Obatnya, Ada di Solorempah

“Mba Ren, seharian iki badanku meriang, perutku juga berasa kembunge’ ngombe apo yo?” keluhan akrab ini bukan terjadi di toko obat, apotek atau bahkan dokter yang biasa mengobati orang sakit di puskesmas. Mba Reni yang ada dibalik partisi sigap menyambung keluhan ini “mungkin, sampeyan masuk angin mas, sek’ aku buatkan wedang jahe yo”

Si penanya lalu manggut tanda mengamini usulan mba Reni, lalu mereka terlibat kelakar ringan seputar penyakit dan khasiat rempah yang banyak Tuhan limpahkan di negeri ini. Suasana menjadi senyap sejenak karena Reni mulai mengerjakan pesanan untuk pelanggannya dari balik dapur yang sudah terdapat beraneka ragam rempah di malam yang dingin itu di Solo.

_edited_2_MG_4111

Rempah ngga bisa dipisahkan dari kejayaan Indonesia masa lampau, walaupun masyarakat dunia lebih mengenal jalur sutera, sesungguhnya jalur rempah banyak memberi kontribusi bagi peradaban masyarakat dunia, dan kita bangsa Indonesia jadi bagian penting atas sejarah rempah yang banyak mengubah peradaban itu.

_edited_MG_4124

Sebetulnya jauh sebelum masehi rempah sudah jadi komoditas penting dunia, rempah sudah diperdagangkan berabad lamanya sebelum masehi. Perdagangan ini menempuh Asia Selatan hingga Timur tengah dan Eropa, dilakukan oleh pedagang Arab dan Cina. Di masa itu rempah miliki peranan penting bagi kehidupan, mulai dari urusan citarasa masakan, menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, hingga bahan utama untuk mengawetkan mayat.

_MG_4100

Bukan tanpa alasan kalau malam itu Reni, yang sudah tahu banyak khasiat rempat menyodorkan wedang jahe ke pelanggannya yang mengeluh akibat masuk angin. Tentu bukan cuma pelanggan itu yang berkeluh kesah ke Mba Reni atas atas kebugaran yang mulai menurun. Tiga jam nongkrong di cafe Solorempah (IG: @solorempah), di Jl. Lumban Tobing, Setabelan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah (https://g.co/kgs/BkSfJv)  rasanya masih belum cukup menikmati hangatnya wedang dan berbagai jajanan lawas yang tersedia sembari ditemani sajian musik yang dimainkan beberapa orang yang ada di sisi luar cafe ini yang sengaja latihan menyambut reriaan yang bakal di gelar Malam Tahun Baru 2018 disini.

_MG_4115

_MG_4107Gimana mau ngga betah, selain musik hidup yang bermain tiada henti, di dalam cafe Solorempah ini rupanya juga ada pernak-pernik unik yang dibikin dari material recycled. Ngga cuma bisa dinikmati selagi kita ada di dalam cafe Solorempah, barang-barang itu bisa kita miliki alias dijual dengan harga yang pas untuk kantong anak muda.

_MG_4127

Pencipta barang-barang unik itu namanya Angga (IG: @oemahgondangart) dia pengembara dunia seni yang ngga dapat setuju dari orang tua atas pilihan hidupnya. Sarjana IPB jurusan Nutrisi Ternak ini pernah bekerja di institusi pemetaan, tapi ngga betah. Dia punya cara sendiri untuk dikeluarkan dari kantor tempat dia bekerja dengan cara mentato tangannya. Perkara tato inilah yang ‘menolong’ dia. Perusahaan tempat dia bekerja akhirnya mengeluarkan dia dan Angga berhasil menjadi manusia bebas seutuhnya (Lol).

WhatsApp Image 2017-12-30 at 12.03.07 AM

Bukan cerita film belaka, kenapa? Setelah menentukan pilihan hidup menjadi orang seni dan tentu atas tekad, kreatifitas dan kegigihannya itu, Angga dan team yang ada di Solorempah pernah mendapat anugerah Inacraft Award 2017 Kategori Best Prize In Category Wood, keren kan. Malam itu istri gua yang ikut bersama menikmati wedang di Solorempah menghabiskan banyak sekali waktunya untuk ngobrol bareng Angga di ruang kerjanya, sementara gua? Gua asik ngobrol sama mba Reni sesekali ambil foto dan video.

_MG_4142

Dari hasil cerita istri gua dengan Angga malam itu, katanya Angga juga pernah diundang ke Nepal untuk urusan kerajinan kayu dan material recycled. Kalau bukan malam libur panjang begini, di Solorempah kita bisa ngopi bareng bule-bule asal Slovakia, Polandia, Amerika, Belanda dll yang sengaja datang untuk menikmati hangatnya wedang sembari mereka belajar kerajinan kayu ke Angga. Mereka adalah mahasiswi Institute Seni Indonesia Surakarta dan Akademi Seni dan Desain Indonesia Surakarta.

_MG_4146

Ide cafe yang menyajikan rempah belum terlalu banyak gua jumpai di beberapa daerah yang gua kunjungi apalagi dipadu dengan kerajinan kayu yang memanfaatkan bahan-bahan yang sudah tidak terpakai. Berkesempatan dateng ke cafe Solorempah tentu jadi kesan tersendiri, betapa negeri ini banyak sekali dititipkan kekayaan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Meminjam instilah Angga sebelum pamitan untuk meninggalkan tempat ini, “perkara ini (rempah) negeri kita jadi bulan-bulanan bangsa Eropa selama ratusan tahun Mas”.

_MG_4117Batapa Tuhan itu Maha Baik bagi bangsa ini. Dengan kebaikan-Nya semoga Dia juga berikan kita banyak mba Reni-Mba Reni dan Mas Anga lain yang mau terus memanfaatkan kekayaan alam tanpa merusaknya.

Advertisements

Benteng Buton, Benteng Paling Besar Di Dunia

Kamu tahu ngga? Benteng terbesar di dunia itu bukan ada di Inggris, Skotlandia, Rusia, atau negara-negara yang banyak bangunan benteng yang selama ini kita anggap keren. Tapi benteng terbesar di dunia itu ada di Indonesia, tepatnya di Pulau Buton.

Benteng Buton terbuat dari batu kapur berbentuk lingkaran dengan panjang keliling 2.740 meter. Guiness Book of Record pada September 2006 mencatat Benteng Buton sebagai benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23,375 hektare.

Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang dengan 16 meriam di tiap-tiap puncak bukitnya yang menghunus ke Selat Buton. 12 pintu atau lubang yang dalam bahasa Wollo disebut Lawa mengibaratkan jumlah lubang manusia yang terdiri dari 12 lubang.

Ke-12 Lawa ini memiliki masing-masing nama sesuai dengan gelar orang yang mengawasinya,

Benteng Buton bukan hanya benteng terbesar di dunia, kekuatan Benteng Buton juga terbukti tidak tersentuh penjajah selama 400 tahun saat terjadi kolonialisme abad 16 di Indonesia.

Sudah Singgah Ke Taman Nasional Bali Barat?

21544047_10213990169849353_8199423439072768952_o

Tanggal 24 Maret 1911, seorang ahli biologi Jerman, Dr. Baron Stressman, mendarat di sekitar wilayah Singaraja karena kapal Ekspedisi Maluku II yang ditumpanginya mengalami kerusakan. Ia kemudian memutuskan untuk menetap di Bali Barat 3 bulan lamanya. Melalui penelitian yang tak disengaja, Baron Stressman menemukan spesies burung endemik yang langka, yaitu Jalak Bali (leucopsar rothschildi) di Desa Bubunan, sekitar 50 km dari Singaraja.

21731607_10213990167089284_1989393820392037990_o

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Dr. Baron Viktor von Plesen, yang menyimpulkan bahwa penyebaran Jalak Bali hanya meliputi Desa Bubunan sampai ke Gilimanuk, yaitu seluas kurang lebih 320 km2. Oleh karena populasi Jalak Bali ketika itu terbilang langka. Pada tahun 1928 sejumlah 5 ekor Jalak Bali dibawa ke Inggris dan berhasil dikembangbiakkan. Kemudian tahun 1962, Kebun Binatang Sandiego di Amerika Serikat juga dikabarkan telah mengembangbiakkan burung ini.

21544156_10213990153568946_4072537436361142636_o

Selain Jalak Bali, hewan langka lainnya yang hidup di taman nasional ini adalah Harimau Bali. Untuk melindungi hewan-hewan langka tersebut, maka Dewan Raja-raja di Bali mengeluarkan SK No. E/I/4/5/47 tanggal 13 Agustus 1947 yang menetapkan kawasan Hutan Banyuwedang dengan luas 19.365,6 ha sebagai Taman Pelindung Alam (Natuur Park) yang statusnya sama dengan suaka margasatwa.

21458256_10213990186689774_7980531899984639756_o

Butuh kesiapan yang cukup mengingat jaraknya yang cukup jauh ditambah kondisi yang terbilang kering memasuki wilayah yang ditandai dengan warna hijau pekat pada peta Pulau bali. Tentu Anda tidak bisa sepenuhnya menikmati seluruh area Taman Nasional seluas 15.587,89 daratan dan 3.415 terdiri dari laut. Namun Anda setidaknya membutuhkan waktu paling sedikit 5 jam untuk benar-benar menikmati beberapa spot yang dibolehkan untuk pelancong, selebihnya, Anda tidak diperkenankan memasuki area konservasi demi pelestarian beberapa flora dan fauna yang ada disana.

21743665_10213990175409492_2397935726840658470_o

Taman Nasional Bali Barat memiliki jenis ekosistem yang unik, yaitu perpaduan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. Di kawasan ini, wisatawan dapat menjelajahi ekosistem daratan (hutan), mulai dari hutan musim, hutan hujan dataran rendah, savana, hingga hutan pantai. Sementara pada ekosistem perairan (laut), wisatawan dapat menyaksikan hijaunya hutan mangrove, keelokan pantai, ekosistem coral, padang lamun, serta perairan laut dangkal dan dalam.

19453240_10213990202370166_7335124080680692282_o

Di Taman Nasional Bali Barat, Anda bisa melihat langsung aneka jenis satwa yang hidup bebas seperti burung Jalak Bali (leucopsar rothschildi) yang merupakan hewan endemik dan langka, burung ibis putih kepala hitam, kijang, trenggiling, landak, serta kancil.

21741242_10213990161209137_1816853055928569635_o

Wilayah TNBB terbentang di dua kabupaten, yaitu Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, dan Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia. Taman Nasional Bali Barat mudah dicapai baik dari Kota Denpasar maupun dari Pelabuhan Gilimanuk. Hal ini karena lokasi taman nasional ini dilalui oleh jalan raya Gilimanuk—Negara maupun jalan raya Gilimanuk—Singaraja.

21743877_10213990173049433_1581525798891506227_o

Harga tiket untuk menikmati Taman Nasional Bali Barat adalah Rp 25.000,- per orang untuk wisatawan domestik, dan Rp 50.000,- untuk wisatawan asing. Taman Nasional Bali Barat memiliki berbagai macam akomodasi dan fasilitas, antara lain pemandu wisata, pondok wisata, menara pandang, dn jalan setapak untuk memudahkan penjelajahan.

21743422_10213990153688949_6459638688089697807_o

Berada di hutan dengan pepohonan rindang yang tumbuh diatas  sisa 4 buah gunung berapi kuno lengkap dengan suara-suara indah burung berkicau dari balik pepohonan, rasanya tak ingin cepat-cepat meniggalkan kawasan ujung barat Pulau Bali ini.

21741052_10213990182169661_7346239084033374363_o

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam saat saya meniggalkan pos jaga terluar, Sayonara Taman Nasional Bali Barat, suatu waktu pasti saya akan datang lagi untuk mengabadikan beberapa hewan yang belum terlihat hari itu.

21544075_10213990186729775_6984401731305686032_o

Anda yang belum sempat singgah, singgahlah, ajak keluarga nikmati keindahan ciptaan Tuhan sembari menambah ilmu pengetahuan.

Ki Gede Pedati Pekalangan, Pedati Paling Gede Sedunia!

22552663_10214270662181486_2125319455987369959_nMenutup pelesiran singkat ke Cirebon, ketemu pedati yang paling bersejarah. Pedati milik Pangerang Walangsungsang yang dibikin pada tahun 1371 ini, konon pengerjaannya cuma semalam. Pangerang Walangsungsang atau sebutan lain Pangeran Cakrabuana adalah anak Prabu Siliwangi Padjajaran, saudara kandung Kian Santang.

IMG_7752

Menurut Ibu Taryi, yang merupakan generasi ke-14 juru kunci tempat ini, dulunya rumah ini ada di tengah kota, cuma berhubung makin padatnya penduduk jadi rumah tempat menaruh Ki Gede Pedati ini makin terpojok kedalam pemukiman.

IMG_7753

Ibu Taryi bilang dulu Ki Gede Pedati Pekalangan ini ditarik oleh seekor kerbau bule, jalannya bukan di darat melainkan terbang.

22554868_10214270664341540_5883494736049224988_nPedati ini adalah alat transportasi Sang Pangeran dalam penyebaran agama Islam di pesisir Utara Pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Sultan Cirebon kedua yakni Sunan Gunung Jati, Ki Gede Pedati banyak digunakan untuk mengangkut material pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa,

22688056_10214270662621497_9037821724898522571_n

Ibu Taryi juga bilang bahwa pedati dengan ukuran awal ketika dibuat panjangnya 15 meter, lebar 2,5 dan tinggi 3 meter dengan 12 roda dan 1 roda bisa sampai tinggi 2 meter ini adalah pedati yang terbesar di dunia. Akibat kebakaran yang melanda desa ini tahun 1900 awal, beberap bagian pedati rusak dan kini setelah dirakit ulang menggunakan sisa yang utuh, panjangnya jadi tinggal 8.9 meter dengan 8 roda, sayang yah!

22552305_10214270662741500_2779293870198807491_n

Brown Canyon-Semarang, Bukan Canyon yang Sebenarnya

Tahun 2016 traveler lokal dikagetkan dengan munculnya canyon baru di Semarang. Ada blog travel sampai bilang Grand Canyon di Semarang tak kalah indah dari Grand Canyon yang ada di Amerika. Waw!! Mestinya keren banget lah kalau begitu Brown Canyon ini.

Tentu gua ngga bisa bantah begitu ajah tulisan blog travel yang berani bandingkan canyon yang ada di Amerika dengan yang baru ditemukan di Semarang, sebab gua belum pernah pergi ke canyon yang kalah indah di Amerika itu.

Tanpa rencana matang, akhir 2016 kemarin gua dan keluarga memutuskan untuk merayakan tahun baru dengan solo touring. Namanya touring yang penting jakarta coret. Bandung definitely bosan dan kepikir macet, Cirebon rasanya terlalu sebentar untuk 4 hari liburan. Akhirnya terpilih lah Semarang. Horeee angan-angan untuk sambangi Brown Canyon hampir terwujud.

Tol Cipali yang biasanya liburan panjang macet ikut panjang macetnya, eh kali ini lancar jaya, hanya hujan terus menemani sampai selepas Kendal hingga Allstay Hotel Semarang, Jalan Veteran tempat kami menginap. Kekhawatiran batal ke Brown Canyon membayangi hingga pagi. Menurut salah seorang traveler yang jumpa di hotel pagi itu bilang jangan memaksakan diri ke Brown Canyon kalau habis hujan, akan sangat becek, banyak lumpur bahkan sulit dilewati mobil pribadi.

Begitu dengar sulit dilewati mobil pribadi, adrenalin malah menggelora. Pasti asik tempat ini. Sabtu tanggal 31 Januari 2016 pukul 09:00 akhirnya gua berangkat dari hotel menuju Brown Canyon. Google Maps bilang jarak cuma 13 km dengan perjalanan ngga lebih dari 1 jam. Okel lah.

To get there

Sesuai sub judul, hari gini mah ngga sulit kalau mau ke sebuah destinasi, tinggal cari di Google Maps, dapat lah nama Brown Canyon. You guys kalau mau kesana tap embed map ini ajah https://goo.gl/maps/hyxMHM9tQHv.

Jangan bayangkan jalan menuju canyon juga lengkap dengan fasilitas petunjuk jalan, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju lokasi dihiasi oleh pemandangan indah layaknya beberapa lokasi wisata lain, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju canyon papasan dengan para turis lokal maupun turis bule, ngga banget!

Jalan menuju Brown Canyon dari Semarang adalah jalan kabupaten dengan fasilitas 1 jalan aspal dua arah yang banyak dilalui motor-motor dan becak, ngga ada petunjuk jalan atau umbul-umbul mengarah lokasi. Sepanjang perjalanan dari Jalan Veteran Semarang ngga ada rambu petunjuk Brown Canyon. Karena ini jalan kabupaten atau bahkan jalan kecamatan, bakal ketemu tikungan-tikungan atau perempatan yang macet, mohon bersabar ajah. Satu lagi, jangan berharap papasan dengan para turis bule macam di Ubud atau di Hidden Canyon di Gianyar, ngga guys! yang ada elu hanya akan banyak papasan dengan truk-truk pengangkut tanah dengan supir dan kernet berwajah lelah dengan baju kaos merk Hings yang fenomenal.

Area lokasi canyon dengan hunian penduduk dipisahkan oleh jembatan kali yang hanya bisa dilalui 1 kendaraan, jadi mesti gantian. Apa yang dibilang si traveler itu ternyata benar, jalan menuju lokasi sangat becek dan licin. Ada 3 akses menuju lokasi terdekat ke bukit canyon, dua akses lain negatif untuk dilewati, tinggal 1 akses lagi dan you guys mesti bersaing dengan truk di jalan tanah itu.

Tingginya sisa tanah yang disebut canyon itu sudah terlihat kurang lebih 300 meter sebelum tiba di lokasi. Hujan yang turun terus menerus hingga pagi tadi bukan hanya ganggu jalan masuk menuju canyon, tapi juga ganggu pemandangan untuk foto canyon. Awan mendung sisa hujan bener-bener bikin kelam.

brown04

Fasilitas

Tidak ada lokasi parkir layaknya sebua tempat wisata, ngga ada gate masuk layaknya masuk ke DUFAN atau ke TAMAN SAFARI, ngga! Ngga ada. Tapi begitu mobil kita mulai parkir seadanya ngga jauh dari kaki bukit itu, dua motor sigap hampiri dan sodorkan tiket tanda masuk lokasi wisata senilai Rp. 5.000,- per orang. Mau berantem juga males cuma lima ribu doang cuma KZL ajah, maen todong begini, ah yaudah lah. Dengan sedikit ngobrol ngalur-ngidul salah satunya bilang yaudah pak, bayar 3 orang ajah. Kami berlima waktu itu. Jadi dia dapat Rp. 15.000 dan ngga tahu pergi kemana setelah itu. Mungkin ke pos penjaga tiket masuk, mungkin ada loh. Sebab gua juga ngga lihat lagi setelah itu.

brown02Banyaknya antrian truk menunggu giliran untuk diisi tanah oleh escavator, ramainya dentuman dinamit untuk hacurkan tanah-tanah yang masiv, banyaknya titik rawan dinamit untuk didekati dan tidak adanya titik safety point sekedar untuk berteduh menikmati INDAHNYA canyon bikin gua yakin betul tempat ini bukan tempat wisata. Jika ada yang bilang ini tempat wisata itu jelas dipaksakan berdasarkan sisa tanah tanah yang belum runtuh oleh dentuman dinamit. Tempat ini jelas berbahaya untuk dikunjungi.

Lalu kenapa banyak yang masih mau datang ke tempat ini? Bagi para pemburu foto, lingkungan ekstrem disini jelas jadi surga untuk ambil gambar. Ceruk yang tergali dengan meninggalkan bagian lain yang belum sempat digali tentu jadi daya tarik tersediri, termasuk beberapa bukit sisa yang belum dihancurkan.

brown01

Untuk Siapa Brown Canyon

Lalu kenapa lokasi ini sampai terbentuk canyon dan diberi nama Brown Canyon? Brown Canyon adalah nama yang kelak akan digunakan oleh si pemilik area untuk komplek perumahan orang-orang kaya di Semarang. Saat ini mereka sedang melakukan cut and fill area. Mungkin master plan mereka ada area yang harus di-cut, sehingga banyak tanah yang harus dibawa keluar area dan ada bagian yang dibiarkan atau bahkan ditambah ketinggiannya untuk bikin efek mengagumkan dari komplek perumahan yang akan ditempati orang-orang kaya nanti.

brown05

Sampai Kapan bayar Rp. 5.000

Terus tinggal berapa lama lagi para photo hunters bisa mengabadikan CANYON yang konon tak kalah indah dari GRAND CANYON di Amerika ini? Hasil obrolan gua dengan salah seorang mandor di sela-sela ledakan dinamit, kurang dari 6 bulan sejak hari itu sebagian besar bukit-bukit sudah akan rata dengan tanah. Sedih ngga? Ngga sedih sih. Susunan bukit-bukit sisa galian itu bakal hilang, tapi ngga usah khawatir, itu semua bakal digantikan oleh bukit baru yang lebih hijau, lebih bersih, lebih tertata dengan pintu masuk dan gerbang yang jelas ditambah baliho sangat besar mungkin bertuliskan Selamat Datang Di Komplek Perumahan (mewah) Brown Canyon. Oh iya satu lagi, kalau udah ada embel-embel Komplek Perumahan pasti jalan menuju Brown Canyon bakal banyak rambu petunjuk sejak dari Simpang Lima dan jalannya pasti makin halus.

brown03

Jadi buat yang mau menikmati Brown Canyon selagi bayarnya cuma Rp. 5.000 dari sekarang deh sambangi, sebelum bukit yang indah itu berganti jadi bukit buatan nan indah tak seindah Grand Canyon di Amerika.

escape01

Awas, Jangan Berbagi Penggunaan Benda Ini dengan Orang Lain

02
Earphone rentan menularkan bakteri atau kuman (foto: hitech.vesti.ru)

Kadang begitu dekat hubungan kita dengan teman, hal meminjamkan properti dianggap biasa. Sebenernya ngga semua bisa kita bagi bersama dalam penggunaannya, bukannya pelit, namun hal itu perlu kita lakukan untuk hindari perpindahan virus dan kuman sebab bukan kah kuman itu bisa tersebar tanpa pandang teman akrab atau bukan? Nah, berikut yang sebaiknya tidak boleh you guys bagi bersama.

Earphone

Kita kadang merasa biasa saja mendengarkan musik bersama teman melalui earphone atau kala lupa bawa, seringkali pinjam dari teman untuk mendengakan musik. Tapi tahu ngga bahwa earphone rentan menularkan bakteri atau kuman. Bisa jadi si peminjam punya penyakit infeksi telinga, nah lo!! Jadi sebaiknya hindari berbagi earphone.

Pisau cukur

Biasanya saat traveling dan butuh alat ganteng, kita seenaknya ajah pakai alat cukur teman. Padahal sekali saja pisau cukur yang orang lain pakai dan mengenai pembuluh darahnya, maka jenis penyakit seperti HIV AIDS, hepatitis, dan lainnya bisa menular dengan cepat.

Deodoran

Lagi-lagi bisa terjadi saat traveling atau usai ganti salin setelah berenang, biasanya kita mudah saja berbagi deodoran dengan teman. Sesungguhnya deodoran rentan menyimpan banyak kuman sebab dipakai pada bagian tubuh yang berkeringat. Lagi pula, ketiak dapat menularkan bau badan jika bakteri yang ada di keringat saling berpindah tempat dengan ketiak orang lain. Jadi kalau terpaksa ngga bawa mending tahan untuk tidak pakai sampai ketemu indomaret atau alfameret lah, beli ajah, murah ini.

Sabun batang

Sekalipun satu keluarga sebaiknya gunakan sabun batang untuk masing-masing orang sebab berbagai bakteri pemicu penyakit kulit semisal herpes, panu, atau eksim bisa menular dengan mudah pada sabun batang yang berbagi, bahkan dengan saudara sekalipun lho’

 

Begini Rute Menikmati Pura Di Bali

Cari kata BALI untuk images di Google yang tampil gambar Pura dengan berbagai keindahan dan keteduhan lingkungan yang mengelilinginya. Ngga penasaran mau datangi Pura cantik nan teduh itu? Yuk telusuri beberapa Pura itu sembari cari tahu filosofi didirikannya setiap pura yang kita sambangi, begini rutenya! 

Pura Besakih

Rute pertama jatuh pada Pura Besakih, kenapa? Sebab Pura Besakih diyakini sebagai tempat pertama para leluhur Bali yang pindah dari Gunung Raung di Jawa Timur. Ada cerita menarik kenapa akhirnya leluhur Bali mendirikan Pura di tempat ini.

Begitu semangatnya mereka membersihkan lahan baru ini, hingga melupakan rasa syukur pada alam semesta, hingga suatu waktu alam menegur dengan bencana sakit dan banyak orang yang dimakan oleh bintang buas, hingga suatu waktu seorang pertapa mengigatkan untuk mengerjakan upacara yadnya atau dalam istilah Bali dikenal dengan nama bebanten atau sesaji bagi Sang Hyang Widhi Wasa. Nah, di tempat mula persembahyangan untuk menebas hutan di Bali ini leluhur menanam kendi atau payuk berisi air, beserta Pancadatu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten/sesajen) yang diperciki oleh Pangentas (air suci). Tempat aktivitas diletakkannya sesajen itu diberi nama Pura Basuki yang hingga kini dikenal dengan nama Pura Besakih. Setelah berdirinya Pura Besakih, aktivitas pembersihan diteruskan tanpa meninggalkan rasa syukur mereka bagi Sang Hyang Widhi Wasa.

besakih
Terbayang kan keteduhan Pura Besakih ini (suartur.com)

Pura Ulun Danu Bratan

Terbilang tidak jauh dari Pura Besakih, perjalanan menelusuri Pura di Bali lanjut ke Pura Ulun Danu Bratan. Salah satu daya pikat pura ini adalah letaknya di tengah danau diantara pegunungan sejuk. Ngga afdol deh ke Bali kalau belum lihat langsung pura yang tambah terkenal berkat ada di uang pecahan Indonesia Rp. 50.000 ini.

pura-ulun-danu-bratan
Seolah dikelilingi danau, Pura ini begitu indah untuk difoto setiap saat (accessibleindonesia)

Pura Ulun Danu Beratan berada di Desa Bedugul, Bedugul terkenal dengan udara yang sejuk berkat ketinggian 1.293 meter diatas permukaan laut. Pura Ulun Danu Beratan adalah pura yang ditujukan untuk pemujaan Dewi Danu sebagai simbol pemberi kesuburan dan kemakmuran untuk penduduk Desa Bedugul.

Pura Tanah Lot

Sebelum menikmati indahnya Pura Tanah Lot, yuk kita kepo-in dulu ada apa sih sampai disebut Pura Tanah Lot. Pada zaman dahulu kala…., cie mau membagi kisah nih. Jadi dahulu kala itu penduduk Bali terutama penduduk Desa Beraban percaya pada satu orang pemimpin yang dianggap sebagai utusan Tuhan. Suatu waktu datanglah seorang punggawa dari tanah Jawa, tepatnya dari Kerajaan Majapahit yang ingin menyebarkan agama Hindu menuju Lombok. Punggawa bernama Dang Hyang Dwijendera sebelum tiba di Mataram berhenti melakukan meditasi di Desa Beraban karena melihat cahaya yang keluar dari batu berbentuk burung beo dengan mata air di dalamnya.

Berkat kharisma dan ajaran yang dibawa, banyak penganut monotheisme lokal yang mulai mengikuti ajaran Dang Hyang Dwijendera. Pimpinan penganut monotheisme desa Beraban marah dan mengusir Dang Hyang Dwijendera. Dengan kesaktiannya Dang Hyang Dwijendera berhasil menggeser tempat pertapaan yang semula menyatu dengan tanah itu ke tengah laut. Maka jadi lah tanah dengan bangunan pura itu disebut Tanah Lot atau tanah di tengah laut, itu kenapa sekarang kita lihat Tanah Lot seperti terhempas ke laut, mungkin dahulu Pura itu berada didaratan Beraban.

sunset-tanah-lot-bali
Terpisah dari daratan bikin Pura di Tanah Lot ini semakin menarik 

 

Pura Puncak Mundi, Nusa Penida

Buat yang belum pernah menginjakkan kaki ke Nusa Penida, ini saatnya untuk menyambangi pulau nyentrik yang pernah jadi tempat pembuangan Soekarno itu. Dari penyeberangan Sanur kurang lebih 30 menit dengan boat ke Nusa Penida. Pura yang akan dituju adalah Pura Puncak Mundi.

Kisah para Dewa turun ke bumi menjelma jadi manusia diceritakan pada asal muasal Pura Puncak Mundi. Diyakini hal itu terjadi pada tahun saka 50 ketika Batara Siwa turun ke dunia menjelma jadi manusia di sekitar Puncak Bukit Mundi  yang merupakan dataran tertinggi di Nusa Penida. Ketika itu Batara Siwa menjelma jadi seorang pendeta besar yang sakti, bernama Dukuh Jumpungan.

Seperti keyakinan Hindu umumnya jika salah satu dewa turun ke bumi tentu berpasangan, nah! pasangan Dukuh Jumpungan adalah Dewi Uma, yang juga seorang Dewi yang menjelma jadi wanita jelita.  

Tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Kisah ini lah yang jadi muasal cerita berkembang biaknya penduduk di Pulau Nusa Penida, bukan hanya penduduk yang terus bertambah, sejak pura pertama di Nusa Penida itu, kini sudah terdapat banyak pura di Nusa Penida. Jadi ngga salah you guys begitu tiba di dermaga Nusa Penida kudu ke pura ini terlebih dahulu sebelum menyambangi pura lain di Nusa Penida.

Jangan lupa untuk berpakaian sopan dan menyapa dengan ramah petugas penjaga Pura sebelum masuk, dan tolong jangan buang sampahmu sembarangan yaaa

dalem-puncak-mundi
Keteduhan yang luar biasa bisa berada di Pura ini, harus coba guys! 

 

Radio (2003): A lesson in Humanity

radio

Akan ayah ceritakan kepadamu apa yang belum belum pernah ayah ceritakan selama ini, ketika ayah berusia 12 tahun, saat berjualan koran dan mengantar ke beberapa rumah di sekitar komplek, ayah selalu melawati sebuah rumah dan di rumah itu selalu terdengar suara rintihan seperti anak terjepit. Ketika ayah lihat ternyata suara itu keluar dari mulut seorang anak seusia ayah dengan keterbelakangan. Dia merintih karena dipasung oleh orang tuanya. Selama dua tahun ayah selalu melewati rumah itu dan selalu mendengar suara itu, namun ayah tidak pernah bisa berbuat apa pun untuk anak itu

Obrolan Pelatih Harold Jones yang diperankan oleh Ed Harris kepada anak tunggalnya Mary Helen (Sarah Drew) diatas adalah cuplikan di akhir cerita film Radio (2003). Sosok anak dengan keterbelakangan mental bernama James Robert Kennedy (Cuba Gooding Jr) ini lah yang menghiasi hampir seluruh isi film.

Kegembiraan Kennedy dengan keranjang dorong dan beberapa alat yang dibawa menjadi perhatian Pelatih Jones saat melintas lapangan football tempat ia melatih siswa SMA Hanna di Anderson Street, South Carolina. Ketertarikan Kennedy pada radio sejak pertama saat dirinya diundang oleh Pelatih Jones dan kesulitan menyebut nama menciptakan sebutan Radio untuk anak yatim keturunan Afrika-Amerika ini.

radio-2003-movie-poster

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri Radio, Pelatih Jones terus mengikutsertakan Radio dalam setiap latihan dan aktivitas di SMA Hanna. Namun keadaan tidak seindah yang dibayangkan, niat Pelatih Jones untuk memberikan perhatian lebih kepada Radio menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak suka sebagaian orang tua murid. Dengan berbagai cara mereka mulai menghasut orang tua lain agar pihak sekolah mengeluarkan Radio dari sekolah. Niat licik itu berhasil, Radio akhirnya dikeluarkan dari sekolah kerena dikerjai oleh Frank, salah seorang murid bankir kaya dengan  cara menipu Radio untuk masuk ke kamar ganti siswi selepas latihan. Kondisi ini malah meyakinkan Pelatih Jones bahwa Radio harus ditolong sepenuhnya. Dalam sebuah pertemuan tidak resmi yang juga dihadiri oleh ayah Frank, Pelatih Jones menegaskan bahwa niat dirinya untuk menolong Radio bukan tanpa alasan dan jika Radio tetap tidak diizinkan masuk ke sekolah, dia akan ambil keputusan yang akan berpengaruh pada kelangsungan prestasi football murid-murid SMA Hanna.

Pertemuan yang berlangsung tidak lama ini membalikkan opioni para orang tua yang selama ini mengira Pelatih Jones telah berbuat salah dengan mengajak Radio ikut melatih para siswa malah berbalik jadi menyalahkan ayah Frank yang dianggap telah menebar kebencian kepada Radio dengan tanpa alasan.

Film yang diangkat dari kisah nyata tahun 1976 ini mengajarkan seberapa besar manfaat kita bagi orang lain. Apa yang Pelatih Jones lakukan kepada Radio menjadi sebuah pemahaman fundamental bagi kehidupan Radio di masa depan.

Dengan memilih berhenti menjadi pelatih dan terus membimbing Radio hingga kelak bisa diterima masyarakat, Pelatih Jones bisa berkata kepada anak tunggalnya bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan kedua terhadap apa yang seharusnya ia lakukan saat berusia 12 tahun lampau, A lesson of Humanity.

 

Starring: 

Cuba Gooding Jr (Radio), Ed Harris (Coach Jones), Alfre Woodard (Principal Daniels), S. Epatha Merkerson (Maggie), Brent Sexton (Honeycutt), Chris Mulkey (Frank Clay), Sarah Drew (Mary Helen ), Riley Smith (Johnny), Patrick Breen (Tucker) dan Debra Wing

Genre: 
Drama

Kemana Hilangnya Film “Soeara Berbisa” (1941)

soeara_berbisa_ad

Atlet muda bernama Mitra dan Neng Mardinah akan menikah. Namun, seorang pemuda yang bernama Mardjohan jatuh cinta dengan Mardinah, dan kemudian menyebarkan fitnah bahwa Mitra adalah anak perampok. Tak tahan dengan fitnah itu, Mitra pergi ke luar kota dan bekerja pada sebuah perkebunan. Ternyata penguasa perkebunan itu Mardjohan. Suatu waktu Mardjohan mengalami kecelakaan dan ditolong oleh Mitra. Setelah diantarkan ke rumah Mardjohan, Ibu Mardjohan mengenali Mitra sebagai anaknya yang telah lama hilang: Mitra adalah adik kandung Mardjohan”

Alur diatas adalah film karya sutradara R Hu dan sutradara Ang Hock Liem yang seharusnya tayang perdana di Medan  bertepatan dengan Idul Fitri tanggal 22 Oktober 1941. Film hitam putih dibawah bendera Union Film ini dibintangi oleh Raden Soekarno, Ratna Djoewita, Oedjang, dan Soehaena. Alur kisah ditulis oleh Djojopranoto. Film dengan setting pemandangan Jawa Barat ini banyak dihiasi oleh alunan musik keroncong. Union Film mengklaim bahwa mereka memperbaiki dialog dan alur sebaik-baiknya dengan memerhatikan kemauan penonton bangsa Indonesia, bahkan dalam surat kabar berbahasa Belanda, film tersebut diiklankan sebagai kisah hebat dan menarik dari dua laki-laki muda di dunia olahraga pribumi  yang diproduksi secara beradab sehingga patut dihargai oleh masyarakat Eropa.

Union Film berkantor di Mangga Besar Jakarta dan didirikan oleh pengusaha etnis Tionghoa, Ang Hock Liem dan Tjoa Ma Tjoen. Union Film hadir saat industri perfilman Indonesia mulai bangkit ketika itu, mereka berorientasi pada pertumbuhan kalangan inteligensia bangsa Indonesia. Film pertama karya Union Film adalah Kedok Ketawa yang dirilis pada Juli 1940. Film ini diikuti oleh serangkaian film yang ditulis oleh Saeroen.

Film-film mereka disutradarai oleh oleh empat orang, sebagian besar etnis Tionghoa, dan melambungkan karier aktor-aktor seperti Raden Sokarno dan Djoewariah. Setelah perusahaan ini tutup, Raden Soekarno tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai pemain film sampai 1970an dan berganti nama menjadi Rendra Karno

Seorang antropolog visual Amerika Karl G. Heider berpendapat bahwa seluruh film Indonesia yang berasal dari masa sebelum 1950 telah hilang, entah oleh pencurian, terbakar bersama dengan kebakaran besar gudang Produksi Film Negara tahun 1952, atau sengaja dibakar oleh beberaapa pihak. Bisa jadi film kisah percintaan Soeara Berbisa ini dicuri oleh Belanda lalu disimpan dengan rapih dan mereka terus merahasiakan keberadaannya hingga kini, wallahualam.

Ah! jika saja film Soeara Berbisa dan ketujuh film lain produksi Union Film tidak hilang apalagi jika Union Film terus berproduksi hingga kini mungkin perkembangan film Indonesia lebih bagus dari sekarang.

Diolah dari Wikipedia

“ku ingin hidup seribu tahun lagi”

Mungkin harapan Itu yang diinginkan para guru, karena mereka ingin hidup lebih lama agar bisa terus mengajarkan kebaikan.

Lantunan lagu diatas adalah salah satu yang dibawakan oleh seorang guru pada acara reuni SMA Kristen Ignatius Slamet Riyadi (SMAK SLAMER) angkatan 1986 ke-30 di Cimanggis, 15 Oktober 2016. Berkesempatan ikut mengabadikan moment itu akhirnya berujung posting ke Facebook, semoga ini jadi semangat bagi semua untuk menjaga tali pertemanan, rasa syukur atas ilmu yang telah guru berikan dan tentu terhadap semua kebaikan Tuhan bagi kita. Enjoy the video

https://plus.google.com/+mahmurmarganti-damiri/posts/L5DtqUFDcKu?_utm_source=1-2-4