Kisah Banjar yang Hilang: Pasih Uug, Nusa Penida

Mengapa dinamai Pasih Uug? alkisah di wilayah ini konon dulunya adalah Banjar yang ditinggali banyak penduduk, pada suatu hari seekor ular besar datang ke Banjar ini, seluruh warga Banjar berbondong-bondong menyerang ular itu dan membunuhnya. Jasad ular besar itu disembelih dan dibagi- bagikan kepada seluruh warga Banjar.

Setelah seluruh bagian tubuh ular ini habis terbagikan, datanglah orang asing, lalu orang itu menancapkan tiga batang kayu ke tanah, dimintanya seluruh warga untuk mencabut batang kayu tersebut, sayangnya tidak satupun berhasil.

Sembari memperingatkan kepada warga atas perbuatan mereka yang telah membunuh ular besar beberapa saat lalu, orang asing tadi mencabut tiga batang kayu yang dia tanam, begitu ia mencabut batang kayu, seketika pantai/pasih di permukaan Banjar itu amblas dan mengubur seluruh warga, tak satu pun warga banjar ini yang selamat kecuali beberapa orang yang sudah pergi membagikan daging ular tadi ke

Banjar-Banjar di sekitar, mungkin dari mereka lah kisah ini turun menurun hingga sampai juga ke telinga gua dari penduduk sekitar saat mendatangi tempat ini tanggal 6 Agustus 2015 lalu.

pasir uug
ojek yang gua pakai ngga bisa menuju tempat ini langsung jadi kita harus jalan mendaki sedikit, begitu sampai, wah keren minta ampun guys!

Apa pun dongeng yang diyakini tentang Pasih Uug/broken beach itu, sudut di Nusa Penida ini keren dan seperti pemandangan yang sering kita lihat di foto-foto negara lain.

dermaga Nyuh
jangan buru-buru menjelajah pulau sebelum menikmati area sekitar Dermaga Nyuh, duduk ajah dulu di tepi dermaga untuk dapet pemandangan gratis ini

Untuk menuju tempat ini Anda memang harus meyediakan energi ekstra, pasalnya bukan hanya minimnya boat yang berangkat ke Nusa Penida dari Sanur tapi membutuhkan waktu lebih dari dua jam sejak Anda tiba di Dermaga Nyuh, Nusa Penida dengan kondisi sebagian jalan halus dan sebagian lainnya jalan tanah dan batu.

interspace
jalan yang berliku dan banyak tanjakan di Nusa Penida tuh keren banget, berhubung ngga ada WC umum disana jadi (mungkin) boleh pipis di pohon. photo ojek dan background ini gua ambil selepas urusan hajat pipis

Agar eksplorasi Nusa Penida efektif dan cukup satu hari, disarankan untuk membayar ojek yang tersedia di Dermaga Nyuh, ojek disana tertib dan punya uratan sendiri, jadi kita ngga bisa pilih-pilih.

angle's billabong
ngga cuma Pasih Uug, you guys juga bisa dateg kesini di Nusa Penida, dinamai oleh turis Australia, mungkin karena mirip dengan ang ada di benua mereka ya: Angle’s Billabong

Jika Anda adalah tipe traveler yang nekat dan punya waktu banyak, mungkin ngga perlu sewa ojek tapi bisa sewa sepeda motor dan melakukan perjalan sendiri mengelilingi pulau ini, tapi sebaiknya siapkan cadangan satu hari di Nusa Penida jika itu yang Anda pilih. Jauhnya jarak antar tiga tempat terbaik di Nusa Penida: Pasih Uug, Angle’s Billabong dan Crystal Bay membuat Anda cukup bingung dan seringkali menemui area-area tak berpenduduk, tidak ada orang yang bisa ditanya dan satu lagi, provider ponsel ternama sering kali mengalami blank spot di banyak area di Nusa Penida sehingga Anda tidak bisa mengandalkan Google Map atau Waze yang pintar itu.

editeddd_MG_0083
ini masih di Angle’s Billabong, karang kering sepanjang langkah itu terisi oleh terjangan ombak 

Jadi selain terkenal karena pernah menjadi tempat pembuangan presiden pertama RI, Soekarno, Nusa Penida memang mengagumkan untuk kita kunjungi, datang lah..

Museum Le Mayeur, Sanur: bukti kisah cinta lokasi yang abadi

_MG_0192 copy

Diambil dari nama bekas pemiliknya, Adrien Jean Le Mayeur de Merpes, dia adalah seorang pelukis Bruxelles, Belgia yang datang ke Bali tahun 1932 melalui pelabuhan Buleleng Singaraja menuju Denpasar.

Di Denpasar Le Mayeur menyewa sebuah rumah di Banjar Kaladis lalu bertemu dengan seorang penari legong keraton berusia 15 tahun, Ni Nyomam Pollok, yang kemudian dijadikan model lukisannya.

Lukisan-lukisan dengan model Ni Nyoman Pollok dipamerkan di Singapura dengan hasil yang sangat memuaskan dan nama Le Mayeur semakin mencuat. Usai pemeran Le Mayeur datang kembali ke Bali dan membeli sebidang tanah di Pantai Sanur lalu dia bangun sebuah rumah, yang kini dikenal dengan nama Museum Le Mayeur.

Di rumah ini lah Ni Nyoman Pollok bersama dua orang temannya setiap hari bekerja sebagai model lukis. Seiring berjalan waktu, dengan kecantikan dan keindahan tubuh Ni Nyoman Pollok, timbul rasa cinta Le Mayeur kepada Ni Nyoman Pollok.

_MG_0190

Setelah tiga tahun menjadi model lukisan Le Mayeur, tahun 1953 Le Mayeur dan Ni Nyoman Pollok sepakat untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan yang dilangsungkan dalam upacara adat Bali. Selama menjadi suami istri Le Mayeur terus melukis melukis istrinya dan menjual hasil lukisannya, hasil penjualan lukisan selalu mereka sisihkan untuk memperindah rumah di Sanur dan lukisan yang dianggap paling bagus dipasang sebagai koleksi pribadi.

Pada tahun 1956, Bahder Djohan selaku menteri Pendidikan dan Pengajaran dan Kebudayaan datang mengunjungi rumah Le Mayeur. Menteri saat itu sangat terkesan dan meminta kepada Le Mayeur untuk menjadikan rumahnya sebagai museum. Ide itu disambut dengan senang hati oleh Le Mayeur, sejak itu dia terus berkarya dan lukisannya makin bermutu.

Tahun 1958 Le Mayeur menderita kanker telinga yang sangat ganas, ditemani Ni Nyoman Pollok pergi berobat ke Belgia. Setelah dua bulan berobat di Belgia, Mei 1958 akhirnya Adrien Jean Le Mayeur de Merpes tutup usia dalam usia 78 tahun. Ni Nyoman Pollok kembali ke Bali untuk mengurus rumah hingga akhir hayatnya tanggal 28 Juli 1985 dalam usia 68 tahun. Beristirahatlah dengan damai wahai dua sejoli…

_MG_0181