Bersama “Memburu” Lumba-Lumba di Kiluan

mahmur on kiluan

Tersembunyi di ujung Pulau Sumatera, sekitar 80 kilometer dari Kota Bandar Lampung, Teluk Kiluan yang dini hari itu kami datangi belum berkilau. Perjalanan dari Hotel Inna 8 Lampung yang kami mulai sekitar pukul 01:00 dini hari memakan waktu tidak terlalu lama.Ketakutan kami tentang medan menuju Teluk Kiluan yang diperkirakan akan sangat lama dari Inna 8 Lampung, ternyata jauh lebih cepat dari dugaan kami. Maka tiba lah kami di pantai yang sebagian besar penduduknya masih terlelap tidur dengan angin pantai dan dingin yang menyelimuti.Tidak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan di pagi buta itu selain coba mengambil beberapa foto perahu yang bersandar.

Setelah beberapa lama menunggu akhirnya kami tersohok oleh aktivitas sekumpulan nelayan. Rupanya niat kami untuk sekedar melihat kawanan Lumba-lumba diisi juga oleh aktivitas nelayan yang mengumpulkan Ubur-ubur di sekitar Teluk Kiluan.

Tentu ini bukan aktivitas yang biasa dipertontonkan, sebab kegiatan “panen” Ubur-ubur ini hanya setahun dua kali atau bahkan sekali di sekitar laut ini. Para nelayan dadakan yang sehari-harinya adalah petani ini menangguk untung besar saat panen Ubur-ubur. Rupanya perusahaan dari Korea adalah pembeli utama hasil tangkapan Ubur-ubur ini.

Selfie doloooo

Hari mulai siang ketika rombongan kami yang terdiri dari saya, Senior Marketing Manager Inna 8 Lampung, Arya Yudhawinata dan seorang kawan yang sengaja menyusul dari Jakarta, Dwi Wijayanto harus menyiapkan segala sesuatunya untuk melaut karena kapal yang kami pesan sudah mulai diisi bahan bakar. Waktu menunjukan pukul 07:15 saat perahu yang hanya berkapasitas 4 orang yang kami muati mulai menjauh dari pantai.

Perjalanan menuju ‘arena’ berkumpulnya Lumba-lumba ini memakan waktu cukup lama, kurang lebih satu jam dan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Syukurlah hari itu ombak tidak terlalu besar walaupun langit terus mendung. Berada di tengah laut dengan perahu kecil bermesin satu ini sungguh merupakan pengalaman yang tak kan terlupakan, apalagi sebelum berangkat si Bapak ‘Nahkoda’ ini berkali-kali bercerita bahwa kita akan melalui pulau yang berpenghuni Hiu walaupun cerita itu ditutup dengan kalimat hiburan yang cukup menenangkan yaitu tidak ada penduduk disini korban ikan Hiu itu. Sontak kami amini kalimat ini sambil berdoa terus dalam hati.

Sudah dua jam lebih perjalanan kami namun belum menemukan ciri-ciri adanya Lumba-lumba. Perahu kami tidak sendirian, ada dua rombongan lain dari TV Swasta Nasional dan satu kapal nelayan yang mencari ikan sekitar kami ‘memburu’ Lumba-lumba. Waktu sudah menunjukan pukul 09:45 ketika kami hampir putus asa dengan kemunculan Lumba-lumba. Menurut Bapak Nahkoda kami ada dua isyarat alam sebelum kemunculan Lumba-lumba ini. Pertama matahari bersinar cukup terik, cukup beralasan karena mungkin para Lumba-lumba ini butuh menghangatkan tubuh dibawah terik matahari itu. Seperti saya katakan diatas tadi sejak awal kami berangkat cuaca mendung di sekitar arena ini. Kedua, terdapat sekumpulan burung-burung laut yang terbang rendah. Burung-burung ini memakan ikan sisa makanan yang tidak habis dimakan oleh Lumba-lumba, pun isyarat alam kedua ini tidak nampak hingga pukul 10:15.

 

Di tengah jelang keputusasaan kami, perlahan-lahan Matahari mulai menyengat terik. Hari makin panas namun kami makin senang karena satu sudah dari dua isyarat tadi mulai ada. Belum lagi muncul isyarat kedua Bapak Nahkoda berteriak “sebelah kiri! sebelah kiri!!!” Dua buah Lumba-lumba dewasa dengan tubuh gemuk diiringi suara mereka yang khas ada persis di sisi kiri kapal kami. Kamera yang sejak 3 jam lalu kami siapkan pun mulai bekerja. Terharu sekali bisa melihat Lumba-lumba dari jarak paling dekat di tengah habitat mereka. Alhamdulillah akhirnya kami bisa bersama mereka.

behind me

“Perburuan” kami makin bersemangat, setelah kemunculan pertama tadi, mereka seolah mengoda kita dengan lompatan-lompatan kecil baik di depan-samping atau belakang kami sehingga kita harus sigap melihat ke suluruh penjuru. Tiap kali diantara perahu yang melihat sekawanan Lumba-lumba berteriak kepada parahu lainnya tanda agar kami semua jangan sampai ketinggalan moment tarian mereka. Kebahagiaan kami semakin lengkap dengan munculnya isyarat alam kedua yaitu sekumpulan burung laut yang terbang rendah diatas laut. Dengan sigap Bapak nahkoda ini mengejar sekumpulan itu. Tepat sekali! Persis dibawah burung-burung yang beterbangan tak henti-henti muncul sekawanan Lumba-lumba. Jumlah lumba-lumba ini sangat menakjubkan banyaknya, karena yang melewati Teluk Kiluan ini diperkirakan mencapai ribuan, salah satu jumlah terbesar migrasi lumba-lumba di dunia.

Walaupun Lumba-lumba yang muncul hari itu tidak seperti biasanya, menurut Bapak Nahkoda, namun kami cukup beruntung karena, lanjut si Bapak Nahkoda terkadang ada saja satu hari dia mengantar tamu dan tidak satu pun Lumba-lumba ini muncul ke permukaan.

cheeerrsssss

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s