Mengenang Kedigdayaan Krakatau

_MG_3299

Siapa pun pasti pernah mendengar kedigdayaan orang tua gunung yang kini masih setinggi 400 meter diatas permukaan laut itu. Pada masa purbakala, konon gunung ini lah yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Sumatra. Kekuatan daya letus pada masa purba itu memang tidak banyak catatan, selain korban yang ditimbulkan tidak terlalu banyak, (mungkin) karena belum banyak penduduk bumi pada masa itu.

Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyebutkan “Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara (yang dimaksud Batuwara adalah Krakatau). Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula…. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera. “

Walaupun cerita ini ditanggapi kurang serius oleh pa Syarif, penjaga Cagar Alam Krakatau karena tidak ada catatan ilmiah ketika itu, namun pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara benar adanya, tinggi Krakatau Purba saat itu mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.

Image
Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan (the dark age) di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Kejadian yang berlangsung lama ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi ketika itu.

Letusan Gunung Krakatau purba juga turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa dari dalam perut Krakatau mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter dan menurunkan temperatur bumi 5 hingga 10 derajat selama 10 tahun.

Letusan Krakatau kedua pasca letusan purba yang tercatat dalam banyak literatur adalah letusan tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan Krakatau terdengar hingga Alice Springs, di Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika sejauh 4.653 kilometer. Daya ledak letusan kedua ini diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20 itu adalah gunung berapi yang paling besar dalam sejarah manusia moderen. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah manusia.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Berbeda dengan saat letusan purba, pada letusan yang kedua kali ini, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat sehingga cukup banyak catatan yang tersebar dari berbagai belahan dunia mengenai letusan Krakatau.

Image

Berdiri diantara belerang hangat dengan hamparan pasir panas Anak Krakatau sungguh merupakan pengalaman yang menakjubkan, dibutuhkan niat yang kuat dan keberanian menghampiri Anak Krakatau. Jika Anda memiliki dua syarat itu, datang dan nikmatilah bukti sejarah peradaban manusia yang ada di Indonesia ini.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s