Brown Canyon-Semarang, Bukan Canyon yang Sebenarnya

Tahun 2016 traveler lokal dikagetkan dengan munculnya canyon baru di Semarang. Ada blog travel sampai bilang Grand Canyon di Semarang tak kalah indah dari Grand Canyon yang ada di Amerika. Waw!! Mestinya keren banget lah kalau begitu Brown Canyon ini.

Tentu gua ngga bisa bantah begitu ajah tulisan blog travel yang berani bandingkan canyon yang ada di Amerika dengan yang baru ditemukan di Semarang, sebab gua belum pernah pergi ke canyon yang kalah indah di Amerika itu.

Tanpa rencana matang, akhir 2016 kemarin gua dan keluarga memutuskan untuk merayakan tahun baru dengan solo touring. Namanya touring yang penting jakarta coret. Bandung definitely bosan dan kepikir macet, Cirebon rasanya terlalu sebentar untuk 4 hari liburan. Akhirnya terpilih lah Semarang. Horeee angan-angan untuk sambangi Brown Canyon hampir terwujud.

Tol Cipali yang biasanya liburan panjang macet ikut panjang macetnya, eh kali ini lancar jaya, hanya hujan terus menemani sampai selepas Kendal hingga Allstay Hotel Semarang, Jalan Veteran tempat kami menginap. Kekhawatiran batal ke Brown Canyon membayangi hingga pagi. Menurut salah seorang traveler yang jumpa di hotel pagi itu bilang jangan memaksakan diri ke Brown Canyon kalau habis hujan, akan sangat becek, banyak lumpur bahkan sulit dilewati mobil pribadi.

Begitu dengar sulit dilewati mobil pribadi, adrenalin malah menggelora. Pasti asik tempat ini. Sabtu tanggal 31 Januari 2016 pukul 09:00 akhirnya gua berangkat dari hotel menuju Brown Canyon. Google Maps bilang jarak cuma 13 km dengan perjalanan ngga lebih dari 1 jam. Okel lah.

To get there

Sesuai sub judul, hari gini mah ngga sulit kalau mau ke sebuah destinasi, tinggal cari di Google Maps, dapat lah nama Brown Canyon. You guys kalau mau kesana tap embed map ini ajah https://goo.gl/maps/hyxMHM9tQHv.

Jangan bayangkan jalan menuju canyon juga lengkap dengan fasilitas petunjuk jalan, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju lokasi dihiasi oleh pemandangan indah layaknya beberapa lokasi wisata lain, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju canyon papasan dengan para turis lokal maupun turis bule, ngga banget!

Jalan menuju Brown Canyon dari Semarang adalah jalan kabupaten dengan fasilitas 1 jalan aspal dua arah yang banyak dilalui motor-motor dan becak, ngga ada petunjuk jalan atau umbul-umbul mengarah lokasi. Sepanjang perjalanan dari Jalan Veteran Semarang ngga ada rambu petunjuk Brown Canyon. Karena ini jalan kabupaten atau bahkan jalan kecamatan, bakal ketemu tikungan-tikungan atau perempatan yang macet, mohon bersabar ajah. Satu lagi, jangan berharap papasan dengan para turis bule macam di Ubud atau di Hidden Canyon di Gianyar, ngga guys! yang ada elu hanya akan banyak papasan dengan truk-truk pengangkut tanah dengan supir dan kernet berwajah lelah dengan baju kaos merk Hings yang fenomenal.

Area lokasi canyon dengan hunian penduduk dipisahkan oleh jembatan kali yang hanya bisa dilalui 1 kendaraan, jadi mesti gantian. Apa yang dibilang si traveler itu ternyata benar, jalan menuju lokasi sangat becek dan licin. Ada 3 akses menuju lokasi terdekat ke bukit canyon, dua akses lain negatif untuk dilewati, tinggal 1 akses lagi dan you guys mesti bersaing dengan truk di jalan tanah itu.

Tingginya sisa tanah yang disebut canyon itu sudah terlihat kurang lebih 300 meter sebelum tiba di lokasi. Hujan yang turun terus menerus hingga pagi tadi bukan hanya ganggu jalan masuk menuju canyon, tapi juga ganggu pemandangan untuk foto canyon. Awan mendung sisa hujan bener-bener bikin kelam.

brown04

Fasilitas

Tidak ada lokasi parkir layaknya sebua tempat wisata, ngga ada gate masuk layaknya masuk ke DUFAN atau ke TAMAN SAFARI, ngga! Ngga ada. Tapi begitu mobil kita mulai parkir seadanya ngga jauh dari kaki bukit itu, dua motor sigap hampiri dan sodorkan tiket tanda masuk lokasi wisata senilai Rp. 5.000,- per orang. Mau berantem juga males cuma lima ribu doang cuma KZL ajah, maen todong begini, ah yaudah lah. Dengan sedikit ngobrol ngalur-ngidul salah satunya bilang yaudah pak, bayar 3 orang ajah. Kami berlima waktu itu. Jadi dia dapat Rp. 15.000 dan ngga tahu pergi kemana setelah itu. Mungkin ke pos penjaga tiket masuk, mungkin ada loh. Sebab gua juga ngga lihat lagi setelah itu.

brown02Banyaknya antrian truk menunggu giliran untuk diisi tanah oleh escavator, ramainya dentuman dinamit untuk hacurkan tanah-tanah yang masiv, banyaknya titik rawan dinamit untuk didekati dan tidak adanya titik safety point sekedar untuk berteduh menikmati INDAHNYA canyon bikin gua yakin betul tempat ini bukan tempat wisata. Jika ada yang bilang ini tempat wisata itu jelas dipaksakan berdasarkan sisa tanah tanah yang belum runtuh oleh dentuman dinamit. Tempat ini jelas berbahaya untuk dikunjungi.

Lalu kenapa banyak yang masih mau datang ke tempat ini? Bagi para pemburu foto, lingkungan ekstrem disini jelas jadi surga untuk ambil gambar. Ceruk yang tergali dengan meninggalkan bagian lain yang belum sempat digali tentu jadi daya tarik tersediri, termasuk beberapa bukit sisa yang belum dihancurkan.

brown01

Untuk Siapa Brown Canyon

Lalu kenapa lokasi ini sampai terbentuk canyon dan diberi nama Brown Canyon? Brown Canyon adalah nama yang kelak akan digunakan oleh si pemilik area untuk komplek perumahan orang-orang kaya di Semarang. Saat ini mereka sedang melakukan cut and fill area. Mungkin master plan mereka ada area yang harus di-cut, sehingga banyak tanah yang harus dibawa keluar area dan ada bagian yang dibiarkan atau bahkan ditambah ketinggiannya untuk bikin efek mengagumkan dari komplek perumahan yang akan ditempati orang-orang kaya nanti.

brown05

Sampai Kapan bayar Rp. 5.000

Terus tinggal berapa lama lagi para photo hunters bisa mengabadikan CANYON yang konon tak kalah indah dari GRAND CANYON di Amerika ini? Hasil obrolan gua dengan salah seorang mandor di sela-sela ledakan dinamit, kurang dari 6 bulan sejak hari itu sebagian besar bukit-bukit sudah akan rata dengan tanah. Sedih ngga? Ngga sedih sih. Susunan bukit-bukit sisa galian itu bakal hilang, tapi ngga usah khawatir, itu semua bakal digantikan oleh bukit baru yang lebih hijau, lebih bersih, lebih tertata dengan pintu masuk dan gerbang yang jelas ditambah baliho sangat besar mungkin bertuliskan Selamat Datang Di Komplek Perumahan (mewah) Brown Canyon. Oh iya satu lagi, kalau udah ada embel-embel Komplek Perumahan pasti jalan menuju Brown Canyon bakal banyak rambu petunjuk sejak dari Simpang Lima dan jalannya pasti makin halus.

brown03

Jadi buat yang mau menikmati Brown Canyon selagi bayarnya cuma Rp. 5.000 dari sekarang deh sambangi, sebelum bukit yang indah itu berganti jadi bukit buatan nan indah tak seindah Grand Canyon di Amerika.

escape01

Advertisements

Begini Rute Menikmati Pura Di Bali

Cari kata BALI untuk images di Google yang tampil gambar Pura dengan berbagai keindahan dan keteduhan lingkungan yang mengelilinginya. Ngga penasaran mau datangi Pura cantik nan teduh itu? Yuk telusuri beberapa Pura itu sembari cari tahu filosofi didirikannya setiap pura yang kita sambangi, begini rutenya! 

Pura Besakih

Rute pertama jatuh pada Pura Besakih, kenapa? Sebab Pura Besakih diyakini sebagai tempat pertama para leluhur Bali yang pindah dari Gunung Raung di Jawa Timur. Ada cerita menarik kenapa akhirnya leluhur Bali mendirikan Pura di tempat ini.

Begitu semangatnya mereka membersihkan lahan baru ini, hingga melupakan rasa syukur pada alam semesta, hingga suatu waktu alam menegur dengan bencana sakit dan banyak orang yang dimakan oleh bintang buas, hingga suatu waktu seorang pertapa mengigatkan untuk mengerjakan upacara yadnya atau dalam istilah Bali dikenal dengan nama bebanten atau sesaji bagi Sang Hyang Widhi Wasa. Nah, di tempat mula persembahyangan untuk menebas hutan di Bali ini leluhur menanam kendi atau payuk berisi air, beserta Pancadatu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten/sesajen) yang diperciki oleh Pangentas (air suci). Tempat aktivitas diletakkannya sesajen itu diberi nama Pura Basuki yang hingga kini dikenal dengan nama Pura Besakih. Setelah berdirinya Pura Besakih, aktivitas pembersihan diteruskan tanpa meninggalkan rasa syukur mereka bagi Sang Hyang Widhi Wasa.

besakih
Terbayang kan keteduhan Pura Besakih ini (suartur.com)

Pura Ulun Danu Bratan

Terbilang tidak jauh dari Pura Besakih, perjalanan menelusuri Pura di Bali lanjut ke Pura Ulun Danu Bratan. Salah satu daya pikat pura ini adalah letaknya di tengah danau diantara pegunungan sejuk. Ngga afdol deh ke Bali kalau belum lihat langsung pura yang tambah terkenal berkat ada di uang pecahan Indonesia Rp. 50.000 ini.

pura-ulun-danu-bratan
Seolah dikelilingi danau, Pura ini begitu indah untuk difoto setiap saat (accessibleindonesia)

Pura Ulun Danu Beratan berada di Desa Bedugul, Bedugul terkenal dengan udara yang sejuk berkat ketinggian 1.293 meter diatas permukaan laut. Pura Ulun Danu Beratan adalah pura yang ditujukan untuk pemujaan Dewi Danu sebagai simbol pemberi kesuburan dan kemakmuran untuk penduduk Desa Bedugul.

Pura Tanah Lot

Sebelum menikmati indahnya Pura Tanah Lot, yuk kita kepo-in dulu ada apa sih sampai disebut Pura Tanah Lot. Pada zaman dahulu kala…., cie mau membagi kisah nih. Jadi dahulu kala itu penduduk Bali terutama penduduk Desa Beraban percaya pada satu orang pemimpin yang dianggap sebagai utusan Tuhan. Suatu waktu datanglah seorang punggawa dari tanah Jawa, tepatnya dari Kerajaan Majapahit yang ingin menyebarkan agama Hindu menuju Lombok. Punggawa bernama Dang Hyang Dwijendera sebelum tiba di Mataram berhenti melakukan meditasi di Desa Beraban karena melihat cahaya yang keluar dari batu berbentuk burung beo dengan mata air di dalamnya.

Berkat kharisma dan ajaran yang dibawa, banyak penganut monotheisme lokal yang mulai mengikuti ajaran Dang Hyang Dwijendera. Pimpinan penganut monotheisme desa Beraban marah dan mengusir Dang Hyang Dwijendera. Dengan kesaktiannya Dang Hyang Dwijendera berhasil menggeser tempat pertapaan yang semula menyatu dengan tanah itu ke tengah laut. Maka jadi lah tanah dengan bangunan pura itu disebut Tanah Lot atau tanah di tengah laut, itu kenapa sekarang kita lihat Tanah Lot seperti terhempas ke laut, mungkin dahulu Pura itu berada didaratan Beraban.

sunset-tanah-lot-bali
Terpisah dari daratan bikin Pura di Tanah Lot ini semakin menarik 

 

Pura Puncak Mundi, Nusa Penida

Buat yang belum pernah menginjakkan kaki ke Nusa Penida, ini saatnya untuk menyambangi pulau nyentrik yang pernah jadi tempat pembuangan Soekarno itu. Dari penyeberangan Sanur kurang lebih 30 menit dengan boat ke Nusa Penida. Pura yang akan dituju adalah Pura Puncak Mundi.

Kisah para Dewa turun ke bumi menjelma jadi manusia diceritakan pada asal muasal Pura Puncak Mundi. Diyakini hal itu terjadi pada tahun saka 50 ketika Batara Siwa turun ke dunia menjelma jadi manusia di sekitar Puncak Bukit Mundi  yang merupakan dataran tertinggi di Nusa Penida. Ketika itu Batara Siwa menjelma jadi seorang pendeta besar yang sakti, bernama Dukuh Jumpungan.

Seperti keyakinan Hindu umumnya jika salah satu dewa turun ke bumi tentu berpasangan, nah! pasangan Dukuh Jumpungan adalah Dewi Uma, yang juga seorang Dewi yang menjelma jadi wanita jelita.  

Tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Kisah ini lah yang jadi muasal cerita berkembang biaknya penduduk di Pulau Nusa Penida, bukan hanya penduduk yang terus bertambah, sejak pura pertama di Nusa Penida itu, kini sudah terdapat banyak pura di Nusa Penida. Jadi ngga salah you guys begitu tiba di dermaga Nusa Penida kudu ke pura ini terlebih dahulu sebelum menyambangi pura lain di Nusa Penida.

Jangan lupa untuk berpakaian sopan dan menyapa dengan ramah petugas penjaga Pura sebelum masuk, dan tolong jangan buang sampahmu sembarangan yaaa

dalem-puncak-mundi
Keteduhan yang luar biasa bisa berada di Pura ini, harus coba guys! 

 

Selagi di Gianyar, Mampir Dulu Lah Ke Hidden Canyon

Kayaknya wisata canyon lagi marak di beberapa daerah di dunia, termasuk Indonesia. Beberapa daerah yang punya spot bekas aliran sungai purba apalagi yang sudah berjamur dan punya bebatuan terjal, buru-buru deh pemerintah daerahnya klaim sudah punya canyon!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Canyon atau sudah di-Indonesiakan menjadi Kanyon /ka·nyon/ n bermakna lembah yang sempit dan dalam dengan tepi yang terjal, biasanya ada sungai yang mengalir di dasarnya; jurang.

Nah, ciri-ciri kanyon sesuai KBBI itu juga ada di Gianyar, Bali, konon baru setahun ini ditemukan, penduduk sekitar yang gembira dengan penemuan sisa sungai purba kala itu menyebutnya Hidden Canyon, keren juga yaa!

Berada di area Sungai/Beji Guwang dekat Pura Dalem Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali, kata beji sendiri merupakan kata dalam bahasa Bali yang memiliki arti sungai yang dianggap suci. Sungai ini memang dianggap suci karena terdapat beberapa sumber mata air suci.

Beji Guwang memiliki sebuah aliran sungai yang diapit oleh tebing tajam di samping kanan dan kirinya. Air sungai bening berwarna kebiruan dengan ornamen batu kali hitam kecoklatan. Ngga banyak ditemukan lumut di wilayah yang lembab dengan pemandangan menakjubkan ini. .

canyon-4
Lima menit pertama sudah ketemu medan ini, jangan sok tahu dengan ambil jalur sendiri, nurut ajah sama Bli Guide kalau ngga mau tergelincir

Menuju Hidden Canyon terbilang ngga begitu sulit, walaupun besar kemungkinan terlewat karena (saat gua kesana) tandanya cuma plank print out dari bahan fleksi Cina murahan yang ditempel di tempok , buat yang baru sekali atau dua kali ke tempat ini kayaknya mesti kelewat dulu jalan masuk menuju canyon, baru keliatan tuh tanda dan ya mesti putar balik. Letaknya tidak jauh dari Pasar Seni Sukawati, Gianyar, jadi mesti sudah pasang mata selepas pasar Gianyar, atau di Google Maps juga ada kok, selow.

 

Tarif menelusuri Hidden masih terbilang murah, cuma Rp. 10.000 tapi yang mahal adalah dibutuhkan stamina baik dan waras sebab butuh waktu 3 jam lebih untuk melampaui canyon yang terbagi menjadi 3 area ini. Disarankan untuk menggunakan jasa guide yang tersedia, mengingat terlalu banyak jalur yang belum umum digunakan. Paparan terjal dan licin sepanjang jalan dari mula canyon hingga akhir ditambah gesture yang naik turun bersiko tergelincir bila salah melangkah.

Di muka pembayaran tiket, petugas sudah akan menawarkan untuk menggunakan jasa guide, seperti biasa,  gua sih jual mahal dulu, pura-pura udah pernah dan pura-pura ngerti, eh ngga lebih dari 3 menit turun menuju canyon udah nyasar. Terus lihat kanal panjang dengan tebing curam begitu, akhirnya nyerah juga saat guide lokal yang menawarkan untuk menggunakan jasa dia. Tawar menawar ngga terlalu ribet macem di tanah abang, mulanya dia mau gua bayar Rp. 30.000 etapi pas sampai akhir perjalanan, ngga tega juga bayar segitu. Gua senang, bayar gocap ngga jadi masalah.

Sebelum memulai perjalanan, guide sudah mengingatkan untuk melepas alas kaki, jadi perjalanan sepanjang kurang lebih 3 kilo degan berbagai medan ini harus dilampaui dengan tanpa alas kaki. Semua perjuangan ini terbalas dengan pemandangan yang sangat mengagumkan dari setiap titik yang kita lewati, ini luar biasa dan cukup memacu adrenalin, terpeleset sedikit bukan cuma jadi borok ini, patah tulang atau kepala pecah bisa mengingat bebatuan masiv terjal bakal menyambut kita dibawah.

Oh iya tentang dokumentasi no worry, guide juga sudah punya patern lokasi untuk mengabadikan foto sepanjang canyon, hanya yang patut menjadi perhatian cek hasil foto yang mereka ambil, maklum gua mengalami hampir semua foto yang mereka ambil melalu smartphone 98,5% buram, LoL. Oh iya coba-coba jalan melipir jurang dengan posisi gawai di tangan ya, sebab setiap saat resiko jatuh bisa terjadi, dan pastikan gawai juga masuk ke dalam plastik atau gunakan tas yang yang anti air bila resiko terjebur terjadi.

img_3018
Medannya ngga cuma karang terjal, sesekali mesti nyebur juga. Untung bawa model yang serba mau ini, LoL

Medan yang dilalui juga ngga melulu air dan tebing terjal, sesekali harus melewati genangan air setinggi paha orang dewasa, jadi jangan sampai salah konstum ke tempat ini. Sebaiknya pastikan bawa pakaian ganti untuk yang akan melakukan perjalanan ke destinasi lain selepas destinasi ini.

 

canyon-2
Bukan lebay, cara jalan begitu memang dilakukan semua orang sebab tapak untuk melangkah adalah batu dengan permukaan terjal

Akhir dari canyon ketiga bukan berarti akhir dari perjalanan ini, kita masih akan terus melintas jalan naik turun dengan anak-anak sungai kecil diantara rerumputan kering dan perbukitan. Jangan buru-buru, beberapa perbukitan ini menyediakan akar tali yang panjang, nikmatin bergelantungan diantara tali-tali itu atau bisa juga gunakan tali akar untuk memanjat ke atas tebing, kalau berani…

 

img_3046
Selepas canyon ketiga, udah ngga ada basah-basah lagi

Selepas main tali akar itu sudah selesai perjalan? BELUM hahahah, masihpanjang perjalanan. Kita akan melewati kebun pepaya, jenisnya Pepaya Hawaii, ada yang baru dengar? pepayanya kecil-kecil tapi manisnya aduhai, mampir lah ke beberapa gazebo yang menyediakan air minum diatara kebun Pepaya Hawai ini, kalau beruntung penjaga gazebo akan ambilkan pepaya ini, gratis!

 

canyon-3Hamparan padang rumput luas menemani perjalanan menuju parkiran, ada Mini Zoo juga sebelum mengakhiri Hidden Canyon, tapi gua pilih ngga mampir, selain panas terik juga mesti pergi ke beberapa destinasi lain. Sebelum banyak yang bercerita tentang Hidden Canyon, tempat ini patut dijajal, setidaknya you guys jadi generasi pertama yang menceritakan tempat wisata baru ini, seru kan? Seru! tapi bakal ngga jadi seru kalau pergi ke tempat ini menyisakan sampah bekas makanan atau minuman kemasan, you guys jangan buang sampah di tempat ini yaa, bawa keluar sampahmu, di parkiran mereka menyediakan tempat sampah kok!

img_3070

Menikmati Bali Lewat Garis Imajiner Legian-Nusa Penida

Punya duit dan waktu senggang dua tiga hari, pasti kepikiran jalan-jalan. Pilihan ke Bali lagi? ah! Bosan nih, Bali lagi Bali lagi. Eit! Nanti dulu Bali ngga cuma pantai, tempat makan mewah, night club dan beberapa tempat yang banyak diceritakan para blogger lokal ajah!

Kalau di Jogja ada garis imajiner yang menghubungkan Keraton Jogja, Malioboro dan Gunung Merapi, ngga ada salahnya kita bikin garis imajiner ala ala untuk Bali. Caranya gampang ajah sebelum pesen tiket online di Traveloka mampir dulu ke Google Maps, ambil satu lokasi terus coba tarik garis ke vertikal atau horizontal.

Sesuai tema awal ngga mau datangi tempat yang terlalu biasa dikunjungi orang-orang,  mari tarik garis imajiner segaris dengan Nusa Penida. Mendengar pulau tempat pembuangan presiden pertama bangsa ini bikin bulu kuduk merinding. Pengen tahu kenapa sih sampai pulau gersang di luar pulau Bali ini jadi “destinasi” penjajah waktu itu mengasingkan Soekarno? Yuk kita mulai petualangan menjelajah garis imajiner yang akan berakhir di Nusa Penida ini.

Pantai Legian jadi titik awal garis imajiner yang kita tentukan sendiri ini. Tapi rasanya terlalu biasa kalau cari penginapan juga di daerah pantai. Mari sebentar tengok Google map yang akan bantu kita cari penginapan yang tidak terlalu jauh dari Legian tapi tetap berada pada garis imajiner kita menuju Nusa Penida.

Fontana Hotel Bali rupanya ada pada garis ini. Pilihan bermalam di Fontana Hotel Bali ngga salah karena hotel dengan penghargaan Certificate of Excellence 2015 Winner dari Tripadvisor ini bertarif terjangkau namun punya banyak fasilitas. Bukan cuma itu di Fontana Hotel Bali kita bisa merasakan berada di rumah berkat interior yang “rumah banget”. Cari hotel ini di Traveloka juga mudah. Dari Fontana Hotel Bali perjalanan menuju Nusa Penida kita lanjutkan.

Museum Le Mayeur, Sanur

Diambil dari nama bekas pemiliknya, Adrien Jean Le Mayeur de Merpes, dia adalah seorang pelukis Bruxelles, Belgia yang datang ke Bali tahun 1932 melalui pelabuhan Buleleng Singaraja menuju Denpasar. Singkat cerita Le Mayeur bertemu dengan seorang penari legong keraton berusia 15 tahun, Ni Nyomam Pollok, yang kemudian dijadikan model lukisannya.

mg_0190
Perlu sedikit teriak untuk manggil penjaga loket sekalipun kita udah masuk ke komplek museum, waktu gua dateng penjaganya ketiduran di dalem

Usai menikmati karya-karya indah, tidak jauh dari museum Le Mayeur sudah tampak pos penyeberangan menuju Nusa Lembongan. Karena juga digunakan oleh penduduk, penyeberangan Sanur – Nusa Lembongan, Nusa Ceningan dan Nusa Penida terbilang ramai dan urusan harga ngga usah khawatir, tidak sampai bikin kita merogoh kantong sampai dalam deh.

Nusa Lembongan

Terdapat kampung pembudidayaan rumput laut  di Nusa Lembongan. Pemandangan turis asing yang asik mengintai aktivitas petani rumput laut di Nusa Lembongan lewat lensa panjang mereka jadi pemandangan yang biasa di kampung ini. Dari Dermaga Jungut Batu Nusa Lembongan perjalanan menuju perkampungan ini bisa menggunakan ojek sewaan, biasanya begitu tiba di dermaga Anda akan ditawarkan untuk paket sampai Nusa Ceningan.

Nusa Ceningan

Kurang afdol rasanya kalau sudah sampai Nusa Lembongan tidak mampir ke Nusa Ceningan. Pulau kecil yang bersisian dengan Nusa Lembongan ini terhubung dengan sebuah jembatan yang hanya bisa dilalui oleh orang dan motor, jadi jangan bayangkan kalau di Nusa Ceningan itu ada mobil. Berada di Nusa Ceningan tentu juga berbeda dengan di Nusa Lembongan. Pulau yang lebih kecil ini sebagian besar penduduknya bercocok tanam dan nelayan. Tidak banyak spot wisata di pulau ini, tapi bagi Anda yang menyukai duduk-duduk cantik diantara hembusan angin laut sembari menikmati camilan, pulau ini memberikan cukup banyak spot itu.

19835153634_9f2c659820_c
View dari Ceningan Cliff, di depan itu Nusa Penida. Disini gua ngga nginep cuma minum sama jajan cemilan tapi dapet pemandangan bagus ini #TravelerPelit

Bila Anda memilih untuk bermalam di Nusa Ceningan atau Nusa Penida, terdapat cukup banyak penginapan di kedua pulau ini. Bermalam lah sebelum melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida. Namun jika Anda ingin menghabiskan semua dalam satu hari dan pergi bersama rombongan, Anda disarankan untuk menyewa speed boat mulai dari Sanur.

Nusa Penida

Jangan dulu bayangkan Nusa Penida seperti Pulau Bali dengan kehidupan yang ramai dan spot hiburan dimana-mana. Kalau lihat dari Google Earth saja Nusa Penida sudah terlihat gersang dan terkesan kering. Tapi bukan kah kali ini kita mau traveling ke tempat yang tidak biasa?

Ada apa di Nusa Penida? Tanah babatuan dengan permukaan sebagian besar kering ini ternyata punya banyak lokasi yang bikin kita berdecak mulai dari tiba di tempat itu sampai meninggalkannya. Pasih Uug adalah Salah satu spot indah di Nusa Penida, Pasih uug yang bermakna pasir runtuh ini memilik legenda yang diceritakan turun temurun oleh tetua di Nusa Penida bahwa mereka tidak boleh berlaku sembarangan terhadap alam semesta.

pasir-uug
Pemandangan hamparan luas Samudra Hindia di balik Pasih Uug itu bener-bener keren, kayak bukan di Indonesia.

Agar eksplorasi Nusa Penida efektif dan cukup satu hari, disarankan untuk membayar ojek yang tersedia di Dermaga Nyuh, ojek disana tertib dan punya uratan sendiri, jadi kita ngga bisa pilih-pilih. Jauhnya jarak antar antar spot di Nusa Penida membuat Anda cukup bingung jika menyewa motor sendiri dan tidak menggunakan jasa ojek. Banyaknya area-area tak berpenduduk, tidak ada orang yang bisa ditanya dan satu lagi, provider ponsel ternama sering kali mengalami blank spot di banyak area di Nusa Penida sehingga Anda tidak bisa mengandalkan Google Map atau Waze yang pintar itu.

interspace
Gampang cari WC umum di Nusa Penida. Waktu gua bilang mau pipis, dia langsung berenti dan suruh gua pipis sembarangan sementara pipis, ini hasil potonya. 

Warung Makan Mak Beng

Selepas dari penyeberangan Nusa Penida, ada yang wajib kita kunjungi agar tidak ketinggalan cerita seperti orang-orang, namanya Warung Makan Mak Beng, lokasinya persis di setelah pintu keluar dermaga penyeberjangan.

Menu andalan yang ditawarkan adalah sup kepala ikan dan ikan goreng Jengki bumbu pedas hasil tangkapan nelayan lokal dari Pantai Sanur. Ikan Jangki segar yang telah dibersihkan ini dimasak selama kurang lebih 3 jam hingga dagingnya lembut dan empuk. Perasan jeruk nipis dan daun salam bantu hilangkan bau amis ikan ditambah campuran bumbu khas bali dan rempah-rempah yang dimasak dengan cara tradisional Bali. ah! Membayangkan gigitan ikan ini berbalur sambal campuran cabai, terasi,  gula jawa dan minyak goreng ini membuat semua lelah terbayar seketika. Salah satu yang unik dari warung ini adalah tidak tersedianya pendingin AC di semua ruangan, hanya kipas angin tua yang berputar membagi angin bagi banyak pembeli dengan peluh keringat. Suasana ini pasti bikin Anda semangat untuk tambah lagi dan tambah lagi.

Iklim Bergejolak, Teknologi Jangan Ditolak

Manusia yang hidup ribuan tahun lalu tidak pernah mengira bahwa kelak, keturunan mereka akan mengalami masalah dengan perubahan iklim. Nenek moyang petani merasakan hal yang sama dari ratusan tahun ke ratusan tahun berikutnya. Tidak ada yang berubah dan tidak ada yang dikhawatirkan tentang perubahan iklim, yang mereka takutkan di lahan pertanian hanyalah hama yang hampir selalu berhasil ditebas setiap kedatangannya.

 

Kondisi alam yang selalu sama pada setiap periode tanam menghasilkan akumulasi preseden hingga lahir kebudayaan bercocok tanam yang nampaknya akurat dengan variabel iklim yang relatif sama, nenek moyang mewarisi kebiasaan yang bernama kebudayaan itu hingga kini. Tidak ada hal baru dan tidak ada cara baru hingga ledakan jumlah penduduk terus terjadi.

 

Sayangnya planet bumi yang kecil di belantika antariksa ini tidak pernah membesar untuk menyediakan lahan yang cukup bagi penduduknya yang terus bertambah. Dngan keanekaragam penduduk yang semakin banyak,  bumi mulai kewalahan dengan perilaku manusia dalam memproduksi sampah ke lapisan terluarnya. Bumi makin berat dengan beban tanggungan dan ancaman dari dalam bumi sendiri. Penduduk yang dahulu tidak terlampau pintar menghasilkan racun telah berganti dengan penduduk pintar yang pandai menghasilkan racun seperti karbon dioksida dan zat sejenisnya.

 

Awal abad ini manusia diingatkan bumi atas segala perbuatan yang mengacuhkan batas kemampuan bumi terhadap racun yang mereka hasilkan. Proses pemanasan permukaan benda langit karena komposisi dan keadaan lapisan terluar yang menyebabkan peningkatan konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) pada lapisan terluar bumi ini telah dipelajari oleh seorang fisikawan Perancis. Pada tahun 1824 Jean Baptiste Joseph Fourier mengemukakan teori dengan istilah yang hingga saat ini masih terdengar keren yaitu Efek Rumah Kaca.

 

Istilah efek rumah kaca memang terdengar keren, tapi dibalik istilah ini tersimpan banyak sekali dampak buruk bagi 8 miliar penduduk bumi. Pemanasan global akibat efek rumah kaca ini sungguh berdampak besar pada berbagai sisi kehidupan, dan pertanian lah salah satu yang banyak menerima dampak ini. Semua pola dan kebudayaan yang pernah diwariskan oleh nenek moyang kini hampir tidak bisa lagi menebas dampak pemanasan global.

 

Naiknya suhu permukaan bumi menyebabkan terjadinya kekacauan pola musim. Cuaca yang tidak menentu membuat petani sulit memperkirakan waktu mengelola lahan dan memanen. Akibat perubahan iklim ini juga fenomena musim hujan cenderung lebih pendek. Di sisi lain, musim kemarau yang lebih panjang telah meningkatkan berbagai bencana bagi sektor pertanian.

 

Di Lombok Timur, nenek moyang mereka pernah menciptakan sebuah pola tanam yang dibangun berdasarkan hitungan hari baik, mereka menyebutnya Wariga. Budaya Wariga berkeyakinan benda-benda alam seperti matahari, bulan, bintang, dan benda benda angkasa lainnya mempunyai pengaruh dalam kehidupan dan ikut menentukan kehidupan sehari-hari, termasuk pertanian. Wariga yang mereka terapkan mengabaikan apa yang oleh Jean Baptiste Joseph Fourier perhitungkan. Wariga menghitung berdasarkan konstelasi statis bulan, bintang dan matahari di luar atmosfir tanpa memperhatikan kondisi di dalam atmosfir yang sudah banyak berubah akibat efek rumah kaca. Selama ratusan tahun tata cara tanam yang digunakan oleh orang Sasak di Lombok Timur ini hampir tidak ada masalah.

FullSizeRender (1)
Teknologi sederhana pengukur curah hujan

Kondisi perubahan curah hujan yang berdampak pada perubahan pola tanam dan tentu terhadap penghasilan petani karena gagal panen yang kerap terjadi menyita perhatian seorang ahli dari Universitas Wageningen Belanda, Professor Emeritus Kees Stigter. Ahli tanaman yang menggeluti bidang ilmu microclimate ini menghitung secara detail pengaruh kondisi cuaca pada setiap lahan pertanian. Metodologi ilmiah yang dilakukan Prof. Kees pada pertanian di Lombok Timur memadukan kondisi tanah dengan curah hujan yang semakin random.

 

Sayangya teknologi pertanian yang disampaikan oleh Prof. Kees tidak begitu saja diterima oleh penduduk yang selama ini mengagungkan kebiasaan lama dengan dalih tidak ingin melawan budaya nenek moyang. Ilmu pengetahuan hasil olah pikir dan dilakukan berdasarkan metodologi ilmiah ini dianggap sebagai mercusuar yang sulit digapai oleh para pelaku pertanian. Teknologi dianggap momok yang sulit diterapkan dengan terminologi barat yang jauh dari istilah sehari-hari petani. Satu sisi petani di Lombok Timur mengalami masa sulit kerena perubahan iklim dan penerapan budaya bercocok tanam yang jauh dari hasil memuskan di sisi lain mereka menganggap teknologi sebagai sebuah mercusuar tinggi yang sulit untuk diterjemahkan. Dibutuhkan sebuah pendekatan komprehensif untuk merendahkan tingginya mercusuar teknologi bagi para petani yang semakin terpuruk dengan kondisi perubahan iklim.

 

Sebuah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dan tata cara kehidupan serta proses perjalanan manusia, dirasakan mampu melakukan mediasi dalam penerapan teknologi pertanian bagi masyarakat Lombok Timur. Sebuah metode penelitian observasi partisipasi yang telah ditelaah dan dijalankan oleh Prof. Dra. M.A Yunita Triwardani Winarto, M.S, M.Sc.,Ph.D., seorang ahli Antropologi Universitas Indonesia telah mampu menjembatani penerapan teknologi pertanian dalam mengantisipasi perubahan iklim terhadap pola perilaku masyarakat Lombok Timur yang kini masih terus dijalankan melalui beberapa kelompok tani.

IMG_0240
Bersama Prof Yunita di Perkampungan Lombok Timur

Pendekatan antropologi yang dilakukan secara terus menerus banyak memberikan dampak positif bagi petani di Lombok Timur. Teknologi yang selama ini dianggap sebagai momok kini mulai didampingi. Apa yang telah dilakukan oleh tim Antropologi UI yang diketuai oleh Prof Yunita T. Winarto dan berkat dukungan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) petani lombok kini telah menerapkan teknologi pengukuran curah hujan pada lahan mereka masing-masing untuk bisa menentukan rencana tanam mereka pada musim berikutnya.

 

Teknologi melakukan pengamatan atas semua perubahan iklim dan melakukan pengukuran atas perubahan sifat alam itu dan ilmu sosial yang memahami perilaku manusia menjadi jembatan atas penerapan teknologi ini. Berkat pendekatan sosial, petani di Lombok Timur kini telah memiliki teknologi pengukuran curah hujan pada lahan mereka sendiri dan punya keputusan jitu untuk merencanakan jenis tanaman yang akan mereka tanam pada musim berikut. Iklim boleh bergejolak tapi teknologi jangan sampai ditolak.
FullSizeRenderMahmur Marganti, Lombok 20 Juli 2016

 

Dari Canti berlabuh ke Anak Krakatau

Mahmur di Canti

Pagi itu, Jumat 28 Februari 2014 mungkin akan menjadi hari yang bersejarah bagi saya dan Welly Kurniawan, GM Inna 8 Lampung. Kami bisa berbangga karena kami termasuk sedikit orang yang pernah menginjakan kaki di Anak Krakatau.

Tepat pukul 07:00 kami beranjak dari Inna 8 Lampung jalan Hiu nomor 1, Bandar Lampung. Perjalanan dari Inna 8 Lampung menuju Bandar Canti di Lampung Selatan cukup mengasyikan, lintasan pegunungan yang berbaris di jalur trans Sumatra lengkap dengan aktivitas masyarakat sepanjang perjalanan membuat perjalan kami terasa dekat hingga akhirnya tiba di Dermaga Canti.

Minimnya informasi yang kami dapatkan sebelum menempuh perjalanan menuju Anak Krakatau membuat kami mengocek kantung cukup dalam. Rupanya perahu yang menuju objek desa wisata Sebesi dan singgah ke Anak Krakatau ini reguler adalah pemberangkatan setiap hari sabtu pukul 8 pagi. Trip dengan tujuan tersebut menginap semalam di Pulau Sebesi dan balik menuju Dermaga Canti hari minggu pukul 2 siang.

Ibarat genderang perang sudah ditabuh dan bendera perang sudah dikibarkan, tekat kami bulat menuju Anak Krakatau, akhirnya kami tetap memutuskan menuju Anak Krakatau dengan menyewa 1 buah perahu dengan 1 nahkoda dan 2 ABK yang khusus mengantarkan kami menuju Anak Krakatau. Mahal? ya tentu saja sebab perahu yang biasanya bermuatan 20-an orang kali ini hanya dimuati kami berdua. Tepat pukul 10:45 perahu yang mengantar kami lepas sandar di Dermaga Canti.

Perjalanan menuju Anak Krakatau dari Dermaga Canti memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan rata-rata kecepatan perahu 20-30 km/jam. Suhu siang itu menurut seorang ABK tidak lebih panas dibanding biasanya, walaupun menurut kami itu sudah cukup terik. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat memukau, gugusan pulau yang kita lalui sangat menarik, sesaat kami berpapasan dengan kapal muatan barang yang datang dari Pulau Sebesi, bukan hanya itu berbagai jenis ikan yang beterbangan diatas air laut pun acap kali kami temui.

Satu setengah jam setelah melewati Pulau Sebesit “kecurigaan” kami mulai timbul ketika kami melihat ada tiga gugusan pulau dimana di sisi kiri dan kanan kanan berbentuk segitiga 90 derajat dengan diujung sana sebuah gunung berdiri tegak. Rupanya kecurigaan kami salah, ketiga gugusan itu adalah Pulau Sertung, Rakata, dan Panjang menurut ABK yang kami minta untuk menjawab kecurigaan kami disela-sela pekerjaannya. Lalu dimana si Anak Krakatau yang kami cari.

he stand besides me

Di sisi kanan perahu kami sebenarnya ada satu pulau gersang tandus dengan pepohonan yang hanya terdapat pohon dibagian bawahnya. Pada bagian atas gunung tandus itu sesekali terlihat kepulan asap. Kami berdua melakukan tebakan ulang terhadap apa yang kami lihat setelah tebakan kami sebelumnya salah. “oh mungkin ini, karena masih aktif”. Tebakan kami terjawab oleh arah perahu yang membelok menuju pantai pasir hitam tanpa dermaga ini. Ya, ternyata gunung hitam tandus ini lah yang kami tuju. tepat pukul 14:05 akhirnya kami berdua menginjakan kaki di Anak Krakatau. Haru campur was-was berada di anak gunung yang lahir tahun 1927 dari Kaldera letusan 1883 silam.

me on Anak Krakatau

Kedatangan kami disambut oleh pa Syarif dan pa Nainggolan, petugas Penjaga Ekosistem Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung. Dengan senang hati kedua bapak ini menjawab semua keingintahuan kami tentang Anak Krakatau dan mengantarkan kami mendaki hingga ketinggian kurang lebih 250 meter DPL ini dari total tinggi Anak Krakatu 400 DPL.

Pa Syarif

Penjelasan pa Syarif tentang anak yang rata-rata setiap tahun menjulang 3 meter dari atas permukaan laut ini membuat kami sangat berkeinginan menuju puncaknya. Walaupun tidak mendaki sampai puncaknya kaena alsan bahaya, tapi pendakian setinggi kurang lebih 250 meter dengan medan curam dan pasir yang panas di siang hari ini sangat menyita tenaga dan emosi kami. Perjalanan terpaksa harus berkali-kali berhenti, bukan karena alasan untuk mengabadikan gambar pada setiap pemberhentian tapi kondisi fisik yang mulai letih jelang 3/4 perjalanan. Makin keatas tentu pamandangan makin indah.

me on Anak Krakatau

Barisan tiga pulau di depan mata berlatarkan air laut yang tenang kala itu ditambah burung-burung elang yang beterbangan membuat letih hilang saat menginjakan kaki pada batas ujung pendakian. Aktivitas foto, mulai foto pemandangan hingga selfie-pun kami lakukan, cuma sayangnya provider yang kami gunakan tidak menjangkau tempat ini dan sharing foto bagi jejaring sosial terpaksa urung.

Satu jam lebih pendakian menuju puncak Anak Krakatau, dan hari mulai sore, hingga akhirmya kami putuskan untuk segera pulang karena kami masih punya satu tujuan lagi di sekitar yaitu Pulau Sebesi.

Disana Rakata

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan akhirnya kami merasakan kehangatan pasir panas Anak Krakatau. Ada yang kami sesali hari itu yaitu ekspektasi kami terlalu besar dengan “tujuan wisata” kami hari itu. Kami tidak menyediakan sedikitpun bekal berupa makanan dalam perjalanan ini, dugaan kami di tempat ini terdapat cukup banyak warung atau tempat kami duduk menikmati minum dan makanan kecil, ouwwww, tidak sama sekali. Jangankan berharap ada warung, melihat tempat seperti ini dan masih ada saudara-saudara kita yang mau tinggal dengan melakukan fungsi kontrol bagi ekosistem wilayah sekitar pun rasanya kami patut bangga dengan prefesi mereka. Salam hormat kami haturkan bagi mereka sebelum kami meninggalkan pantai Anak Krakatau dengan pasir legam ini disertai dengan kondisi fisik yang sangat lelah dan perut keroncongan. (mahmur)

[artikel ini juga dimuat di Majalah Pleasure inroom magazine Hotel Inna Groups]

Gulita di Pulau Sebesi

gulita di pulau sebesi

Pulau Sebesi yang didiami oleh kurang lebih 4 ribu penduduk, berada kurang lebih satu jam sebelum tiba di Gunung Anak Krakatau dari Dermaga Canti. Butuh waktu kurang lebih 3 jan dari Dermaga Canti untuk tiba di pulau Sebesi. Pulau Sebesi adalah satu-satunya pulau yang berpenghuni yang terdekat dengan Krakatau.

Konon penduduk asli pulau ini sudah ngga ada, penduduk sekarang adalah para pendatang yang tiba dari Banten dan Cirebon pasca ledakan hebat Krakatau tahun 1883.

Sebagian besar mata pencarian penduduk pulau sepanjang 5 kilometer ini adalah bertani kelapa dan pisang utamanya. Mereka sangat mengandalkan kendaraan perahu diesel untuk lalu lintas angkutan orang dan barang menuju Sumatera melalui Dermaga Canti.

Keliling dengan menggunakan motor penduduk sekitar untuk tahu lebih banyak pulau ini cukup menarik. Konon katanya ada danau di atas gunung Sebesi tengah pulau ini, tapi gua ngga sempat sambangi karena makan waktu cukup lama dan jadual cukup padat hari itu. Selain ada danau, ada yang bilang di atas gunung Sebesi juga ada beberapa peninggalan barang-barang milik penduduk asli pulau ini yang ngga boleh dipindahkan, beberapa orangyang gua temui bilang ada kekuatan ghoib yang menjaga barang-barang tersebut untuk tetap di tempatnya.

‘Pusat Kota’ pulau ini ada di tepi dermaga. Ada warung untuk kita menikmati jajanan ringan dan nasi rames dengan lauk ikan laut yang biasanya selalu segar karena si empunya warung jarang stock ikan. Begitu ada calon pembeli datang, dia suruh anak atau suminya untuk menjala ikan itu. Seru yah! seru nunggunya bok! perut udah keroncongan padahal.

Terdapat beberapa penginapan eksotis di tepi pantai tapi…….listrik yang didukung oleh PLTD seluruh pulau ini hanya menyala mulai pukul 6 sore hingga pukul 11 malam, setelah jam 11 malam?……. obor mana oboooorrrrrrrrr!!!!

Untuk yang ngga bisa lepas dari gawai, kalau mau trip ke Krakatau dan (wajib) bermalam di Pulau Sebesi, mending bawa powerbank yang gede deh, kalau perlu bawa aki cadangan, di-gemblok ajah biar hape tetep hidup. Cara lain, jangan sia-siakan saat listrik hidup untuk charge seluruh perangkap elektronik termasuk powerbank untuk persediaan.

Tentang signal, kebetulan gua pakai Telkomsel, ya saat di Pulau Sebesi masih bisa lah baca-baca status FB temen-temen yang di rumah ajah tapi tetep status pada hari itu, siyan yah temen yang ngga jalan-jalan hahahaha. Tapi di Anak Krakatau, praktis signal ngga ada sama sekali, jadi pulang dari Anak Krakatau banyak status yang #latepost dah!

You Guys yang akan bermalam di Pulau Sebesi dan takut gelap, saran gua mending buru-buru tidur ajah deh sebelum jam 11 malam, lagian kalau ikut trip om Mahfudi Guide Krakatau jam 3 pagi udah harus siap-siap untuk tracking ke Anak Krakatau kan…. zzzzzz zzzzzzzz zzzzzz zzzzzzz zzzzzz zzzzz

Disini Anak Krakatau Disana Rakata

Disana RakataSisa digdaya letusan Gunung Krakatau tahun 1883 tampak jelas dimuka, Gunung Rakata. Sementara tempat saya berdiri, Anak Krakatau yang “lahir” tahun 1927 itu kini sudah setinggi 400 meter, itu berarti setiap tahun si bayi ini naik 3 meter dari permukaan laut. Sesekali tampak hembusan awan panas di kawah yang dibatasi oleh semacam laguna, tanda pendaki tidak boleh meneruskan perjalan menuju puncak. Berjalan di gunung yang hampir sepenuhnya pasir panas dan belerang ini rasanya seperti jalan di sisa bakaran api unggun, tandus, panas dan kering menyengat. cobalah!

Yang Tidak Usai di Singosari

Singhosari

Candi Singosari disebut masyarakat setempat sebagai Candi Cungkup, awalnya sempat dinamakan juga candi Renggo, Candi Menara,dan Candi Cella. Untuk sebutan yang terakhir karena candi ini memiliki celah sebanyak 4 buah di bagian tubuh candi. Hingga kini nama yang lebih dikenal adalah Candi Singosari karena letaknya di Singosari. Banyak yang menganggap bahwa Candi Singosari adalah makam Raja Kertanegara sebagai raja terakhir Singosari. Akan tetapi pendapat ini diragukan banyak ahli, lebih dimungkinkan Candi Singosari merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa karena sistem mandala yang berkonsep candi Hindu dan sekaligus sebagai media pengubah dari air biasa menjadi air suci (amerta).

Candi Singosari awalnya disebut dalam sebuah laporan kepurbakalaan tahun 1803 oleh Nicolaus  Engelhard, seorang Gubernur PantaiTimur Laut Jawa. Ia melaporkan tentangreruntuhan candi di daerah dataran tandus diMalang. Tahun 1901 Komisi Arkeologi Belandamelakukan penelitian ulang dan penggalian. Berikutnya 1934 Departemen Survey Arkeologi Hindia Belanda Timur merestorasi bangunanini hingga selesainya tahun 1937. Anda dapatmelihat goresan tanda penyelesaian pemugaranini pada batu kaki candi di sudut barat daya.Saat ini banyak arca-arca dari reruntuhan Candi Singosari disimpan di Museum Leiden Belanda.Ada informasi yang mencukupi dapat diketahuitentang Singosari dari teks Jawa kuno abad ke-14 yaitu “Pararaton” atau kitab raja. Candi Singosariyang dibangun tahun 1304 ini umumnya dihiasi dari bawah hingga atasnya.

Hiasan tidak seluruhnya terselesaikan sehingga ada dugaan candi ini dalam proses pembangunan yang belum selesai kemudian ditinggalkan. Dimungkinkan akibat adanya peperangan yaitu serangan Kerajaan Gelang-Gelang pimpinan Jayakatwang tahun 1292 hingga menghancurkan Kerajaan Singosari, sering disebut juga masa kehancuran Singosari atau pralaya.

Kerajaan Singosari didirikan tahun 1222 oleh seorang rakyat biasa bernama Ken Arok, yang berhasil menikahi putri cantik Ken Dedes dari Janggala setelah membunuh suaminya. Ken Arok kemudian menyerang Kediri dan berhasil menyatukan dua wilayah terbelah yang pernah dipisahkan oleh Raja Airlangga tahun 1049 sebagai warisan untuk kedua putranya. Singosari kemudian berhasil mengembangkan pertanian yang subur di sepanjang aliran sungai Brantas, serta perdagangan laut yang menguntungkan di sepanjang Laut Jawa.

Pada 1275 dan1291 Raja Singosari yaitu Kertanegara menyerang kerajaan maritim Sriwijaya di Sumatera Selatan dan kemudian mengontrol perdagangan laut di laut Jawa dan Sumatera. Dalam masa kejayaannya, Singosari begitu kuat, bahkan Kaisar Mongol Kubilai Khan yang perkasa menganggap penting mengirim armada dan utusan khusus ke kerajaan Singosari untuk menuntut Raja Kertanegara secara pribadi untuk memberikan loyalitas kepadaMongol. Sebagai jawabannya, ternyata Raja Kertanegara memotong telinga salah satu utusan tersebut sebagai pesan kepada Kubilai Khan bahwa Singosari tidak akan tunduk.

Kertanegara dibunuh oleh salah seorang raja bawahannya yaitu Jayakatwang tahun 1293. Ketika armada perang dikirim oleh Kubilai Khan tiba di Jawa, mereka tidak mengetahui bahwa rupanya Raja Kertanegara sudah tiada. Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, berhasil membujuk armada Kublai Khan untuk membunuh Jayakatwang, trik ini berhasil dan RadenWijaya berbalik mengusir armada Mongol dari Jawa setelah dimanfaatkan untuk membunuh Jayakatwang. Raden Wijaya selanjutnya mendirikan kerajaanMajapahit tahun 1294 di utara Singosari yaitudi Porong. Maka berlangsunglah sebuah masa keemasan bagi sebuah kerajaan bernama Majapahit yang kekuasaannya mencakup Indonesia saat ini dan bahkan hingga ke Malaysia dan Thailand.

DSC_0174

Tidak banyak sisa-sisa Kerajaan Singosari yang pernah berkuasa abad 13 di Jawa Timur. Hanya ada sebuah candi yang belum selesai dibangun dan dua patung raksasa yang berdiri menjaga di depan istana sebagai jejak yang tersisa dari salah satu kerajaan besar di Nusantara ini.