak Nahkoda kami ada dua isyarat alam sebelum kemunculan Lumba-lumba ini. Pertama matahari bersinar cukup terik, cukup beralasan karena mungkin para Lumba-lumba ini butuh menghangatkan tubuh dibawah terik matahari itu. Seperti saya katakan diatas tadi sejak awal kami berangkat cuaca mendung di sekitar arena ini. Kedua, terdapat sekumpulan burung-burung laut yang terbang rendah. Burung-burung ini memakan ikan sisa makanan yang tidak habis dimakan oleh Lumba-lumba, pun isyarat alam kedua ini tidak nampak hingga pukul 10:15.

 

Di tengah jelang keputusasaan kami, perlahan-lahan Matahari mulai menyengat terik. Hari makin panas namun kami makin senang karena satu sudah dari dua isyarat tadi mulai ada. Belum lagi muncul isyarat kedua Bapak Nahkoda berteriak “sebelah kiri! sebelah kiri!!!” Dua buah Lumba-lumba dewasa dengan tubuh gemuk diiringi suara mereka yang khas ada persis di sisi kiri kapal kami. Kamera yang sejak 3 jam lalu kami siapkan pun mulai bekerja. Terharu sekali bisa melihat Lumba-lumba dari jarak paling dekat di tengah habitat mereka. Alhamdulillah akhirnya kami bisa bersama mereka.

behind me

“Perburuan” kami makin bersemangat, setelah kemunculan pertama tadi, mereka seolah mengoda kita dengan lompatan-lompatan kecil baik di depan-samping atau belakang kami sehingga kita harus sigap melihat ke suluruh penjuru. Tiap kali diantara perahu yang melihat sekawanan Lumba-lumba berteriak kepada parahu lainnya tanda agar kami semua jangan sampai ketinggalan moment tarian mereka. Kebahagiaan kami semakin lengkap dengan munculnya isyarat alam kedua yaitu sekumpulan burung laut yang terbang rendah diatas laut. Dengan sigap Bapak nahkoda ini mengejar sekumpulan itu. Tepat sekali! Persis dibawah burung-burung yang beterbangan tak henti-henti muncul sekawanan Lumba-lumba. Jumlah lumba-lumba ini sangat menakjubkan banyaknya, karena yang melewati Teluk Kiluan ini diperkirakan mencapai ribuan, salah satu jumlah terbesar migrasi lumba-lumba di dunia.

Walaupun Lumba-lumba yang muncul hari itu tidak seperti biasanya, menurut Bapak Nahkoda, namun kami cukup beruntung karena, lanjut si Bapak Nahkoda terkadang ada saja satu hari dia mengantar tamu dan tidak satu pun Lumba-lumba ini muncul ke permukaan.

cheeerrsssss

Dari Canti berlabuh ke Anak Krakatau

Mahmur di Canti

Pagi itu, Jumat 28 Februari 2014 mungkin akan menjadi hari yang bersejarah bagi saya dan Welly Kurniawan, GM Inna 8 Lampung. Kami bisa berbangga karena kami termasuk sedikit orang yang pernah menginjakan kaki di Anak Krakatau.

Tepat pukul 07:00 kami beranjak dari Inna 8 Lampung jalan Hiu nomor 1, Bandar Lampung. Perjalanan dari Inna 8 Lampung menuju Bandar Canti di Lampung Selatan cukup mengasyikan, lintasan pegunungan yang berbaris di jalur trans Sumatra lengkap dengan aktivitas masyarakat sepanjang perjalanan membuat perjalan kami terasa dekat hingga akhirnya tiba di Dermaga Canti.

Minimnya informasi yang kami dapatkan sebelum menempuh perjalanan menuju Anak Krakatau membuat kami mengocek kantung cukup dalam. Rupanya perahu yang menuju objek desa wisata Sebesi dan singgah ke Anak Krakatau ini reguler adalah pemberangkatan setiap hari sabtu pukul 8 pagi. Trip dengan tujuan tersebut menginap semalam di Pulau Sebesi dan balik menuju Dermaga Canti hari minggu pukul 2 siang.

Ibarat genderang perang sudah ditabuh dan bendera perang sudah dikibarkan, tekat kami bulat menuju Anak Krakatau, akhirnya kami tetap memutuskan menuju Anak Krakatau dengan menyewa 1 buah perahu dengan 1 nahkoda dan 2 ABK yang khusus mengantarkan kami menuju Anak Krakatau. Mahal? ya tentu saja sebab perahu yang biasanya bermuatan 20-an orang kali ini hanya dimuati kami berdua. Tepat pukul 10:45 perahu yang mengantar kami lepas sandar di Dermaga Canti.

Perjalanan menuju Anak Krakatau dari Dermaga Canti memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan rata-rata kecepatan perahu 20-30 km/jam. Suhu siang itu menurut seorang ABK tidak lebih panas dibanding biasanya, walaupun menurut kami itu sudah cukup terik. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat memukau, gugusan pulau yang kita lalui sangat menarik, sesaat kami berpapasan dengan kapal muatan barang yang datang dari Pulau Sebesi, bukan hanya itu berbagai jenis ikan yang beterbangan diatas air laut pun acap kali kami temui.

Satu setengah jam setelah melewati Pulau Sebesit “kecurigaan” kami mulai timbul ketika kami melihat ada tiga gugusan pulau dimana di sisi kiri dan kanan kanan berbentuk segitiga 90 derajat dengan diujung sana sebuah gunung berdiri tegak. Rupanya kecurigaan kami salah, ketiga gugusan itu adalah Pulau Sertung, Rakata, dan Panjang menurut ABK yang kami minta untuk menjawab kecurigaan kami disela-sela pekerjaannya. Lalu dimana si Anak Krakatau yang kami cari.

he stand besides me

Di sisi kanan perahu kami sebenarnya ada satu pulau gersang tandus dengan pepohonan yang hanya terdapat pohon dibagian bawahnya. Pada bagian atas gunung tandus itu sesekali terlihat kepulan asap. Kami berdua melakukan tebakan ulang terhadap apa yang kami lihat setelah tebakan kami sebelumnya salah. “oh mungkin ini, karena masih aktif”. Tebakan kami terjawab oleh arah perahu yang membelok menuju pantai pasir hitam tanpa dermaga ini. Ya, ternyata gunung hitam tandus ini lah yang kami tuju. tepat pukul 14:05 akhirnya kami berdua menginjakan kaki di Anak Krakatau. Haru campur was-was berada di anak gunung yang lahir tahun 1927 dari Kaldera letusan 1883 silam.

me on Anak Krakatau

Kedatangan kami disambut oleh pa Syarif dan pa Nainggolan, petugas Penjaga Ekosistem Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung. Dengan senang hati kedua bapak ini menjawab semua keingintahuan kami tentang Anak Krakatau dan mengantarkan kami mendaki hingga ketinggian kurang lebih 250 meter DPL ini dari total tinggi Anak Krakatu 400 DPL.

Pa Syarif

Penjelasan pa Syarif tentang anak yang rata-rata setiap tahun menjulang 3 meter dari atas permukaan laut ini membuat kami sangat berkeinginan menuju puncaknya. Walaupun tidak mendaki sampai puncaknya kaena alsan bahaya, tapi pendakian setinggi kurang lebih 250 meter dengan medan curam dan pasir yang panas di siang hari ini sangat menyita tenaga dan emosi kami. Perjalanan terpaksa harus berkali-kali berhenti, bukan karena alasan untuk mengabadikan gambar pada setiap pemberhentian tapi kondisi fisik yang mulai letih jelang 3/4 perjalanan. Makin keatas tentu pamandangan makin indah.

me on Anak Krakatau

Barisan tiga pulau di depan mata berlatarkan air laut yang tenang kala itu ditambah burung-burung elang yang beterbangan membuat letih hilang saat menginjakan kaki pada batas ujung pendakian. Aktivitas foto, mulai foto pemandangan hingga selfie-pun kami lakukan, cuma sayangnya provider yang kami gunakan tidak menjangkau tempat ini dan sharing foto bagi jejaring sosial terpaksa urung.

Satu jam lebih pendakian menuju puncak Anak Krakatau, dan hari mulai sore, hingga akhirmya kami putuskan untuk segera pulang karena kami masih punya satu tujuan lagi di sekitar yaitu Pulau Sebesi.

Disana Rakata

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan akhirnya kami merasakan kehangatan pasir panas Anak Krakatau. Ada yang kami sesali hari itu yaitu ekspektasi kami terlalu besar dengan “tujuan wisata” kami hari itu. Kami tidak menyediakan sedikitpun bekal berupa makanan dalam perjalanan ini, dugaan kami di tempat ini terdapat cukup banyak warung atau tempat kami duduk menikmati minum dan makanan kecil, ouwwww, tidak sama sekali. Jangankan berharap ada warung, melihat tempat seperti ini dan masih ada saudara-saudara kita yang mau tinggal dengan melakukan fungsi kontrol bagi ekosistem wilayah sekitar pun rasanya kami patut bangga dengan prefesi mereka. Salam hormat kami haturkan bagi mereka sebelum kami meninggalkan pantai Anak Krakatau dengan pasir legam ini disertai dengan kondisi fisik yang sangat lelah dan perut keroncongan. (mahmur)

[artikel ini juga dimuat di Majalah Pleasure inroom magazine Hotel Inna Groups]

rayuan Inna 8 Lampung

Berada di hotel bintang lima menikmati hidangan mewah pasti sudah biasa. Kemewahan begitu terasa jika hidangan mewah itu berada [bukan] di hotel bintang lima tentu. ya ini bukan menu belaka yang difoto hanya untuk sesi pemotretan Majalah Pleasure edisi Maret pada hotel bintang dua bernama Inna 8 Lampung.

Berkat olahan chef handal Eka, Hotel Inna 8 Lampung menyajikan berbagai makanan istimewa yang khas dengan tampilan dan tentu rasa yang menggoda dalam kemewahan. lihat saja nasi goreng yang mereka bungkus menggunakan telur ini.

Nasi Goreng Bali Ramanasi goreng diatas mungkin akan menjadi nasi goreng pada umumnya jika disajikan dipiring, tapi berkat lilitan telur dan aksen ikatan daun pandan itu, ia terlihat lebih cantik dari biasanya.

Pernah makan sirloin? pasti setuju jika rasa yang dicicip oleh lidah kita hampir sama. di Inna 8 Lampung sirloin yang mereka olah memiliki bumbu rasa yang meresap hingga ke jantung si penikmat. kita harus rela karena sirloin yang disajikan memiliki kemasan yang sangat unik, membuat kita butuh waktu lebih lama untuk menikmati kemasan itu sebelum menikmati esensi rasa yang hinggap hingga ke ujung lidah kita.

Sirloin Inna 8 Lampung dan masih banyak lagi menu lain yang tersajikan dengan nuansa kemewahan di Hotel Inna 8 LAmpung ini. belum lahi aroma kopi hasil olahan 8 barista perpengalaman yang membuat racikan kopi signature Inna 8 Lampung.

Sudah….., singgahlah ke Lampung dan nikmati semua kemewahan hotel dan makanan yang pandai menggoda untuk minta dicicipi. oh iya, saya masih punya foto saat “mereka” saya kumpulkan dalam satu meja makan.

Kelezatan di Inna 8 Lampung

Gulita di Sebesi

gulita di pulau sebesiPulau Sebesi yang didiami oleh kurang lebih 4 ribu penduduk ini berada kurang lebih satu jam sebelum tiba di Gunung Anak Krakatau dari Dermaga Canti. Sebagian besar mata pencarian penduduk pulau sepanjang 5 kilometer ini adalah bertani, kelapa dan pisang utamanya. Mereka sangat mengandalkan kendaraan perahu diesel untuk lalu lintas angkutan orang dan barang menuju Sumatra melalui Dermaga Canti. Terdapat beberapa penginapan eksotis di tepi pantai tapi…….listrik yang di-support oleh PLTD seluruh pulau ini hanya menyala mulai pukul 6 sore hingga pukul 12 malam, selain dari waktu itu?……. obor mana oboooorrrrrrrrr!!!!

Disini Anak Krakatau Disana Rakata

Disana RakataSisa digdaya letusan Gunung Krakatau tahun 1883 tampak jelas dimuka, Gunung Rakata. Sementara tempat saya berdiri, Anak Krakatau yang “lahir” tahun 1927 itu kini sudah setinggi 400 meter, itu berarti setiap tahun si bayi ini naik 3 meter dari permukaan laut. Sesekali tampak hembusan awan panas di kawah yang dibatasi oleh semacam laguna, tanda pendaki tidak boleh meneruskan perjalan menuju puncak. Berjalan di gunung yang hampir sepenuhnya pasir panas dan belerang ini rasanya seperti jalan di sisa bakaran api unggun, tandus, panas dan kering menyengat. cobalah!