Sebaiknya Berhati-hati dengan Penyakit Yellow Fever

Image

Inilah penyakit yang pernah mewabah dan membunuh secara masal tentara Amerika di Cuba pada tahun 1900. Kejadian ini bukan satu-satunya yang pernah terjadi di belahan bumi ini. Pada tahun 1648, di Yucatán, Mexico virus ini pernah mewabah dan menjadi momok dunia ketika itu. Pasca kasus yang menimpa tentara Amerika di Cuba tahun 1900 itu pun berlanjut di New Orleans dan kota-kota pelabuhan Amerika Selatan, sekurang-kurangnya terjadi 5.000 kasus yang menyebabkan banyak kematian. “

Namanya tentu tidak semanis apa yang diakibatkannya. Penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh virus yang disebut Flavivirus (dulu kelompok arbovirus B). Virus ini merupakan anggota dari famili Togaviridae, yang merupakan virus RNA berutas tunggal dalam bentuk ikosahedral dan terbungkus di dalam sampul lemak. Virion berdiameter 20 nm sampai 60 nm, berkembangbiak di dalam sitoplasma sel dan menjadi dewasa dengan membentuk kuncup dari membran sitoplasma. Pada kasus-kasus yang parah, infeksi virus menyebabkan demam yang tinggi, perdarahan kedalam kulit, dan necrosis (kematian) dari sel-sel dalam ginjal dan hati. Kerusakan yang dilakukan pada hati dari virus berakibat pada jaundice yang parah yang menguningkan kulit.

Infeksi yang disebabkan oleh Flavivirus sangat khas, yaitu mempunyai tingkat keparahan sindrom klinis yang beragam. Mulai dari infeksi yang tidak nampak jelas, demam ringan, sampai dengan serangan yang mendadak, parah, dan mematikan. Jadi pada manusia penyakit ini berkisar dari reaksi demam yang hampir tidak terlihat sampai keadaan yang parah. Masa inkubasi demam kuning biasanya berkisar 3 sampai 6 hari, tapi dapat juga lebih lama.

Penyakit yang berkembang sempurna terdiri dari tiga periode klinis yaitu infeksi (viremia, pusing, sakit punggung, sakit otot, demam, mual, dan muntah), remisi (gejala infeksi surut), dan intoksikasi (suhu mulai naik lagi, pendarahan di usus yang ditandai dengan muntahan berwarna hitam, albuminuria, dan penyakit kuning akibat dari kerusakan hati). Pada hari kedelapan, orang yang terinfeksi virus ini akan meninggal atau sebaliknya akan mulai sembuh. Laju kematiannya kira-kira 5 persen dari keseluruhan kasus. Sembuh dari penyakit ini memberikan kekebalan seumur hidup.

Manusia dan monyet adalah yang paling utama terjangkiti demam kuning. Virus ini dibawa dari satu hewan ke hewan yang lain (penularan horizontal) melalui gigitan nyamuk (vektor). Nyamuk ini dapat juga menyebarkan virus melalui telur (penularan vertikal). Telur-telur ini tahan kekeringan dan mengalami masa laten saat keadaan kering. Telur-telur ini akan menetas saat musim hujan.

Beberapa spesies nyamuk Aedes dan Haemogogus adalah pembawa virus demam kuning. Nyamuk-nyamuk ini ada yang berjenis domestik (berkembang biak di sekitar pemukiman), liar (berkembang biak di hutan), atau semi domestik (campuran). Tempat-tempat yang merupakan habitat nyamuk-nyamuk tersebut sangat potensial terkena demam kuning. Ada tiga jenis siklus penularan demam kuning pada manusia, yaitusylvatic, intermediate, dan urban. Semua siklus tersebut terdapat di Afrika, sementara di Amerika Selatan hanya terdapat siklus sylvaticdan urban.

• Siklus sylvatic di hutan hujan, demam kuning muncul dari monyet yang terjangkiti lewat nyamuk liar. Sementara itu, ada nyamuk liar lain yang menggigit monyet itu sehingga nyamuk tersebut tertular virus. Lalu nyamuk tadi menggigit manusia yang masuk ke hutan. Sebagian besar siklus sylvatic menyerang para pekerja hutan, seperti para penebang pohon.

• Siklus intermediate Di padang sabana Afrika, epidemik dalam skala kecil muncul. Banyak desa yang areanya terpisah terjangkiti virus secara bersamaan, tetapi hanya sedikit orang yang meninggal. Nyamuk semi domestik menyerang baik habitat monyet atau manusia. Area ini disebut zone of emergence, di mana terjadi peningkatan interaksi antara manusia dan nyamuk yang berujung pada penyakit. Siklus ini adalah yang paling sering muncul selama beberapa dekade terakhir di Afrika.

• Siklus urban Epidemik berskala besar dapat muncul ketika para pendatang membawa virus ini ke area padat penduduk. Nyamuk domestik membawa virus dari satu orang ke orang yang lain. Dalam siklus ini monyet tidak terlibat sama sekali. Siklus ini menyebar hingga mencakup area yang sangat luas.
Virus demam kuning tersebar di negara-negara Afrika dan Amerika Selatan. Namun, pernah juga ditemukan di Eropa, Kepulauan Karibia, Amerika Utara, dan Amerika Tengah. Walaupun pada saat ini virus demam kuning tidak muncul lagi di wilayah tersebut, para penduduknya harus tetap waspada mengingat wilayah mereka beresiko menjadi epidemik demam kuning. Terdapat 33 negara di Afrika dengan jumlah populasi mencapai 508 juta jiwa beresiko terkena demam kuning.

Negara-negara ini berada pada 15 derajat Lintang Utara sampai 10 derajat Lintang Selatan pada garis ekuator. Di benua Amerika, endemik demam kuning terdapat di sembilan negara Amerika Selatan dan di beberapa pulau di Kepulauan Karibia. Bolivia, Brazil, Kolombia, Ekuador, dan Peru tercatat sebagai negara yang memiliki resiko terbesar demam kuning.

Walaupun benua Asia tidak pernah tercatat memiliki sejarah demam kuning, wilayah ini tetap harus waspada karena di wilayah Asia terdapat beberapa spesies monyet dan nyamuk yang memungkinkan penyebaran demam kuning.
Hingga saat ini belum ada pengobatan yang spesifik untuk demam kuning. Demam dan dehidrasi dapat diobati dengan obat tertentu seperti paracetamol. Penderita juga harus diberi antibiotik.

Vaksinasi adalah yang paling penting dalam pencegahan demam kuning. Dalam populasi dimana tingkat pelaksanaan vaksinasinya rendah, pengawasan secara ketat adalah hal yang sangat penting dan mendesak untuk pendeteksian persebaran penyakit secara akurat dan cepat. Kontrol nyamuk dapat dilakukan untuk mencegah penularan virus sampai vaksinasi terlihat efeknya

Vaksin demam kuning sangat efektif dan aman. Efek imunitas muncul dalam seminggu pada 95% orang yang divaksin. Satu dosis vaksin dapat memberikan perlindungan untuk sepuluh tahun, bahkan seumur hidup. Lebih dari 300 juta jiwa telah divaksin dan tidak ditemukan efek samping, meski pernah diberitakan bahwa vaksin demam kuning menimbulkan kematian pada beberapa warga di Brazil. Sampai sekarang masih dilakukan penelitian tentang kematian itu. Meskipun begitu, kemungkinan kematian akibat demam kuning lebih besar dari pada kemungkinan kematian akibat vaksin demam kuning, sehingga siapapun yang berpotensi terkena demam kuning harus diimunisasi. Tetapi, jika seseorang memiliki potensi yang kecil untuk terkena demam kuning, misalnya dia tidak pernah mengunjungi area endemik, maka dia tidak perlu diberi vaksin.

WHO menganjurkan untuk dilaksanakan vaksinasi secara rutin sejak dini. Vaksin demam kuning dapat diberikan saat umur 9 bulan, sama seperti waktu pemberian vaksin campak. Untuk mencegah suatu negara menjadi endemik demam kuning, sedikitnya 80% dari populasi harus memiliki imunitas untuk demam kuning. Ini hanya dapat diwujudkan dengan jalannya program imunisasi sejak dini maupun imunisasi pada orang dewasa di daerah endemik. Imunisasi yang terakhir inilah yang dapat memastikan bahwa pencegahan demam kuning sudah mencakup seluruh warga yang rentan terkena demam kuning dan mencegah persebaran penyakit. Sampai saat ini hanya beberapa negara Afrika yang dapat menjalankannya.

Vaksinasi juga diajurkan bagi pelancong di tempat-tempat beresiko tinggi terkena demam kuning. Beberapa negara telah mengharuskan adanya sertifikat vaksinasi, terutama bagi pelancong yang datang ke Asia dari Afrika atau Amerika Selatan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktoral Jenderal Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pernah mengeluarkan Rekomendasi Vaksinasi Yellow Fever bagi orang yang Berkunjung ke Brazil melalui surat bernomor PM.01.04/D/II.4/253/2008 tertanggal 13 Maret 2008. Rekomendasi ini dikeluarkan setelah Kementrian Kesehatan RI menerima surat resmi dari Kedutaan RI di Brazil yang menyebutkan bahwa telah tercatat 24 kasus Yellow Fever dengan korban 3 orang. Pemberian vaksinasi Yellow Fever dianjurkan bagi semua penduduk dan bagi orang yang akan berkunjung ke Brazil. Karena program vaksinasi di beberapa negara masih belum optimal, deteksi dini pada kasus demam kuning dan penindakan secara cepat dan tepat menjadi sangat penting untuk mengontrol penyebaran penyakit. Sistem pengawasan ini harus cukup sensitif untuk mendeteksi dan menginvestigasi para suspect (orang yang diduga) demam kuning. Kontrol ini bekerja berdasarkan standar definisisuspect demam kuning, yaitu “demam akut yang diikuti penyakit kuning dalam masa dua minggu muculnya gejala demam kuning atau dengan adanya pendarahan atau kematian dalam masa tiga minggu setelah munculnya gejala demam kuning”. Selanjutnya kasus suspectini akan diteruskan pada pihak yang berwenang di bidang kesehatan.

Image

Lalu apa yang bisa dilakukan? Yang patut diperhatikan tentu jika Anda berniat melakukan perjalanan ke negara-negara yang disebut diatas, apalagi lebih dari enam bulan, sebaiknya Anda sudah divaksinasi minimal 10 (sepuluh) hari sebelum melakukan perjalanan namun bagi Anda yang tidak berniat melakukan bepergian ke negara-negara itu namun tetap ingin melakukan sesuatu agar tidak berdampak pada demam ini, melenyapkan tempat-tempat yang berpotensi sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk sangatlah penting dan efektif untuk menghambat pergerakan nyamuk yang menyebarkan penyakit ini.

Mari berlindung kepada Tuhan agar dijauhkan dari demam ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s