4 Menarik Sebelum Samosir

Sebenarnya cuma butuh waktu kurang dari 15 menit untuk mencapai Samosir dari dermaga Inna Parapat Hotel, tapi bagi anda yang punya waktu banyak rasanya kurang afdol jika menikmati wisata Danau Toba tidak mengelilingi danau ini dan melintas lewat satu-satunya jembatan penghubung di Tano Ponggol.

Tentu bukan cuma itu, sebelum tiba di Samosir Anda bakal melewati setidaknya 4 tempat keren. silakan dinikmati

Rumah Singgah Soekarno, Parapat

rumah singgah soekarno

Hanya lima menit waktu yang dibutuhkan dari Inna Parapat Hotel ke Rumah Pengasingan Soekarno ini. Destinasi ini menjadi tujuan pertama sebelum mencicipi destinasi lain. Jadi Anda akan tiba di tempat ini pagi sekali. Penjaga Rumah ini selalu siap menerima tamu yang mengetuk untuk menemani berkeliling rumah. Tidak ada retribusi apa pun untuk masuk ke tempat ini, hanya melihat-lihat bangunan dan interior bersejarah yang ini.

Bangunan kuno berlantai dua ini masih kokoh dan elegan berdiri menantang zaman di atas area seluas kurang lebih dua hektar. Rumah berarsitektur neoklasik khas kolonial Belanda ini terletak di ketinggian di ujung semenanjung di atas tebing yang curam. Rumah ini menghadiahkan sebuah pemandangan indah Danau Toba. Dibangun pada tahun 1927, dulunya digunakan sebagai vila para mandor kebun dari Kerajaan Belanda. Kemudian, setelah masa Agresi Militer Belanda II, Bung Karno bersama KH. Agoes Salim dan Sjahrir diasingkan ke rumah ini. Kejadian ini berlangsung sekitar bulan Desember 1948 hingga Februari 1949.

Di rumah tersebut terdapat seorang penjaga yang akan mengantarkan Anda berkeliling rumah bersejarah tersebut. Rumah berlantai dua tersebut terdiri dari tiga kamar tidur di lantai satu dan satu kamar tidur di lantai dua. Soekarno, Agoes Salim dan Sjahrir menempati dua kamar yang berada di lantai satu.

Jika diperhatikan secara saksama, dinding interior rumah ini didominasi oleh kayu jati Sumatera. Dinding jati tersebut dihiasi oleh foto-foto Soekarno, Sjahrir, dan Agoes Salim semasa pengasingan mereka di rumah tersebut. Berkeliling di rumah ini, Anda bisa melihat interior yang masih tertata rapi. Beberapa furnitur di rumah ini sudah banyak diganti. Mungkin dikarenakan usianya yang sudah cukup tua. Lantai teraso di rumah ini menambah kesan klasik yang dihadirkan melalui desain interiornya.

Cobalah naik ke lantai atas. Di sana ada sebuah balkon yang menampilkan panorama keindahan Danau Toba. Ruangan terbuka tempat Anda bisa menikmati pemandangan Danau Toba sembari menghirup kesejukan udara di kota asri Parapat.

Setiap sudut dari rumah ini menyimpan kisah yang mungkin bisa bercerita lewat potret-potret yang Anda coba abadikan agar teman-teman Anda semakin banyak yang tahu bahwa kecamatan Parapat yang kecil itu juga menyimpan sejarah Bangsa ini.

Ayo kita lanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Makam Sisingamangaraja XII, Balige

Setelah melalui jalan mulus perbukitan yang indah juga pemandangan makam orang batak diatas bukit dan persawahan, destinasi kita berikutnya sebelum tiba di Samosir adalah tempat bersejarah yang juga merupakan lambang keberanian Orang Batak dalam memberangus kolonial di negeri ini, Makam Sisingamangaraja XII.

Sisingamangaraja XII, bernama kecil Patuan Bosar, yang kemudian digelari dengan Ompu Pulo Batu juga dikenal dengan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu. Beliau naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon, selain itu ia juga disebut juga sebagai raja imam.

Penobatan Sisingamangaraja XII sebagai maharaja di negeri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka) Belanda dalam mengamankan modal asing yang beroperasi di Hindia-Belanda, dan yang tidak mau menandatangani Korte Verklaring (perjanjian pendek) di Sumatera terutama Kesultanan Aceh dan Toba, di mana kerajaan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Di sisi lain Belanda sendiri berusaha untuk menanamkan monopolinya atas kerajaan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan Perang Tapanuli yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Menurut artikel Wikipedia, Sisingamangaraja adalah keturunan seorang pejabat yang ditunjuk oleh raja Pagaruyung yang sangat berkuasa ketika itu, yang datang berkeliling Sumatera Utara untuk menempatkan pejabat-pejabatnya. Dalam sepucuk surat kepada Marsden bertahun 1820, Raffles menulis bahwa para pemimpin Batak menjelaskan kepadanya mengenai Sisingamangaraja yang merupakan keturunan Minangkabau dan bahwa di Silindung terdapat sebuah arca batu berbentuk manusia sangat kuno yang diduga dibawa dari Pagaruyung. Sampai awal abad ke-20, Sisingamangaraja masih mengirimkan upeti secara teratur kepada pemimpin Minangkabau melalui perantaraan Tuanku Barus yang bertugas menyampaikannya kepada pemimpin Pagaruyung.

Raja Sisingamangaraja XII adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia Sumatera Utara yang dengan semangat memperjuangkan dan melawan Belanda di Sumatera Utara khususnya di daerah Tapanuli. Dengan penuh keberanian dan semangat yang tinggi perjuangan Raja Sisingamangaraja mendapat dukungan dari masyarakat Tapanuli, sehingga membuat Belanda merasa kewalahan. Semangat yang begitu tinggi menyebabkan Raja Sisingamangaraja XII beserta keluarganya dikejar-kejar, bahkan benteng perjuangan (istana) yang berada di Bakkara dihancurkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1883. Walaupun benteng pertahanan di Bakkara telah dihancurkan, namun tidak menyurutkan perjuangan Raja Sisingamangaraja XII beserta keluarga dan pengikut-pengikutnya sampai pada titik darah penghabisan, yang pada akhirnya pada tanggal 17 Juni 1907 Raja Sisingamangaraja XII yang bergelar Patuan Bosar Ompu Pulau Batu tewas tertembak dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di pinggir bukit Aek Sibulbulen, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang. Sebuah peluru menembus dadanya, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel. Menjelang nafas terakhir dia tetap berucap, Ahuu Sisingamangaraja. Turut gugur waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sementara keluarganya yang tersisa ditawan di Tarutung. Sisingamangaraja XII sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung, setelah sebelumnya mayatnya diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat Toba. Makamnya kemudian dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige sejak 14 Juni 1953, yang dibangun oleh Pemerintah, Masyarakat dan keluarga.

Pada makam Sisingamangaraja XII kita bisa menyaksikan makam putra dan putri Sisingamangaraja XII. Sayangnya ketika saya ke makam ini tidak ada petugas yang bisa menjelaskan beberapa hal terkait makam ini termasuk satu bangunan rumah yang terletak persis berhadapan dengan Gedung Museum dan Perpustakaan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII ini.

Menara Tele, Humbang Hasundutan

tele

Setelah menyetir beberapa saat dari Adian Nalombok, di sisi kiri jalan sebuah menara menjulang di tepi bukit. Menara Pandang Tele menjadi menu wajib kunjung berikutnya.

Menara dengan tiga lantai itu menjulang tinggi, begitu mencolok karena tak ada bangunan lain di sekitarnya. Hanya sebuah rumah di dekat menara milik Hongkom Situmorang, penjaga Menara Pandang Tele. Sebuah rumah makan sederhana ada di bagian depan rumahnya.

Menaiki menara setinggi tiga lantai cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 2.000 per orang. Saat naik, Anda akan terkesiap dengan panorama di depan mata. Bukit hijau, air Danau Toba yang biru, lalu di sisi kanan Gunung Pusuk Buhit menjulang tampak gagah. Di hari cerah, langit biru semakin membuat pemandangan begitu menawan. Tidak akan bosan deh menatap kecantikan panorama ini.

Di bukit sisi kanan menara, Anda akan melihat garis-garis putih. Itu adalah air terjun. Ada banyak air terjun di kawasan tersebut. Di kejauhan tampak pula Pulau Samosir. Gunung Pusuk Buhit yang misterius dan dipercaya sebagai asal usul orang Batak pun tampak di sisi sebelah kiri dari menara.

Naiklah terus sampai ke puncak. Di puncak menara terdapat bangku dari beton untuk duduk-duduk. Sementara dinding empat sisinya terbuat dari kaca. Sehingga pengunjung dapat melihat panorama dengan aman. Sayangnya, bagian dalam gedung ini termasuk kaca-kaca yang mengelilinginya tak terawat kebersihannya. Alih-alih, melihat panorama dengan nyaman, kotornya kaca malah menghalangi pemandangan. Sementara hampir di setiap sisi dinding di puncak menara, baik di kursi maupun di langit-langit, penuh dengan coretan usil.

Setelah puas foto dan menikmati indahya panorama makanlah di rumah makan yang berada di rumah Hongkom tidak jauh dari lokasi menara, selain itu urusan “hajat” sebaiknya diselesaikan di rumah makan ini sebab sepanjang perjalanan menuju Jembatan Tano Ponggol terbilang sulit jamban. Sungguh, menikmati panorama Danau Toba dari ketinggian adalah sebuah gambaran yang akan melekat lama di ingatan Anda.

dari tele

Jembatan Tano Ponggol

Jembatan ya memang jembatan, hampir seluruh jembatan di Indonesia serupa bentuknya, namun ada yang berbeda dengan Jembatan Tano Ponggol, mengapa? sungai diatas jembatan sepanjang 20 meter ini lah yang menyebabkan kita mengenal sebuah pulau bernama Samosir, jika sungai kecil ini kembali diuruk, tentu lah (sebutan) pulau itu tidak ada.

jembatan

Pulau apa yang terletak di tengah-tengah Danau Toba? Semenjak Sekolah Dasar, kita sudah dicekoki dengan pemahaman bahwa Samosir adalah pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Toba. Samosir sejatinya adalah sebuah daratan yang menjadi satu dengan daratan Sumatera. Pada masa itu, posisi Danau Toba berada di utara, timur, dan selatan daratan Samosir. Samosir terhubung dengan Sumatera via daratan sempit di wilayah timur, di sekitar wilayah Pangururan. Nah, pada masa penjajahan Belanda kurang lebih pada tahun 1907, dilakukanlah rencana untuk membuat terusan sepanjang 1,5 KM yang betul-betul memisahkan daratan Samosir dari Pulau Sumatera.

Dua daratan yang terpisah tersebut dihubungkan oleh sebuah jembatan dengan lebar kurang lebih 20 meter. Terusan di bawah jembatan inilah yang dikenal hingga saat ini sebagai Tano Ponggol atau secara harafiah memiliki arti “tanah yang dipotong”. Terusan ini dimaksudkan agar transportasi air di Samosir lancar dan kapal mampu mengelilingi bakal calon pulau tersebut. Tano Ponggol dalam bahasa asli lokal disebut Tano Magotap, yang memisahkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera yang terletak sebelah Barat Pulau Samosir, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara.

Sebutan Tano Ponggol/Tano Magotap dilatarbelakangi sejarah. Ketika masih jajahan Hindia Belanda Pulau Samosir menyatu dengan Sumatera dan pada masanya belum ada kata pulau tetapi hanya Samosir. Sekitar Tahun 1900-an Belanda masuk Samosir, dan pada saat itu yang berkuasa di Pemerintahan Hindia Belanda adalah Ratu Willhelmina (pengakuan turun temurun orang sekitar dimana kakek mereka dulu ikut kerja paksa menggali Tano Ponggol).

Sekitar 1905 Pemerintah Hindia Belanda memerintahkan kepada Tentara Belanda yang ada di Sumatera Utara, untuk melakukan kerja paksa menggali tanah sepanjang 1,5 km dari ujung lokasi Tajur sampai dengan Sitanggang Bau. Kerja paksa atau rodi sangat menyedihkan. Bekerja tanpa gaji, dijaga ketat dan dengan ancaman senjata api yang diarahkan ke para pekerja.

Kurang lebih 3 tahun rodi, Danau Toba sebelah Utara dan sebelah Selatan akhirnya tersambung dan tidak ada lagi daratan yang menghubungkan Samosir dengan Sumatera. Maka munculah kata sebutan baru yaitu (1) hasil kerja rodi disebut Tano Ponggol dan (2) Samosir menjadi Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba, dihubungkan jembatan dengan pulau Sumatera dinamakan Jembatan Tano Ponggol.

Dalam sebuah tulisan di pusukbuhit.com, dikatakan bahwa Tano Ponggol diresmikan pada tahun 1913 oleh Kerajaan Belanda oleh Ratu Willhelmina, dan Tano Ponggol disebut Terusan Willhelmina.

Tidak dijelaskan apa yang melatarbelakangi pengerjaan Tano Ponggol saat itu namun yang jelas ketika melewati jembatan itu saya tidak merasakan tanda-tanda beda, secara jembatan itu sangat bersejarah, tidak ada gapura, kondisi jalan terbilang kurang rapih hanya “sambutan” orang-orang separuh baya yang ‘nongkrong di warung kedua sisi jembatan dengan kartu remi di tangan dan bergelas-gelas kopi di meja mereka.

Selamat Datang di Samosir Bang!