Ingkar Janji sang “Musim Panas”

Image

Masih dalam ingatan ketika sekolah dulu saat guru menerangkan 2 musim yang berlaku di negara ini. Musin hujan dan musin panas. Hanya 2 musim? Ya memang hanya dua musim. Berbeda dengan negara-negara yang beriklim sub tropis yang memiliki musim lebih banyak dari kita. Lalu, sang guru meneruskan pelajaran tentang musim tersebut dengan “peraturan” waktu yang seolah ditetapkan bak peraturan pemerintah bahwa kedua musim yang mengunjungi Indonesia itu, untuk musin panas datangnya antara bulan Januari sampai bulan Juni sementara jatah bagi musim hujan adalah antara bulan Juli hingga bulan yang berakhiran ber, mengutip clue yang diberikan sang guru untuk mengatakan bahwa musin hujan (seharusnya) berakhir bulan Desember.

Tulisan ringan ini saya tulis jelang April dan saya masih merasakan bau-bau sedap tanah yang tersiram oleh hujan. Kemana pelajaran sekolah tentang “pembagian” jatah musim itu. Ada apa dengan semua ini. Tidak perlu bertanya pada rumput yang bergoyang untuk sedikit tahu tentang hal yang terjadi diluar pelajaran kita ini.

Pemanasan Global yang berakibat pada perubahan iklim seluruh lapisan bumi adalah penyebab ketidakteraturan waktu datangnya musim. Pembalakan hutan secara besar-besaran, penggunaan zat Chlorofloro Carbon secara berlebihan dan meningkatnya industri pengirim asap yang menembus dan merusak langit kita juga disalahkan oleh ilmuwan yang fokus terhadap keseimbangan iklim bumi sebagai faktor perusak semua ini.

Lembaga internasional pun segera diberdaya menjalankan fungsi kontrol negara-negara di dunia untuk menjaga paru-paru bumi agar tetap terus bekerja memompa udara segar bagi kehidupan. Indonesia tidak luput dari harapan mereka untuk menjaga paru-paru dunia terutama yang ada di pulau Kalimantan. United Nations Framework Convention on Climate Change atau UNFCCC ditugasi menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir hingga taraf yang tidak membahayakan kehidupan organisme dan memungkinkan terjadinya adaptasi ekosistem, sehingga dapat menjamin ketersediaan pangan dan pembangunan berkelanjutan. Dampak kekhawatiran itu ada pada ekosistem yang berpengaruh langsung terhadap sektor pariwisata secara kuantitatif dan kualitatif dampak ini jelas berpengaruh.

Meningginya suhu permukaan bumi mengakibatkan cairnya es di kedua kutub bumi, ini bukan tidak berpengaruh bagi kita. Menoleh data Departemen Kelautan dan Perikanan RI, antara tahun 2005 sampai tahun 2007 negara kita kehilangan 24 pulau akibat meningginya permukaan laut. Belum lagi meningginya suhu ini berakibat pada perubahan warna pada terumbu karang yang ada di beberapa destinasi wisata, seperti Wakatobe, Derawan, Raja Ampat dan beberapa tempat lain, dan akhir dari perubahan warna ini adalah matinya komunitas terumbu karang pada wilayah itu.

Selamat menikmati datangnya April, dan mulai sekarang lupakan pelajaran tentang musim yang pernah kita terima di bangku sekolah dulu.

[tulisan saya ini juga dimuat di Majalah Tourism edisi April]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s