Destinasi Keren di Magelang Bukan Cuma Borobudur

Dari kecil sudah ribuan kali dengar nama Candi Borobudur terus sudah  punya uang gini kalau mau plesir ke Magelang mesti ke Borobudur banget, ngga kali ya?

Berkat candi peninggalan Dinasti Syailendra yang sempat ditinggal begitu saja selama 400an tahun sampai ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffless tahun 1814, Magelang benar-benar diberkati dan punya banyak destinasi keren selain Candi Borobudur.  Mau tahu apa aja destinasi menarik di Magelang? Ini dia.

Gunung Andong

aaaaaaa
Foto: yukpiknik
You guys yang suka mendaki gunung, ngga cuma Gunung Ceremai atau Rinjani loh yang menarik. Di Magelang ada Gunung Andong. Untuk pemula, Gunung Andong adalah salah satu gunung paling ramah didaki. Gunung  di Kabupaten Magelang ini hanya memiliki ketinggian  1.726 mdpl. Et! Tapi jangan meremehkan ketinggiannya yang ngga terbilang mencakar langit, pemandangan yang disajikan Gunung Andong tetap amazing loh!
Jangan dianggap remeh yah, untuk mendaki Gunung Andong tetap butuh persiapan fisik dan materi yang matang. Sebuah kesalahan bila mendaki gunung kurang persiapan. Base pendakian Gunung Andong ada di kecamatan Ngablak, Magelang. You guys yang mau lewat jalur pendakian yang ngga mainstream, bisa coba pendakian via Desa Sawit. Menuju Desa Sawit juga terbilang ngga rumit, ada kendaraan umum yang bisa ditumpangi.

Arung Jeram Kali Progo Atas

aaaaaaaaaaa
Foto: tempatraftingdimalang.com
Ngga percaya kalau di Magelang bukan cuma Candi Borobudur? Arum Jeram Kali Progo Atas yang masih masuk dalam wilayah Magelang ini benar-benar menjanjikan tantangan adrenalin yang luar biasa. Perlu kamu ketahui, Kali Progo adalah sungai yang mengaliri Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Jogja  sungai ini menjadi batas alami Kabupaten Kulonprogo dengan Kabupaten Sleman dan Bantul. Sumber dari sungai adalah lereng Gunung Sumbing, luar biasa bukan? Nah pada jaman Belanda aliran sungai di daerah Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Kali Progo dibendung menjadi dua aliran untuk sarana irigasi bagi masyarakat Yogyakarta oleh Belanda. Bendungan itu dikenal dengan istilah Ancol Bligo, lokasi ini juga jadi destinasi wisata loh.

Sungai Progo Atas mempunyai jeram-jeram kelas II-III yang cukup menantang dengan durasi kira-kira 3 jam pengarungan. Jeram ini cocok bagi Anda yang terbilang newby ber-arung jeram karena tingkat bahaya yang relatif rendah.

 

Rumah Kamera

aaaaaa
Foto: Kompasiana
Dengar nama dan foto tempat ini, kayaknya bisa jadi magnet tersendiri buat para pecinta fotografi. Kayaknya perlu dikunjungi nih. Ada apa sih rumah yang di dalamnya terdapat berbagai lukisan karya seniman asal Semarang yang lama tinggal di Bali, Tanggol Angien Jatikusumo.

Bangunan besar berbentuk kamera DSLR ini menyajikan view cantik pemandangan desa-desa di Magelang dari atas. Bukan Cuma itu, view Candi Borobudur juga Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Andong, Punthuk Setumbu, dan perbukitan Menoreh juga bakal bikinkamu etah disini. Bukan cuma itu yang bikiin betah, di Rumah Kamera ini banyak sekali spot selfie yang ngga bisa begitu ajah dilewati. Tongsis jadi semacam alat yang ngga boleh lupa dibawa kesini.

Menuju Rumah Kemera bisa lewat Candi Borobodur ke arah selatan, Rumah Kamera ada di sekitar 800 meter kiri jalan. Rumah Kamera buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 08.00-17.00 WIB.

Desa Wisata Candirejo

00000000000
Foto: Matajatim
Pengalaman berada di kampung Jawa yang sebenernya musti kamu alami selagi ada di Magelang, dan Desa Wisata Candirejo adalah destinasi yang tepat sekali ketika berada di Magelang.

Masih berada di Kecamatan Borobudur Magelang, sekitar 2,5KM dari Candi Borobudur, kamu sudah bisa menikmati suasana khas pedesaan dengan kehidupan tradisional Jawa yang kental. Ambience kehidupan warga di desa ini yang masih alami bikin pendatang benar-benar merasa waktu berjalan lambat, lupa sama macet, lupa sama stres, dan yang penting lupa deadline malah, LoL!.

Kehidupan alami dengan ketenangan desa yang asli jadi daya tarik yang luar biasa yang bikin orang dari mana pun, ngga terkecuali turis mancanegara  mau berlama-lama duduk di tepi jalan desa ini. Kalau kamu mampir ke desa ini, jangan lupa ya  untuk membeli beberapa hasil kerajinan mereka, bukan cuma untuk peningkatan kesejahteraan mereka tapi materi yang kita beli bisa jadi alat untuk mengenang kalau kita pernah berada di desa yang penuh dengan ketentraman dan keteduhan asli Jawa ini

 

Advertisements

Kota Baru Parahyangan, Cara Nikmati Bandung dari Sisi yang Berbeda

Mau menikmati segarnya Kota Bandung di hari libur tapi ngga mau ketemu macet-macet? Ya sudah ngga usah melaju terus sampai tol Pasteur, keluar ajah di Gerbang Tol Padalarang. Kota baru di Bandung Barat ini  patut dijajal.

Ada apa ajah sih di Kota Baru Parahyangan ini? Sebelum you guys benar-benar memutuskan untuk pergi kesana, ngga ada salahnya cari tahu ada apa ajah sih disana, yuk!

Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan

Kamu yang belum pernah dengar istilah Sundial, mending kita cari tahu dulu istilah Sundial. Menurut Wikipedia, Sundial atau Jam matahari adalah sebuah perangkat sederhana yang menunjukkan waktu berdasarkan pergerakan matahari di Meridian. Jam Matahari merupakan perangkat penunjuk waktu yang sangat kuno. Jaman dulu itu belum ada jam baik analog apalagi digital yang bisa kamu dapatkan dimana-mana seperti sekarang. Sayangnya tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan perangkat Sundial dibuat.

Jam Matahari tertua yang pernah ditemukan, kebanyakan berasal dari Yunani, berupa sebuah bentukan sirkular dengan penanda di tengah yang ditemukan oleh Chaldean Berosis, yang hidup sekitar 340 SM. Beberapa artefak jam matahari lain ditemukan, di Tivoli, Italia tahun 1746, di Castel Nuovo dan Rigano tahun 1751, dan di Pompeii tahun 1762.

111
Berada di rounabout Kota Baru Parahyangan, jadi mudah dikenal banget kalau ini adalah Puspa Iptek (Foto gua olah dari Google Maps, keren ngga?!!!)

 

Rancangan jam matahari memanfaatkan bayangan yang menimpa permukaan datar yang ditandai dengan jam-jam dalam suatu hari. Seiring dengan perubahan pada posisi Matahari, waktu yang ditunjukkan oleh bayangan tersebut pun turut berubah. Pada dasarnya, jam Matahari dapat dibuat menggunakan segala jenis permukaan yang ditimpa bayangan yang dapat ditebak posisinya. Kekurangan dari jam Matahari adalah tidak bisa mengukur waktu pada saat jam malam. Lalu bagaimana nenek moyang kita mengetahui waktu di malam hari? Sebagai pengganti pada saat malam hari dapat digunakan jam bintang. Kecanggihan nenek moyang kita untuk mengetahui waktu pada masa lampau bisa kamu lihat di Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan ini.

11111
Karya purba kala itu sekarang ada di Kota Baru Parahyangan

Selain jam matahari yang merupakan bukti kecanggihan purbakala, Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan juga punya lebih dari 180 buah alat peraga interaktif dimana kamu bisa mencoba dan mengeksplorasi sendiri alat teknologi itu. Menarik bukan? Jam buka Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan beroperasi hari Selasa hingga Minggu dari pukul 08.30 hingga 16.30. Harga Tiket Masuk Puspa Iptek Kota Baru Parahyangan Bandung sebesar Rp.12.000 dan Rp.24.000 Harga Tiket Masuk jika ingin menyaksikan juga pertunjukan film 4 dimensi.

Bale Pare the Shop and Dine Experience

Ke Bandung ngga mampir ke wisata kuliner pasti ada yang kurang. Nah, selagi di Kota Baru Parahyangan sebaiknya kamu mampir ke Bale Pare. Bale Pare adalah kawasan komersial yang menawarkan konsep suasana wisata kuliner dengan nuansa alam eksotis. Kamu bisa menikmati kuliner dalam suasana bertema etnik budaya tradisional di alam terbuka nan nyaman.

Di Bale Pare terdapat 9 restoran dan 6 kafe yang menyajikan berbagai makanan dan minuman, dilengkapi dengan sarana bermain anak, hiburan musik. Untuk harga makanan dan minuman ngga usah khawatir. Harga makanan disini mulai dari Rp.20.000 sudah free Wifi.

11111a
Pas untuk arena main keluarga (Foto: liburananak.com)

Masjid Al-Irsyad Satya

Bandung tidak hanya memiliki tempat wisata alam, wisata belanja, wisata kuliner yang menjadi alasan kamu menyambangi kota ini, Bandung juga memiliki tempat ibadah yang bisa menjadi wisata religi yang khidmat dan menyenangkan. Salah satu tempat yang bisa dijadikan tempat wisata religi yang menyenangkan adalah Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan.

Terletak di lokasi yang strategis dan terbilang mudah ditemukan di Jl. Parahyangan Km 2,7 Kota Baru Parahyangan, Bandung. Kamu yang baru melintasi jalan ini pasti sudah akan aware dengan bangunan masjid bergaya mirip dengan bangunan Kabah.

aaaaaaaa

Artsitektur keren, sampai menyabet penghargaan internasional karagori tempat ibadah (Foto: Wikipedia)

Hal yang menarik dari Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan adalah arsitektur dan interiornya yang berbeda dari masjid-masjid yang lain. Masjid dengan arsitekur walikota Bandung Ridwan Kamil ini bukan hanya menarik dan unik dilihat dari luar akan tetapi sampai interior masjid juga menarik.

Dengan warna dasar abu-abu, masjid yang masih dalam satu komplek dengan Al Irsyad Satya Islamic School ini juga memberikan sentuhan ornament yang berbeda. Dinding-dinding yang menjadi pelindung masjid terbuat dari susunan batu bata yang mengagumkan. Susunan batu bata ini tidak sembarangan. Susunan batu bata ini membentuk kalimat Bahasa Arab yang bertuliskan kalimat syahadat.

Gimana Seru juga kan? kalau you guys mau sekalian bermalam disana, ada Hotel Maison Pine yang lumayan bagus dan punya view keren, terbilang ngga terlalu mahal kok. Oh iya saat di Kota Baru Parahyangan, posting di Path From-nya tetep Bandung kok? LoL.

Selagi di Gianyar, Mampir Dulu Lah Ke Hidden Canyon

Kayaknya wisata canyon lagi marak di beberapa daerah di dunia, termasuk Indonesia. Beberapa daerah yang punya spot bekas aliran sungai purba apalagi yang sudah berjamur dan punya bebatuan terjal, buru-buru deh pemerintah daerahnya klaim sudah punya canyon!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Canyon atau sudah di-Indonesiakan menjadi Kanyon /ka·nyon/ n bermakna lembah yang sempit dan dalam dengan tepi yang terjal, biasanya ada sungai yang mengalir di dasarnya; jurang.

Nah, ciri-ciri kanyon sesuai KBBI itu juga ada di Gianyar, Bali, konon baru setahun ini ditemukan, penduduk sekitar yang gembira dengan penemuan sisa sungai purba kala itu menyebutnya Hidden Canyon, keren juga yaa!

Berada di area Sungai/Beji Guwang dekat Pura Dalem Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali, kata beji sendiri merupakan kata dalam bahasa Bali yang memiliki arti sungai yang dianggap suci. Sungai ini memang dianggap suci karena terdapat beberapa sumber mata air suci.

Beji Guwang memiliki sebuah aliran sungai yang diapit oleh tebing tajam di samping kanan dan kirinya. Air sungai bening berwarna kebiruan dengan ornamen batu kali hitam kecoklatan. Ngga banyak ditemukan lumut di wilayah yang lembab dengan pemandangan menakjubkan ini. .

canyon-4
Lima menit pertama sudah ketemu medan ini, jangan sok tahu dengan ambil jalur sendiri, nurut ajah sama Bli Guide kalau ngga mau tergelincir

Menuju Hidden Canyon terbilang ngga begitu sulit, walaupun besar kemungkinan terlewat karena (saat gua kesana) tandanya cuma plank print out dari bahan fleksi Cina murahan yang ditempel di tempok , buat yang baru sekali atau dua kali ke tempat ini kayaknya mesti kelewat dulu jalan masuk menuju canyon, baru keliatan tuh tanda dan ya mesti putar balik. Letaknya tidak jauh dari Pasar Seni Sukawati, Gianyar, jadi mesti sudah pasang mata selepas pasar Gianyar, atau di Google Maps juga ada kok, selow.

 

Tarif menelusuri Hidden masih terbilang murah, cuma Rp. 10.000 tapi yang mahal adalah dibutuhkan stamina baik dan waras sebab butuh waktu 3 jam lebih untuk melampaui canyon yang terbagi menjadi 3 area ini. Disarankan untuk menggunakan jasa guide yang tersedia, mengingat terlalu banyak jalur yang belum umum digunakan. Paparan terjal dan licin sepanjang jalan dari mula canyon hingga akhir ditambah gesture yang naik turun bersiko tergelincir bila salah melangkah.

Di muka pembayaran tiket, petugas sudah akan menawarkan untuk menggunakan jasa guide, seperti biasa,  gua sih jual mahal dulu, pura-pura udah pernah dan pura-pura ngerti, eh ngga lebih dari 3 menit turun menuju canyon udah nyasar. Terus lihat kanal panjang dengan tebing curam begitu, akhirnya nyerah juga saat guide lokal yang menawarkan untuk menggunakan jasa dia. Tawar menawar ngga terlalu ribet macem di tanah abang, mulanya dia mau gua bayar Rp. 30.000 etapi pas sampai akhir perjalanan, ngga tega juga bayar segitu. Gua senang, bayar gocap ngga jadi masalah.

Sebelum memulai perjalanan, guide sudah mengingatkan untuk melepas alas kaki, jadi perjalanan sepanjang kurang lebih 3 kilo degan berbagai medan ini harus dilampaui dengan tanpa alas kaki. Semua perjuangan ini terbalas dengan pemandangan yang sangat mengagumkan dari setiap titik yang kita lewati, ini luar biasa dan cukup memacu adrenalin, terpeleset sedikit bukan cuma jadi borok ini, patah tulang atau kepala pecah bisa mengingat bebatuan masiv terjal bakal menyambut kita dibawah.

Oh iya tentang dokumentasi no worry, guide juga sudah punya patern lokasi untuk mengabadikan foto sepanjang canyon, hanya yang patut menjadi perhatian cek hasil foto yang mereka ambil, maklum gua mengalami hampir semua foto yang mereka ambil melalu smartphone 98,5% buram, LoL. Oh iya coba-coba jalan melipir jurang dengan posisi gawai di tangan ya, sebab setiap saat resiko jatuh bisa terjadi, dan pastikan gawai juga masuk ke dalam plastik atau gunakan tas yang yang anti air bila resiko terjebur terjadi.

img_3018
Medannya ngga cuma karang terjal, sesekali mesti nyebur juga. Untung bawa model yang serba mau ini, LoL

Medan yang dilalui juga ngga melulu air dan tebing terjal, sesekali harus melewati genangan air setinggi paha orang dewasa, jadi jangan sampai salah konstum ke tempat ini. Sebaiknya pastikan bawa pakaian ganti untuk yang akan melakukan perjalanan ke destinasi lain selepas destinasi ini.

 

canyon-2
Bukan lebay, cara jalan begitu memang dilakukan semua orang sebab tapak untuk melangkah adalah batu dengan permukaan terjal

Akhir dari canyon ketiga bukan berarti akhir dari perjalanan ini, kita masih akan terus melintas jalan naik turun dengan anak-anak sungai kecil diantara rerumputan kering dan perbukitan. Jangan buru-buru, beberapa perbukitan ini menyediakan akar tali yang panjang, nikmatin bergelantungan diantara tali-tali itu atau bisa juga gunakan tali akar untuk memanjat ke atas tebing, kalau berani…

 

img_3046
Selepas canyon ketiga, udah ngga ada basah-basah lagi

Selepas main tali akar itu sudah selesai perjalan? BELUM hahahah, masihpanjang perjalanan. Kita akan melewati kebun pepaya, jenisnya Pepaya Hawaii, ada yang baru dengar? pepayanya kecil-kecil tapi manisnya aduhai, mampir lah ke beberapa gazebo yang menyediakan air minum diatara kebun Pepaya Hawai ini, kalau beruntung penjaga gazebo akan ambilkan pepaya ini, gratis!

 

canyon-3Hamparan padang rumput luas menemani perjalanan menuju parkiran, ada Mini Zoo juga sebelum mengakhiri Hidden Canyon, tapi gua pilih ngga mampir, selain panas terik juga mesti pergi ke beberapa destinasi lain. Sebelum banyak yang bercerita tentang Hidden Canyon, tempat ini patut dijajal, setidaknya you guys jadi generasi pertama yang menceritakan tempat wisata baru ini, seru kan? Seru! tapi bakal ngga jadi seru kalau pergi ke tempat ini menyisakan sampah bekas makanan atau minuman kemasan, you guys jangan buang sampah di tempat ini yaa, bawa keluar sampahmu, di parkiran mereka menyediakan tempat sampah kok!

img_3070