Dari Canti berlabuh ke Anak Krakatau

Mahmur di Canti

Pagi itu, Jumat 28 Februari 2014 mungkin akan menjadi hari yang bersejarah bagi saya dan Welly Kurniawan, GM Inna 8 Lampung. Kami bisa berbangga karena kami termasuk sedikit orang yang pernah menginjakan kaki di Anak Krakatau.

Tepat pukul 07:00 kami beranjak dari Inna 8 Lampung jalan Hiu nomor 1, Bandar Lampung. Perjalanan dari Inna 8 Lampung menuju Bandar Canti di Lampung Selatan cukup mengasyikan, lintasan pegunungan yang berbaris di jalur trans Sumatra lengkap dengan aktivitas masyarakat sepanjang perjalanan membuat perjalan kami terasa dekat hingga akhirnya tiba di Dermaga Canti.

Minimnya informasi yang kami dapatkan sebelum menempuh perjalanan menuju Anak Krakatau membuat kami mengocek kantung cukup dalam. Rupanya perahu yang menuju objek desa wisata Sebesi dan singgah ke Anak Krakatau ini reguler adalah pemberangkatan setiap hari sabtu pukul 8 pagi. Trip dengan tujuan tersebut menginap semalam di Pulau Sebesi dan balik menuju Dermaga Canti hari minggu pukul 2 siang.

Ibarat genderang perang sudah ditabuh dan bendera perang sudah dikibarkan, tekat kami bulat menuju Anak Krakatau, akhirnya kami tetap memutuskan menuju Anak Krakatau dengan menyewa 1 buah perahu dengan 1 nahkoda dan 2 ABK yang khusus mengantarkan kami menuju Anak Krakatau. Mahal? ya tentu saja sebab perahu yang biasanya bermuatan 20-an orang kali ini hanya dimuati kami berdua. Tepat pukul 10:45 perahu yang mengantar kami lepas sandar di Dermaga Canti.

Perjalanan menuju Anak Krakatau dari Dermaga Canti memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan rata-rata kecepatan perahu 20-30 km/jam. Suhu siang itu menurut seorang ABK tidak lebih panas dibanding biasanya, walaupun menurut kami itu sudah cukup terik. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat memukau, gugusan pulau yang kita lalui sangat menarik, sesaat kami berpapasan dengan kapal muatan barang yang datang dari Pulau Sebesi, bukan hanya itu berbagai jenis ikan yang beterbangan diatas air laut pun acap kali kami temui.

Satu setengah jam setelah melewati Pulau Sebesit “kecurigaan” kami mulai timbul ketika kami melihat ada tiga gugusan pulau dimana di sisi kiri dan kanan kanan berbentuk segitiga 90 derajat dengan diujung sana sebuah gunung berdiri tegak. Rupanya kecurigaan kami salah, ketiga gugusan itu adalah Pulau Sertung, Rakata, dan Panjang menurut ABK yang kami minta untuk menjawab kecurigaan kami disela-sela pekerjaannya. Lalu dimana si Anak Krakatau yang kami cari.

he stand besides me

Di sisi kanan perahu kami sebenarnya ada satu pulau gersang tandus dengan pepohonan yang hanya terdapat pohon dibagian bawahnya. Pada bagian atas gunung tandus itu sesekali terlihat kepulan asap. Kami berdua melakukan tebakan ulang terhadap apa yang kami lihat setelah tebakan kami sebelumnya salah. “oh mungkin ini, karena masih aktif”. Tebakan kami terjawab oleh arah perahu yang membelok menuju pantai pasir hitam tanpa dermaga ini. Ya, ternyata gunung hitam tandus ini lah yang kami tuju. tepat pukul 14:05 akhirnya kami berdua menginjakan kaki di Anak Krakatau. Haru campur was-was berada di anak gunung yang lahir tahun 1927 dari Kaldera letusan 1883 silam.

me on Anak Krakatau

Kedatangan kami disambut oleh pa Syarif dan pa Nainggolan, petugas Penjaga Ekosistem Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung. Dengan senang hati kedua bapak ini menjawab semua keingintahuan kami tentang Anak Krakatau dan mengantarkan kami mendaki hingga ketinggian kurang lebih 250 meter DPL ini dari total tinggi Anak Krakatu 400 DPL.

Pa Syarif

Penjelasan pa Syarif tentang anak yang rata-rata setiap tahun menjulang 3 meter dari atas permukaan laut ini membuat kami sangat berkeinginan menuju puncaknya. Walaupun tidak mendaki sampai puncaknya kaena alsan bahaya, tapi pendakian setinggi kurang lebih 250 meter dengan medan curam dan pasir yang panas di siang hari ini sangat menyita tenaga dan emosi kami. Perjalanan terpaksa harus berkali-kali berhenti, bukan karena alasan untuk mengabadikan gambar pada setiap pemberhentian tapi kondisi fisik yang mulai letih jelang 3/4 perjalanan. Makin keatas tentu pamandangan makin indah.

me on Anak Krakatau

Barisan tiga pulau di depan mata berlatarkan air laut yang tenang kala itu ditambah burung-burung elang yang beterbangan membuat letih hilang saat menginjakan kaki pada batas ujung pendakian. Aktivitas foto, mulai foto pemandangan hingga selfie-pun kami lakukan, cuma sayangnya provider yang kami gunakan tidak menjangkau tempat ini dan sharing foto bagi jejaring sosial terpaksa urung.

Satu jam lebih pendakian menuju puncak Anak Krakatau, dan hari mulai sore, hingga akhirmya kami putuskan untuk segera pulang karena kami masih punya satu tujuan lagi di sekitar yaitu Pulau Sebesi.

Disana Rakata

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan akhirnya kami merasakan kehangatan pasir panas Anak Krakatau. Ada yang kami sesali hari itu yaitu ekspektasi kami terlalu besar dengan “tujuan wisata” kami hari itu. Kami tidak menyediakan sedikitpun bekal berupa makanan dalam perjalanan ini, dugaan kami di tempat ini terdapat cukup banyak warung atau tempat kami duduk menikmati minum dan makanan kecil, ouwwww, tidak sama sekali. Jangankan berharap ada warung, melihat tempat seperti ini dan masih ada saudara-saudara kita yang mau tinggal dengan melakukan fungsi kontrol bagi ekosistem wilayah sekitar pun rasanya kami patut bangga dengan prefesi mereka. Salam hormat kami haturkan bagi mereka sebelum kami meninggalkan pantai Anak Krakatau dengan pasir legam ini disertai dengan kondisi fisik yang sangat lelah dan perut keroncongan. (mahmur)

[artikel ini juga dimuat di Majalah Pleasure inroom magazine Hotel Inna Groups]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s