Situs Muaro Jambi, Kampus Budha yang Telantar di Jambi

Pergilah ke Muaro Jambi di Sumatera, kau akan menemukan puluhan candi peninggalan Budha yang terbengkalai. Ada 8 candi yang sudah digali dari dalam tanah namun masih puluhan yang terkubur.

_MG_5743
Menapo atau lokasi candi di dalam tanah yang masih dalam proses penggalian. 

Tentu bukan cuma candi yang bakal kau temui di lahan seluas 3.981 hektar itu. Sisa kehidupan yang pernah menempel di tanah itu sebagian masih terlihat wujudnya. Kanal-kanal kuno yang dibuat untuk transportasi dan mobilisasi bahan bangunan candi yang terhubung oleh Sungai Batang Hari adalah bukti yang mereka tinggalkan.

Penghuni Kuno

Salah seorang penjaga candi yang saya temui ketika mengunjungi komplek bangunan candi itu, Februari 2018 lalu, menukil bahwa lingkungan seluas itu digunakan untuk menuntut ilmu agama Budha, bukan hanya oleh orang Indonesia. Beberapa murid dari India, Tibet, Cina, dan beberapa penganut Budha lain di Asia juga belajar disini, hal ini dibuktikan oleh mata uang dan beberapa cindera mata yang ditemukan.

_MG_5660

Siapa yang membangun dan siapa yang mengelola komplek seluas itu? pak Herman  seorang petugas komplek candi menjelaskan dari cerita yang dia dengar turun temurun, dulunya komplek itu dijadikan tempat menuntut ilmu agama Budha dari berbagai negara, mereka yang datang tidak hanya mempelajari ilmu agama akan tetapi mereka juga ikut membangun tempat ini.

Hal itu terbukti dari kanal-kanal yang sengaja dibuat untuk memudahkan distribusi beberapa arca dan bebatuan yang dikirim dari Kamboja dan bangsa-bangsa sekitar yang ingin ikut membangun komplek candi, sebagaian besar murid itu lama di komplek candi ini.

_MG_5753
Salah satu kanal kuno yang dijadikan penduduk setempat untuk mencari ikan

Saat mendengar pak Herman  asik bercerita, saya membayangkan kehidupan di abad 7 ketika komplek ini aktif digunakan. pak Herman  kembali menceritakan tentang menapo atau gundukan tanah yang masih terdapat candi didalamnya.

Kenapa Ditinggalkan

Membayangkan ramainya kehidupan di komplek candi dan bangunan candi yang terbentang pada area seluas 8 kali komplek Candi Borobudur itu ditinggalkan begitu saja, saya gatal sekali untuk bertanya kepada pak Herman  kenapa mereka begitu saja meninggalkan komplek candi.

Banjir bandang yang sangat besar jelang abad 12 meninggalkan dampak penyakit kolera yang hebat ketika itu. Menurut keterangan pak Herman, beberapa murid dan guru yang ada disini tidak tertolong lagi meninggal di tempat ini, namun beberapa yang belum terkena dampak endemi itu malarikan diri, mungkin mereka balik ke tempat asalnya.

Semua yang pernah mereka bawa, termasuk cindera mata baik yang terbuat dari bebatuan dan emas mereka tinggalkan disini. Peninggalan itu masih tersimpan baik di Museum Jambi, beberapa replika ada di Rumah Penyimpanan di Muaro Jambi.

This slideshow requires JavaScript.

Komplek candi yang telah mereka bangun dan tempat mereka hidup selama kurang lebih 500 tahun mereka tinggalkan begitu saja hingga alam melalui mekanismenya melindungi peninggalan ini. Melalui tanah, dedaunan, dan pohon-pohon besar termasuk pohon-pohon duku ikut mengubur komplek ini selama ratusan tahun.

Penemuan  

Orang Eropa pertama yang mendeskripsikan Muaro Jambi adalah surveyor Inggris, Kapten SC Crooke, yang mengunjungi daerah itu pada tahun 1820. Dia mencatat secara sepintas bahwa tidak ada (arca) yang ditemukan kecuali sosok kecil yang termutilasi dari (patung) gajah, dan kepala berukuran penuh terbuat dari batu, memiliki rambut keriting. (Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia oleh Natasha Reichle, Bab 3 halaman 64)

Sumber lain menyebutkan, demi kepentingan pertahanan militer, pemerintah Inggris mengutus seorang letnan SC. Crooke untuk menelusuri Sungai Batanghari di Sumatera. Saya tidak menemukan literatur yang menyebutkan hasil dari pemetaan ini kecuali penemuan serpihan-serpihan batu bata merah masiv di pada kanal-kanal sungai Batanghari oleh S.C. Crooke tahun 1820.  

Penggalian oleh pemerintah Indonesia baru dilakukan pada tahun 1975. Arca yang ditemukan tidak hanya berasal dari beberapa wilayah luar Indonesia, beberapa arca yang terdapat di Situs Muaro Jambi juga dikirim dari Singosari  dan Thailand (Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia oleh Natasha Reichle, Bab 3 halaman 67).

Terdapat banyak sekali sisa-sisa reruntuhan Situs Muaro Jambi, baik yang masih tersimpan di rumah penyimpanan di Muaro Jambi dalam bentuk replika maupun arca asli yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta dan Museum Jambi. Beberapa arca itu sering dipamerkan di negara-negara Eropa.

Apa yang menjadi temuan SC. Crooke tahun 1820 itu adalah cikal bakal terkuaknya sebuah peradaban yang berlangsung lama di Muaro Jambi. Sayangnya anggapan pak Herman  bahwa orang-orang yang dulu menetap di Situs Percandian Muaro Jambi ngga punya bukti kuat kalau mereka meninggalkan komplek itu kerena banjir dan endemi kolera. Saat saya tanya apakah pernah ditemukan tulang manusia sebagai bukti bahwa pernah ada sekelompok orang yang mati di tempat itu? menurutnya belum pernah ditemukan.

Kenapa ditelantarkan?

_MG_5773
Candi Gumpung, menurut petugas setempat bila tanah pada area itu digali lagi sekitar 6 meter, baru bisa ditemukan dasar candi, jadi mereka belum menggali sampai titik terbawah kehidupan orang-orang pada waktu itu, dengan dalih tidak ada area untuk membuang tanah galian.

7 jam berada di area komplek percandian, banyak sekali pertanyaan yang ingin saya tanyakan, entah kepada siapa. Bila saja sisa bangunan megah dengan peralatan yang ditinggalkan begitu saja ini ada yang mau meneliti dengan seksama, tentulah benang merah sisa kerajaan Sriwijaya yang terhubung dengan Kerajaan Melayu dan campur tangan Singosari dan pengaruh agama Budha yang dibawa dari India seharusnya bisa tersibak apik.

Katanya dari tahun 2009 area ini diajukan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu situs peninggalan dunia. Sudah hampir 9 tahun hingga hari kini, pengajuan tersebut tidak digubris oleh dewan terhormat bangsa-bangsa untuk pendidikan, keilmuan dan kebudayaan itu.

Pedagang K-5

Pangkal dari tidak disetujuinya pengajuan itu bukan perkara nilai sejarah dari peninggalan kampus tua Budha terbesar se-Asia itu, saya mengira ada ketidakbecusan lembaga pemerintah daerah dalam melakukan penelitian, penggalian dan perawatan sebagian besar peninggalan yang jelas-jelas sarat dengan sejarah itu.

_MG_5836
Semestinya foto stupa ini lebih keren kalau tidak tampak gemerlap warna warni merah hijau itu.

Tentu bukan perihal prinsip diatas saja yang menurut saya kenapa UNESCO masih menunda penyematan penghargaan dunia bagi Candi Muaro Jambi, lingkungan komplek percandian yang sebagian terbilang kotor dan kumuh juga menambah ponten merah oleh lembaga dunia itu, belum lagi para pedagang K-5 yang bebas menggelar dagangannya hingga ke dalam komplek candi bikin suasana sangat tidak nyaman.

Alih-alih memberdayakan penduduk setempat untuk memberi peluang usaha dengan berjualan makanan, minuman dan mainan yang mereka lakukan, menurut saya sangat tidak sesuai di tempat bersejarah yang bernilai sangat tinggi, tentu bukan cuma untuk umat Budha, tapi bagi bangsa Indonesia.  

Gubuk temporer yang menggunakan bambu dan triplek beratap terpal warna warni spanduk bekas, yang sebagian bekas kampanye politik lebih menarik perhatian pengunjung ketika mendatangi Candi Gumpung dan Candi Kembar yang terletak tidak jauh dari rumah yang menyimpan replika arca.

Tak sampai disitu, ketika saya datang, persis di sebelah candi Gumpung ada arena bermain anak-anak macam pasar malam yang ada di pasar kaget tradisional. Bagi saya ini bukan hanya tidak tepat, tapi sangat memalukan. Bukan begini seharusnya cara mengundang orang untuk datang mengunjungi situs sejarah!

Candi Koto Mahligai

Dari  8 candi yang telah digali, Candi Astono, Candi Tinggi, Candi Tinggi Satu, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, Candi Gedong Satu, Gedong dua, dan Candi Kedaton, semua saya sambangi dengan menggunakan sepeda sewaan.

Penelusuran area percandian berakhir di pos jaga yang berdekatan dengan musholla. Bersyukur sekali hari itu saya bertemu dengan salah seorang petugas situs, Sulaiman, yang mau memberikan beberapa keterangan tentang situs ini dan yang paling berkesan adalah tawaran Sulaiman untuk mengunjungi Candi Koto Mahligai.

IMG_2673
Petunjuk candi Mahligai dari pinggir jalan

Sejak tiba di area ini pukul 9 pagi, dan sudah berkeliling kiloan meter dengan sepeda saya tidak bertemu dengan Candi Koto Mahligai, saya kira dia asal menyebut. Ternyata tidak, candi yang lokasinya jauh dari pos penjagaan dan harus ditempuh dengan motor bukan berbentuk candi seperti 8 candi lain.

_MG_5843
Hutan tempat mengubur Candi Koto Mahligai

Candi Koto Mahligai adalah sebutan untuk gundukan tanah berbalut pohon-pohon tua di tengah hutan rimba jauh dari pusat percandian yang telah dilakukan pemugaran. Akses menuju tempat ini juga terbilang sulit, dulunya ada jembatan diatas kanal kuno yang menghubungkan area ini dengan area percandian utama, namun jembatan itu rusak dan saya melihat tidak ada usaha perbaikan jembatan.

_MG_5857
Menurut Sulaiman, dibawah gundukan ini lah Candi Koto Mahligai bersemayam.

Menurut keterangan Sulaiman, candi yang masih tertanam pada area ini sengaja tidak digali untuk menunjukkan kondisi asli saat komplek percandian masih terkubur oleh tanah dan pohon-pohon tua yang lebat. Jangan lupa bawa losion anti nyamuk bila mengunjungi area ini, nyamuk yang tinggal disini ngga kira-kira gedenya, gigitannya juga sakit.

IMG_2721
Pohon-pohon besar dan tua ini yang hidup diatas Candi Koto Mahligai.

Sebelum meninggalkan Candi Koto Mahligai, jangan lupa mampir ke “Rest Area” lokasinya berseberangan dengan area Candi Koto Mahligai. Beberapa anak muda disana menyulap area hutan itu menjadi tempat yang asik untuk camping atau sekedar menikmati aliran air pada kanal kuno yang masih terawat sembari menyapa penduduk setempat yang mencari ikan pakai perahu. Beberapa anak muda disana menyebut seluruh area percandian dengan sebutan “Lost City”, Kota yang Hilang. 

IMG_2653
Santai sebentar menahan lapar di rest area Lost City

Kamu yang mau menikmati wisata area “Rest Area”, mereka menyediakan paket wisata menarik. Hubungi aja +62 853-8478-4382 dengan Roni, dia senang sekali menjelaskan paket-paket yang terdiri dari jungle tracking, story telling, heamock, berperahu, show budaya, outbond activity dan banyak lagi ide dari anak-anak kreatif ini.

(8 foto diatas milik Roni, pengelola rest area Lost city dan sudah atas seijinnya) 

Tempoyak

Hari sudah hampir malam, perut juga sudah mulai teriak kelaparan. Sulaiman adalah sahabat perjalanan yang paling ngerti bagaimana cara membayar utang perut yang seharian ini kelaparan.

Rumah Makan Lesehan Nayla Khaidir menurutnya adalah destinasi yang paling tepat di sore itu. Rumah makan yang terletak di Jl. Lintas Timur Dusun Parit RT. 03 Desa Baru Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi menyediakan makanan khas Jambi yang paling asli, Tempoyak.

IMG_2688

Tempoyak adalah makanan yang berasal dari fermentasi duren, kuahnya nikmat bukan kepalang. Pak Khaidir, si empunya warung bilang kalau Tempoyak di warungnya ini Tempoyak yang paling asli. Dia berani bilang kalau rasa Tempoyaknya ini tak kalah dibandingkan dengan Tempoyak di tempat lain. Warung yang berada di pinggir jalan ini memang ramai dikunjungi pembeli.

IMG_2699
Ini dia si pembuat Tempoyak asli yang paling enak, Pak Khaidir dan putrinya, Nayla

Sayangnya sore itu saya kehabisan ikan patin yang menjadi isi dari kuah Tempoyak pa Khaidir, tapi beruntung masih bisa menikmati kuah yang rasanya bener-bener sampai ke hati. Kamu yang berniat ke Situs Muaro Jambi, rumah makan ini adalah pilihan wajib untuk dikunjungi.

Menuju Ke Muaro Jambi

Semenjak Jembatan Batanghari II dibangun, menuju ke area Percandian Situs Muaro Jambi sangat mudah, dari Bandara Sultan Thaha, tinggal pesan Grab, ngga sampai Rp. 100.000 sudah sampai. Perjalanan juga terbilang enak, kerena kondisi jalan sudah rapih dan halus.

IMG_2345
Penyewaan sepeda, tersedia begitu turun Grab Car

Untuk berkeliling area candi juga mudah. Penyewaan sepeda tersedia begitu turun dari Grab Car. Semua serba mudah, semua serba gampang, mungkin yang sulit adalah hasrat kita untuk datang ke tempat berharga yang menunjukkan betapa hebat bangsa ini membangun peradabannya.

Peradaban yang mereka bangun semestinya bikin bangsa ini bersatu dan semakin kuat, bukan mengganti dengan peradaban baru yang memecah belah. Masih banyak sekali yang harus digali, bukan hanya tanah yang mengubur seluruh candi, tapi menggali apa yang nenek moyang tinggalkan di Situs Muaro Jambi untuk keselarasan hidup.

Bagi saya, Situs Purbakala Muaro Jambi adalah teka-teki yang menyimpan kesedihan.

_MG_5734_MG_5724_MG_5708_MG_5707_MG_5691_MG_5685_MG_5668IMG_2407IMG_2408

_MG_5832

 

Advertisements

Begini Rute Menikmati Pura Di Bali

Cari kata BALI untuk images di Google yang tampil gambar Pura dengan berbagai keindahan dan keteduhan lingkungan yang mengelilinginya. Ngga penasaran mau datangi Pura cantik nan teduh itu? Yuk telusuri beberapa Pura itu sembari cari tahu filosofi didirikannya setiap pura yang kita sambangi, begini rutenya! 

Pura Besakih

Rute pertama jatuh pada Pura Besakih, kenapa? Sebab Pura Besakih diyakini sebagai tempat pertama para leluhur Bali yang pindah dari Gunung Raung di Jawa Timur. Ada cerita menarik kenapa akhirnya leluhur Bali mendirikan Pura di tempat ini.

Begitu semangatnya mereka membersihkan lahan baru ini, hingga melupakan rasa syukur pada alam semesta, hingga suatu waktu alam menegur dengan bencana sakit dan banyak orang yang dimakan oleh bintang buas, hingga suatu waktu seorang pertapa mengigatkan untuk mengerjakan upacara yadnya atau dalam istilah Bali dikenal dengan nama bebanten atau sesaji bagi Sang Hyang Widhi Wasa. Nah, di tempat mula persembahyangan untuk menebas hutan di Bali ini leluhur menanam kendi atau payuk berisi air, beserta Pancadatu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten/sesajen) yang diperciki oleh Pangentas (air suci). Tempat aktivitas diletakkannya sesajen itu diberi nama Pura Basuki yang hingga kini dikenal dengan nama Pura Besakih. Setelah berdirinya Pura Besakih, aktivitas pembersihan diteruskan tanpa meninggalkan rasa syukur mereka bagi Sang Hyang Widhi Wasa.

besakih
Terbayang kan keteduhan Pura Besakih ini (suartur.com)

Pura Ulun Danu Bratan

Terbilang tidak jauh dari Pura Besakih, perjalanan menelusuri Pura di Bali lanjut ke Pura Ulun Danu Bratan. Salah satu daya pikat pura ini adalah letaknya di tengah danau diantara pegunungan sejuk. Ngga afdol deh ke Bali kalau belum lihat langsung pura yang tambah terkenal berkat ada di uang pecahan Indonesia Rp. 50.000 ini.

pura-ulun-danu-bratan
Seolah dikelilingi danau, Pura ini begitu indah untuk difoto setiap saat (accessibleindonesia)

Pura Ulun Danu Beratan berada di Desa Bedugul, Bedugul terkenal dengan udara yang sejuk berkat ketinggian 1.293 meter diatas permukaan laut. Pura Ulun Danu Beratan adalah pura yang ditujukan untuk pemujaan Dewi Danu sebagai simbol pemberi kesuburan dan kemakmuran untuk penduduk Desa Bedugul.

Pura Tanah Lot

Sebelum menikmati indahnya Pura Tanah Lot, yuk kita kepo-in dulu ada apa sih sampai disebut Pura Tanah Lot. Pada zaman dahulu kala…., cie mau membagi kisah nih. Jadi dahulu kala itu penduduk Bali terutama penduduk Desa Beraban percaya pada satu orang pemimpin yang dianggap sebagai utusan Tuhan. Suatu waktu datanglah seorang punggawa dari tanah Jawa, tepatnya dari Kerajaan Majapahit yang ingin menyebarkan agama Hindu menuju Lombok. Punggawa bernama Dang Hyang Dwijendera sebelum tiba di Mataram berhenti melakukan meditasi di Desa Beraban karena melihat cahaya yang keluar dari batu berbentuk burung beo dengan mata air di dalamnya.

Berkat kharisma dan ajaran yang dibawa, banyak penganut monotheisme lokal yang mulai mengikuti ajaran Dang Hyang Dwijendera. Pimpinan penganut monotheisme desa Beraban marah dan mengusir Dang Hyang Dwijendera. Dengan kesaktiannya Dang Hyang Dwijendera berhasil menggeser tempat pertapaan yang semula menyatu dengan tanah itu ke tengah laut. Maka jadi lah tanah dengan bangunan pura itu disebut Tanah Lot atau tanah di tengah laut, itu kenapa sekarang kita lihat Tanah Lot seperti terhempas ke laut, mungkin dahulu Pura itu berada didaratan Beraban.

sunset-tanah-lot-bali
Terpisah dari daratan bikin Pura di Tanah Lot ini semakin menarik 

 

Pura Puncak Mundi, Nusa Penida

Buat yang belum pernah menginjakkan kaki ke Nusa Penida, ini saatnya untuk menyambangi pulau nyentrik yang pernah jadi tempat pembuangan Soekarno itu. Dari penyeberangan Sanur kurang lebih 30 menit dengan boat ke Nusa Penida. Pura yang akan dituju adalah Pura Puncak Mundi.

Kisah para Dewa turun ke bumi menjelma jadi manusia diceritakan pada asal muasal Pura Puncak Mundi. Diyakini hal itu terjadi pada tahun saka 50 ketika Batara Siwa turun ke dunia menjelma jadi manusia di sekitar Puncak Bukit Mundi  yang merupakan dataran tertinggi di Nusa Penida. Ketika itu Batara Siwa menjelma jadi seorang pendeta besar yang sakti, bernama Dukuh Jumpungan.

Seperti keyakinan Hindu umumnya jika salah satu dewa turun ke bumi tentu berpasangan, nah! pasangan Dukuh Jumpungan adalah Dewi Uma, yang juga seorang Dewi yang menjelma jadi wanita jelita.  

Tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Kisah ini lah yang jadi muasal cerita berkembang biaknya penduduk di Pulau Nusa Penida, bukan hanya penduduk yang terus bertambah, sejak pura pertama di Nusa Penida itu, kini sudah terdapat banyak pura di Nusa Penida. Jadi ngga salah you guys begitu tiba di dermaga Nusa Penida kudu ke pura ini terlebih dahulu sebelum menyambangi pura lain di Nusa Penida.

Jangan lupa untuk berpakaian sopan dan menyapa dengan ramah petugas penjaga Pura sebelum masuk, dan tolong jangan buang sampahmu sembarangan yaaa

dalem-puncak-mundi
Keteduhan yang luar biasa bisa berada di Pura ini, harus coba guys! 

 

Iklim Bergejolak, Teknologi Jangan Ditolak

Manusia yang hidup ribuan tahun lalu tidak pernah mengira bahwa kelak, keturunan mereka akan mengalami masalah dengan perubahan iklim. Nenek moyang petani merasakan hal yang sama dari ratusan tahun ke ratusan tahun berikutnya. Tidak ada yang berubah dan tidak ada yang dikhawatirkan tentang perubahan iklim, yang mereka takutkan di lahan pertanian hanyalah hama yang hampir selalu berhasil ditebas setiap kedatangannya.

 

Kondisi alam yang selalu sama pada setiap periode tanam menghasilkan akumulasi preseden hingga lahir kebudayaan bercocok tanam yang nampaknya akurat dengan variabel iklim yang relatif sama, nenek moyang mewarisi kebiasaan yang bernama kebudayaan itu hingga kini. Tidak ada hal baru dan tidak ada cara baru hingga ledakan jumlah penduduk terus terjadi.

 

Sayangnya planet bumi yang kecil di belantika antariksa ini tidak pernah membesar untuk menyediakan lahan yang cukup bagi penduduknya yang terus bertambah. Dngan keanekaragam penduduk yang semakin banyak,  bumi mulai kewalahan dengan perilaku manusia dalam memproduksi sampah ke lapisan terluarnya. Bumi makin berat dengan beban tanggungan dan ancaman dari dalam bumi sendiri. Penduduk yang dahulu tidak terlampau pintar menghasilkan racun telah berganti dengan penduduk pintar yang pandai menghasilkan racun seperti karbon dioksida dan zat sejenisnya.

 

Awal abad ini manusia diingatkan bumi atas segala perbuatan yang mengacuhkan batas kemampuan bumi terhadap racun yang mereka hasilkan. Proses pemanasan permukaan benda langit karena komposisi dan keadaan lapisan terluar yang menyebabkan peningkatan konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) pada lapisan terluar bumi ini telah dipelajari oleh seorang fisikawan Perancis. Pada tahun 1824 Jean Baptiste Joseph Fourier mengemukakan teori dengan istilah yang hingga saat ini masih terdengar keren yaitu Efek Rumah Kaca.

 

Istilah efek rumah kaca memang terdengar keren, tapi dibalik istilah ini tersimpan banyak sekali dampak buruk bagi 8 miliar penduduk bumi. Pemanasan global akibat efek rumah kaca ini sungguh berdampak besar pada berbagai sisi kehidupan, dan pertanian lah salah satu yang banyak menerima dampak ini. Semua pola dan kebudayaan yang pernah diwariskan oleh nenek moyang kini hampir tidak bisa lagi menebas dampak pemanasan global.

 

Naiknya suhu permukaan bumi menyebabkan terjadinya kekacauan pola musim. Cuaca yang tidak menentu membuat petani sulit memperkirakan waktu mengelola lahan dan memanen. Akibat perubahan iklim ini juga fenomena musim hujan cenderung lebih pendek. Di sisi lain, musim kemarau yang lebih panjang telah meningkatkan berbagai bencana bagi sektor pertanian.

 

Di Lombok Timur, nenek moyang mereka pernah menciptakan sebuah pola tanam yang dibangun berdasarkan hitungan hari baik, mereka menyebutnya Wariga. Budaya Wariga berkeyakinan benda-benda alam seperti matahari, bulan, bintang, dan benda benda angkasa lainnya mempunyai pengaruh dalam kehidupan dan ikut menentukan kehidupan sehari-hari, termasuk pertanian. Wariga yang mereka terapkan mengabaikan apa yang oleh Jean Baptiste Joseph Fourier perhitungkan. Wariga menghitung berdasarkan konstelasi statis bulan, bintang dan matahari di luar atmosfir tanpa memperhatikan kondisi di dalam atmosfir yang sudah banyak berubah akibat efek rumah kaca. Selama ratusan tahun tata cara tanam yang digunakan oleh orang Sasak di Lombok Timur ini hampir tidak ada masalah.

FullSizeRender (1)
Teknologi sederhana pengukur curah hujan

Kondisi perubahan curah hujan yang berdampak pada perubahan pola tanam dan tentu terhadap penghasilan petani karena gagal panen yang kerap terjadi menyita perhatian seorang ahli dari Universitas Wageningen Belanda, Professor Emeritus Kees Stigter. Ahli tanaman yang menggeluti bidang ilmu microclimate ini menghitung secara detail pengaruh kondisi cuaca pada setiap lahan pertanian. Metodologi ilmiah yang dilakukan Prof. Kees pada pertanian di Lombok Timur memadukan kondisi tanah dengan curah hujan yang semakin random.

 

Sayangya teknologi pertanian yang disampaikan oleh Prof. Kees tidak begitu saja diterima oleh penduduk yang selama ini mengagungkan kebiasaan lama dengan dalih tidak ingin melawan budaya nenek moyang. Ilmu pengetahuan hasil olah pikir dan dilakukan berdasarkan metodologi ilmiah ini dianggap sebagai mercusuar yang sulit digapai oleh para pelaku pertanian. Teknologi dianggap momok yang sulit diterapkan dengan terminologi barat yang jauh dari istilah sehari-hari petani. Satu sisi petani di Lombok Timur mengalami masa sulit kerena perubahan iklim dan penerapan budaya bercocok tanam yang jauh dari hasil memuskan di sisi lain mereka menganggap teknologi sebagai sebuah mercusuar tinggi yang sulit untuk diterjemahkan. Dibutuhkan sebuah pendekatan komprehensif untuk merendahkan tingginya mercusuar teknologi bagi para petani yang semakin terpuruk dengan kondisi perubahan iklim.

 

Sebuah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dan tata cara kehidupan serta proses perjalanan manusia, dirasakan mampu melakukan mediasi dalam penerapan teknologi pertanian bagi masyarakat Lombok Timur. Sebuah metode penelitian observasi partisipasi yang telah ditelaah dan dijalankan oleh Prof. Dra. M.A Yunita Triwardani Winarto, M.S, M.Sc.,Ph.D., seorang ahli Antropologi Universitas Indonesia telah mampu menjembatani penerapan teknologi pertanian dalam mengantisipasi perubahan iklim terhadap pola perilaku masyarakat Lombok Timur yang kini masih terus dijalankan melalui beberapa kelompok tani.

IMG_0240
Bersama Prof Yunita di Perkampungan Lombok Timur

Pendekatan antropologi yang dilakukan secara terus menerus banyak memberikan dampak positif bagi petani di Lombok Timur. Teknologi yang selama ini dianggap sebagai momok kini mulai didampingi. Apa yang telah dilakukan oleh tim Antropologi UI yang diketuai oleh Prof Yunita T. Winarto dan berkat dukungan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) petani lombok kini telah menerapkan teknologi pengukuran curah hujan pada lahan mereka masing-masing untuk bisa menentukan rencana tanam mereka pada musim berikutnya.

 

Teknologi melakukan pengamatan atas semua perubahan iklim dan melakukan pengukuran atas perubahan sifat alam itu dan ilmu sosial yang memahami perilaku manusia menjadi jembatan atas penerapan teknologi ini. Berkat pendekatan sosial, petani di Lombok Timur kini telah memiliki teknologi pengukuran curah hujan pada lahan mereka sendiri dan punya keputusan jitu untuk merencanakan jenis tanaman yang akan mereka tanam pada musim berikut. Iklim boleh bergejolak tapi teknologi jangan sampai ditolak.
FullSizeRenderMahmur Marganti, Lombok 20 Juli 2016