The Reading Room, bukan sekedar the coffee room

Sering melintas tapi ngga pernah mampir, the Reading Room Kemang

Petang sehabis kongkow sama istri di la codefin, Kemang ngga sengaja kepengen melintas jalan Kemang Timur, eh iya baru inget kalau disitu ada the Reading Room. Sempat terlewat tapi akhirnya putar balik di depan demi bisa berada dan merasakan atmosfir si the Reading Room itu.

depan

Suasana nyaman dengan area parkir sekitar 8 delapan mobil membuat sore itu dengan mudah parkir dan langsung menuju pintu masuk the Reading Room. Selagi lihat-lihat buku-buku yang jumlahnya sangat banyak, dengan inisiatif sendiri istri coba bertanya ke mba yang duduk di depan computer. Tadinya gua kira dia adalah operator komputer katalog buku, eh ternyata bukan. Dia adalah petugas yang merangkap kasir sebab di tempat itu juga disediakan berbagai menu makanan dan minuman.

Seluruh buku di area yang buka mulai mulai pukul 10 pagi hingga berganti hari ini boleh dibaca tanpa charge apa pun kecuali diharapkan ada kesadaran untuk membeli makanan dan minuman yang disediakan oleh si empunya tempat (mungkin) dengan harga yang relatif ngga mahal jika dibanding Starbucks misalnya. Jangan dirusak, jangan dibawa pulang, dan sebaiknya jangan difoto untuk menjaga karya seni ini terhindar dari plagiat, kira-kira begitu informasi yang didapat istri dari obrolan dengan wanita paruh baya yang sore itu menjalani fungsi sebagai waiters, kasir juga kadang-kadang pengawas tempat nyaman itu.

Selagi kami terus mengulik buku-buku yang ada di ruang baca lantai 1, tiba-tiba si mba multifungsi tadi terlibat pembicaraan dengan tiga orang yang terdapat di meja seberang tempat kami membaca. Sampai gua coba dekati TKP, akhirnya gua tahu bahwa kedua pemuda dan satu orang wanita yang berusaha tampil cantik itu sedang mengambil momen berlatar belakang buku-buku di rak baca itu. Tentu dengan kamera DSLR di tangan kedua pemuda itu.

Point pertama yang gua lihat minus dari kelakuan ketiga menusia itu. Bayangkan jika di tempat (private) seperti ini tuh orang seenaknya ajah mengambil gambar untuk keperluan komersial mungkin? pribadi mungkin? Tapi tetap saja mereka udah ngga sopan bertingkah laku di sebuah wilayah yang diperuntukan bagi kecerdasan otak ini. Gua sungguh mengutuk perbuatan anak-anak muda kampret yang ngga punya hati nurani mengganggu orang-orang yang tepat di tempat yang tepat untuk membaca buku yang telah disediakan si empunya. Syahdan, syukurnya mba multitugas itu segera melerai aktivitas bodoh mereka di tempat itu.

Kejadian pada point pertama tadi tentu mudah untuk diretas kerena tampak aktivitas mengganggunya, lalu bagaimana jika “kesalahan” fungsi terjadi di tempat ini. Tentu bukan salah si empunya yang sudah baik hati menyediakan tempat yang nyaman dan sejuk bagi kecerdasan bangsa jika disalahgunakan oleh orang-orang bego yang menurut gua ini bukan oknum tapi emang tolol mereka.

Bayangkan saat gua naik ke lantai dua, gua dapati 5 atau enam meja diatas dari total mungkin sekitar 15-an meja itu terisi oleh orang-rang yang sedang browsing internet pakai laptop yang mereka bawa dari rumah. Hey Mennnn!!!! Elu ngapain pergi ke tempat bacaan yang menyediakan jutaan judul buku lalu kalian browsing (sebagaian gua lihat scroll status Facebook), terus apa bedanya kalian ada di surga buku ini dengan ada di kedai kopi tempat kalian see and to be seen!!! Goblok kaliannn. Yang lebih parah lagi gua ngelihat dua meja yang lebih pojok sedang asik bercengkrama dengan pacarnya mungkin, ketawa-ketawa tanpa menghiraukan orang yang sedang sibuk browsing #eh. Tuh kan, kenapa gua jadi mikirin yang browsing yaa, karena emang sore itu ngga ada gua lihat buku dari rak-rak yang ada di meja para tamu mulia the Reading Room itu. Dua kejadian diatas, cukup memilukan buat gua, sayang ya guys!

orang bego1

Ecologi of Java and Bali, terbitan awal tahun 1386 yang gua buka secara acak halaman, setebal jengkal tangan orang dewasa ini rasanya mau gua pakai juga untuk mengemplang kepala para si dungu yang ngga bisa menempatkan diri itu, ah tapi jangan deh sayang bukunya. Buku Indonesian Destinies yang cover depannya R.A. Kartini dengan lipstick dan capslock yang bercerita mulai masa penjajahan sampai presiden Suharto semoga di lain hari menjadi salah satu daya tarik orang-orang cerdas yang sengaja datang ke surga buku di Kemang Timur Raya 57 ini untuk membuka wawasan mereka.

Akhirulkalam, sekalipun gua bukan penggila bacaan hard copy, tapi rasanya tenggelam dalam lautan buku-buku dengan aneka ragam warna dan ukuran sungguh membuat diri ini rasanya selevel menuju kepintaran. Ayo coba kunjungi the Reading Room Kemang, coba rasakan ambience-nya dengan tidak berbelok dari tujuan si empunya untuk membagi bacaan hard copy kepada khalayak.

Advertisements

One thought on “The Reading Room, bukan sekedar the coffee room

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s