Brown Canyon-Semarang, Bukan Canyon yang Sebenarnya

Tahun 2016 traveler lokal dikagetkan dengan munculnya canyon baru di Semarang. Ada blog travel sampai bilang Grand Canyon di Semarang tak kalah indah dari Grand Canyon yang ada di Amerika. Waw!! Mestinya keren banget lah kalau begitu Brown Canyon ini.

Tentu gua ngga bisa bantah begitu ajah tulisan blog travel yang berani bandingkan canyon yang ada di Amerika dengan yang baru ditemukan di Semarang, sebab gua belum pernah pergi ke canyon yang kalah indah di Amerika itu.

Tanpa rencana matang, akhir 2016 kemarin gua dan keluarga memutuskan untuk merayakan tahun baru dengan solo touring. Namanya touring yang penting jakarta coret. Bandung definitely bosan dan kepikir macet, Cirebon rasanya terlalu sebentar untuk 4 hari liburan. Akhirnya terpilih lah Semarang. Horeee angan-angan untuk sambangi Brown Canyon hampir terwujud.

Tol Cipali yang biasanya liburan panjang macet ikut panjang macetnya, eh kali ini lancar jaya, hanya hujan terus menemani sampai selepas Kendal hingga Allstay Hotel Semarang, Jalan Veteran tempat kami menginap. Kekhawatiran batal ke Brown Canyon membayangi hingga pagi. Menurut salah seorang traveler yang jumpa di hotel pagi itu bilang jangan memaksakan diri ke Brown Canyon kalau habis hujan, akan sangat becek, banyak lumpur bahkan sulit dilewati mobil pribadi.

Begitu dengar sulit dilewati mobil pribadi, adrenalin malah menggelora. Pasti asik tempat ini. Sabtu tanggal 31 Januari 2016 pukul 09:00 akhirnya gua berangkat dari hotel menuju Brown Canyon. Google Maps bilang jarak cuma 13 km dengan perjalanan ngga lebih dari 1 jam. Okel lah.

To get there

Sesuai sub judul, hari gini mah ngga sulit kalau mau ke sebuah destinasi, tinggal cari di Google Maps, dapat lah nama Brown Canyon. You guys kalau mau kesana tap embed map ini ajah https://goo.gl/maps/hyxMHM9tQHv.

Jangan bayangkan jalan menuju canyon juga lengkap dengan fasilitas petunjuk jalan, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju lokasi dihiasi oleh pemandangan indah layaknya beberapa lokasi wisata lain, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju canyon papasan dengan para turis lokal maupun turis bule, ngga banget!

Jalan menuju Brown Canyon dari Semarang adalah jalan kabupaten dengan fasilitas 1 jalan aspal dua arah yang banyak dilalui motor-motor dan becak, ngga ada petunjuk jalan atau umbul-umbul mengarah lokasi. Sepanjang perjalanan dari Jalan Veteran Semarang ngga ada rambu petunjuk Brown Canyon. Karena ini jalan kabupaten atau bahkan jalan kecamatan, bakal ketemu tikungan-tikungan atau perempatan yang macet, mohon bersabar ajah. Satu lagi, jangan berharap papasan dengan para turis bule macam di Ubud atau di Hidden Canyon di Gianyar, ngga guys! yang ada elu hanya akan banyak papasan dengan truk-truk pengangkut tanah dengan supir dan kernet berwajah lelah dengan baju kaos merk Hings yang fenomenal.

Area lokasi canyon dengan hunian penduduk dipisahkan oleh jembatan kali yang hanya bisa dilalui 1 kendaraan, jadi mesti gantian. Apa yang dibilang si traveler itu ternyata benar, jalan menuju lokasi sangat becek dan licin. Ada 3 akses menuju lokasi terdekat ke bukit canyon, dua akses lain negatif untuk dilewati, tinggal 1 akses lagi dan you guys mesti bersaing dengan truk di jalan tanah itu.

Tingginya sisa tanah yang disebut canyon itu sudah terlihat kurang lebih 300 meter sebelum tiba di lokasi. Hujan yang turun terus menerus hingga pagi tadi bukan hanya ganggu jalan masuk menuju canyon, tapi juga ganggu pemandangan untuk foto canyon. Awan mendung sisa hujan bener-bener bikin kelam.

brown04

Fasilitas

Tidak ada lokasi parkir layaknya sebua tempat wisata, ngga ada gate masuk layaknya masuk ke DUFAN atau ke TAMAN SAFARI, ngga! Ngga ada. Tapi begitu mobil kita mulai parkir seadanya ngga jauh dari kaki bukit itu, dua motor sigap hampiri dan sodorkan tiket tanda masuk lokasi wisata senilai Rp. 5.000,- per orang. Mau berantem juga males cuma lima ribu doang cuma KZL ajah, maen todong begini, ah yaudah lah. Dengan sedikit ngobrol ngalur-ngidul salah satunya bilang yaudah pak, bayar 3 orang ajah. Kami berlima waktu itu. Jadi dia dapat Rp. 15.000 dan ngga tahu pergi kemana setelah itu. Mungkin ke pos penjaga tiket masuk, mungkin ada loh. Sebab gua juga ngga lihat lagi setelah itu.

brown02Banyaknya antrian truk menunggu giliran untuk diisi tanah oleh escavator, ramainya dentuman dinamit untuk hacurkan tanah-tanah yang masiv, banyaknya titik rawan dinamit untuk didekati dan tidak adanya titik safety point sekedar untuk berteduh menikmati INDAHNYA canyon bikin gua yakin betul tempat ini bukan tempat wisata. Jika ada yang bilang ini tempat wisata itu jelas dipaksakan berdasarkan sisa tanah tanah yang belum runtuh oleh dentuman dinamit. Tempat ini jelas berbahaya untuk dikunjungi.

Lalu kenapa banyak yang masih mau datang ke tempat ini? Bagi para pemburu foto, lingkungan ekstrem disini jelas jadi surga untuk ambil gambar. Ceruk yang tergali dengan meninggalkan bagian lain yang belum sempat digali tentu jadi daya tarik tersediri, termasuk beberapa bukit sisa yang belum dihancurkan.

brown01

Untuk Siapa Brown Canyon

Lalu kenapa lokasi ini sampai terbentuk canyon dan diberi nama Brown Canyon? Brown Canyon adalah nama yang kelak akan digunakan oleh si pemilik area untuk komplek perumahan orang-orang kaya di Semarang. Saat ini mereka sedang melakukan cut and fill area. Mungkin master plan mereka ada area yang harus di-cut, sehingga banyak tanah yang harus dibawa keluar area dan ada bagian yang dibiarkan atau bahkan ditambah ketinggiannya untuk bikin efek mengagumkan dari komplek perumahan yang akan ditempati orang-orang kaya nanti.

brown05

Sampai Kapan bayar Rp. 5.000

Terus tinggal berapa lama lagi para photo hunters bisa mengabadikan CANYON yang konon tak kalah indah dari GRAND CANYON di Amerika ini? Hasil obrolan gua dengan salah seorang mandor di sela-sela ledakan dinamit, kurang dari 6 bulan sejak hari itu sebagian besar bukit-bukit sudah akan rata dengan tanah. Sedih ngga? Ngga sedih sih. Susunan bukit-bukit sisa galian itu bakal hilang, tapi ngga usah khawatir, itu semua bakal digantikan oleh bukit baru yang lebih hijau, lebih bersih, lebih tertata dengan pintu masuk dan gerbang yang jelas ditambah baliho sangat besar mungkin bertuliskan Selamat Datang Di Komplek Perumahan (mewah) Brown Canyon. Oh iya satu lagi, kalau udah ada embel-embel Komplek Perumahan pasti jalan menuju Brown Canyon bakal banyak rambu petunjuk sejak dari Simpang Lima dan jalannya pasti makin halus.

brown03

Jadi buat yang mau menikmati Brown Canyon selagi bayarnya cuma Rp. 5.000 dari sekarang deh sambangi, sebelum bukit yang indah itu berganti jadi bukit buatan nan indah tak seindah Grand Canyon di Amerika.

escape01

Advertisements

Begini Rute Menikmati Pura Di Bali

Cari kata BALI untuk images di Google yang tampil gambar Pura dengan berbagai keindahan dan keteduhan lingkungan yang mengelilinginya. Ngga penasaran mau datangi Pura cantik nan teduh itu? Yuk telusuri beberapa Pura itu sembari cari tahu filosofi didirikannya setiap pura yang kita sambangi, begini rutenya! 

Pura Besakih

Rute pertama jatuh pada Pura Besakih, kenapa? Sebab Pura Besakih diyakini sebagai tempat pertama para leluhur Bali yang pindah dari Gunung Raung di Jawa Timur. Ada cerita menarik kenapa akhirnya leluhur Bali mendirikan Pura di tempat ini.

Begitu semangatnya mereka membersihkan lahan baru ini, hingga melupakan rasa syukur pada alam semesta, hingga suatu waktu alam menegur dengan bencana sakit dan banyak orang yang dimakan oleh bintang buas, hingga suatu waktu seorang pertapa mengigatkan untuk mengerjakan upacara yadnya atau dalam istilah Bali dikenal dengan nama bebanten atau sesaji bagi Sang Hyang Widhi Wasa. Nah, di tempat mula persembahyangan untuk menebas hutan di Bali ini leluhur menanam kendi atau payuk berisi air, beserta Pancadatu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten/sesajen) yang diperciki oleh Pangentas (air suci). Tempat aktivitas diletakkannya sesajen itu diberi nama Pura Basuki yang hingga kini dikenal dengan nama Pura Besakih. Setelah berdirinya Pura Besakih, aktivitas pembersihan diteruskan tanpa meninggalkan rasa syukur mereka bagi Sang Hyang Widhi Wasa.

besakih
Terbayang kan keteduhan Pura Besakih ini (suartur.com)

Pura Ulun Danu Bratan

Terbilang tidak jauh dari Pura Besakih, perjalanan menelusuri Pura di Bali lanjut ke Pura Ulun Danu Bratan. Salah satu daya pikat pura ini adalah letaknya di tengah danau diantara pegunungan sejuk. Ngga afdol deh ke Bali kalau belum lihat langsung pura yang tambah terkenal berkat ada di uang pecahan Indonesia Rp. 50.000 ini.

pura-ulun-danu-bratan
Seolah dikelilingi danau, Pura ini begitu indah untuk difoto setiap saat (accessibleindonesia)

Pura Ulun Danu Beratan berada di Desa Bedugul, Bedugul terkenal dengan udara yang sejuk berkat ketinggian 1.293 meter diatas permukaan laut. Pura Ulun Danu Beratan adalah pura yang ditujukan untuk pemujaan Dewi Danu sebagai simbol pemberi kesuburan dan kemakmuran untuk penduduk Desa Bedugul.

Pura Tanah Lot

Sebelum menikmati indahnya Pura Tanah Lot, yuk kita kepo-in dulu ada apa sih sampai disebut Pura Tanah Lot. Pada zaman dahulu kala…., cie mau membagi kisah nih. Jadi dahulu kala itu penduduk Bali terutama penduduk Desa Beraban percaya pada satu orang pemimpin yang dianggap sebagai utusan Tuhan. Suatu waktu datanglah seorang punggawa dari tanah Jawa, tepatnya dari Kerajaan Majapahit yang ingin menyebarkan agama Hindu menuju Lombok. Punggawa bernama Dang Hyang Dwijendera sebelum tiba di Mataram berhenti melakukan meditasi di Desa Beraban karena melihat cahaya yang keluar dari batu berbentuk burung beo dengan mata air di dalamnya.

Berkat kharisma dan ajaran yang dibawa, banyak penganut monotheisme lokal yang mulai mengikuti ajaran Dang Hyang Dwijendera. Pimpinan penganut monotheisme desa Beraban marah dan mengusir Dang Hyang Dwijendera. Dengan kesaktiannya Dang Hyang Dwijendera berhasil menggeser tempat pertapaan yang semula menyatu dengan tanah itu ke tengah laut. Maka jadi lah tanah dengan bangunan pura itu disebut Tanah Lot atau tanah di tengah laut, itu kenapa sekarang kita lihat Tanah Lot seperti terhempas ke laut, mungkin dahulu Pura itu berada didaratan Beraban.

sunset-tanah-lot-bali
Terpisah dari daratan bikin Pura di Tanah Lot ini semakin menarik 

 

Pura Puncak Mundi, Nusa Penida

Buat yang belum pernah menginjakkan kaki ke Nusa Penida, ini saatnya untuk menyambangi pulau nyentrik yang pernah jadi tempat pembuangan Soekarno itu. Dari penyeberangan Sanur kurang lebih 30 menit dengan boat ke Nusa Penida. Pura yang akan dituju adalah Pura Puncak Mundi.

Kisah para Dewa turun ke bumi menjelma jadi manusia diceritakan pada asal muasal Pura Puncak Mundi. Diyakini hal itu terjadi pada tahun saka 50 ketika Batara Siwa turun ke dunia menjelma jadi manusia di sekitar Puncak Bukit Mundi  yang merupakan dataran tertinggi di Nusa Penida. Ketika itu Batara Siwa menjelma jadi seorang pendeta besar yang sakti, bernama Dukuh Jumpungan.

Seperti keyakinan Hindu umumnya jika salah satu dewa turun ke bumi tentu berpasangan, nah! pasangan Dukuh Jumpungan adalah Dewi Uma, yang juga seorang Dewi yang menjelma jadi wanita jelita.  

Tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Kisah ini lah yang jadi muasal cerita berkembang biaknya penduduk di Pulau Nusa Penida, bukan hanya penduduk yang terus bertambah, sejak pura pertama di Nusa Penida itu, kini sudah terdapat banyak pura di Nusa Penida. Jadi ngga salah you guys begitu tiba di dermaga Nusa Penida kudu ke pura ini terlebih dahulu sebelum menyambangi pura lain di Nusa Penida.

Jangan lupa untuk berpakaian sopan dan menyapa dengan ramah petugas penjaga Pura sebelum masuk, dan tolong jangan buang sampahmu sembarangan yaaa

dalem-puncak-mundi
Keteduhan yang luar biasa bisa berada di Pura ini, harus coba guys! 

 

Kota Baru Parahyangan, Cara Nikmati Bandung dari Sisi yang Berbeda

Mau menikmati segarnya Kota Bandung di hari libur tapi ngga mau ketemu macet-macet? Ya sudah ngga usah melaju terus sampai tol Pasteur, keluar ajah di Gerbang Tol Padalarang. Kota baru di Bandung Barat ini  patut dijajal.

Ada apa ajah sih di Kota Baru Parahyangan ini? Sebelum you guys benar-benar memutuskan untuk pergi kesana, ngga ada salahnya cari tahu ada apa ajah sih disana, yuk!

Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan

Kamu yang belum pernah dengar istilah Sundial, mending kita cari tahu dulu istilah Sundial. Menurut Wikipedia, Sundial atau Jam matahari adalah sebuah perangkat sederhana yang menunjukkan waktu berdasarkan pergerakan matahari di Meridian. Jam Matahari merupakan perangkat penunjuk waktu yang sangat kuno. Jaman dulu itu belum ada jam baik analog apalagi digital yang bisa kamu dapatkan dimana-mana seperti sekarang. Sayangnya tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan perangkat Sundial dibuat.

Jam Matahari tertua yang pernah ditemukan, kebanyakan berasal dari Yunani, berupa sebuah bentukan sirkular dengan penanda di tengah yang ditemukan oleh Chaldean Berosis, yang hidup sekitar 340 SM. Beberapa artefak jam matahari lain ditemukan, di Tivoli, Italia tahun 1746, di Castel Nuovo dan Rigano tahun 1751, dan di Pompeii tahun 1762.

111
Berada di rounabout Kota Baru Parahyangan, jadi mudah dikenal banget kalau ini adalah Puspa Iptek (Foto gua olah dari Google Maps, keren ngga?!!!)

 

Rancangan jam matahari memanfaatkan bayangan yang menimpa permukaan datar yang ditandai dengan jam-jam dalam suatu hari. Seiring dengan perubahan pada posisi Matahari, waktu yang ditunjukkan oleh bayangan tersebut pun turut berubah. Pada dasarnya, jam Matahari dapat dibuat menggunakan segala jenis permukaan yang ditimpa bayangan yang dapat ditebak posisinya. Kekurangan dari jam Matahari adalah tidak bisa mengukur waktu pada saat jam malam. Lalu bagaimana nenek moyang kita mengetahui waktu di malam hari? Sebagai pengganti pada saat malam hari dapat digunakan jam bintang. Kecanggihan nenek moyang kita untuk mengetahui waktu pada masa lampau bisa kamu lihat di Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan ini.

11111
Karya purba kala itu sekarang ada di Kota Baru Parahyangan

Selain jam matahari yang merupakan bukti kecanggihan purbakala, Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan juga punya lebih dari 180 buah alat peraga interaktif dimana kamu bisa mencoba dan mengeksplorasi sendiri alat teknologi itu. Menarik bukan? Jam buka Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan beroperasi hari Selasa hingga Minggu dari pukul 08.30 hingga 16.30. Harga Tiket Masuk Puspa Iptek Kota Baru Parahyangan Bandung sebesar Rp.12.000 dan Rp.24.000 Harga Tiket Masuk jika ingin menyaksikan juga pertunjukan film 4 dimensi.

Bale Pare the Shop and Dine Experience

Ke Bandung ngga mampir ke wisata kuliner pasti ada yang kurang. Nah, selagi di Kota Baru Parahyangan sebaiknya kamu mampir ke Bale Pare. Bale Pare adalah kawasan komersial yang menawarkan konsep suasana wisata kuliner dengan nuansa alam eksotis. Kamu bisa menikmati kuliner dalam suasana bertema etnik budaya tradisional di alam terbuka nan nyaman.

Di Bale Pare terdapat 9 restoran dan 6 kafe yang menyajikan berbagai makanan dan minuman, dilengkapi dengan sarana bermain anak, hiburan musik. Untuk harga makanan dan minuman ngga usah khawatir. Harga makanan disini mulai dari Rp.20.000 sudah free Wifi.

11111a
Pas untuk arena main keluarga (Foto: liburananak.com)

Masjid Al-Irsyad Satya

Bandung tidak hanya memiliki tempat wisata alam, wisata belanja, wisata kuliner yang menjadi alasan kamu menyambangi kota ini, Bandung juga memiliki tempat ibadah yang bisa menjadi wisata religi yang khidmat dan menyenangkan. Salah satu tempat yang bisa dijadikan tempat wisata religi yang menyenangkan adalah Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan.

Terletak di lokasi yang strategis dan terbilang mudah ditemukan di Jl. Parahyangan Km 2,7 Kota Baru Parahyangan, Bandung. Kamu yang baru melintasi jalan ini pasti sudah akan aware dengan bangunan masjid bergaya mirip dengan bangunan Kabah.

aaaaaaaa

Artsitektur keren, sampai menyabet penghargaan internasional karagori tempat ibadah (Foto: Wikipedia)

Hal yang menarik dari Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan adalah arsitektur dan interiornya yang berbeda dari masjid-masjid yang lain. Masjid dengan arsitekur walikota Bandung Ridwan Kamil ini bukan hanya menarik dan unik dilihat dari luar akan tetapi sampai interior masjid juga menarik.

Dengan warna dasar abu-abu, masjid yang masih dalam satu komplek dengan Al Irsyad Satya Islamic School ini juga memberikan sentuhan ornament yang berbeda. Dinding-dinding yang menjadi pelindung masjid terbuat dari susunan batu bata yang mengagumkan. Susunan batu bata ini tidak sembarangan. Susunan batu bata ini membentuk kalimat Bahasa Arab yang bertuliskan kalimat syahadat.

Gimana Seru juga kan? kalau you guys mau sekalian bermalam disana, ada Hotel Maison Pine yang lumayan bagus dan punya view keren, terbilang ngga terlalu mahal kok. Oh iya saat di Kota Baru Parahyangan, posting di Path From-nya tetep Bandung kok? LoL.

Selagi di Gianyar, Mampir Dulu Lah Ke Hidden Canyon

Kayaknya wisata canyon lagi marak di beberapa daerah di dunia, termasuk Indonesia. Beberapa daerah yang punya spot bekas aliran sungai purba apalagi yang sudah berjamur dan punya bebatuan terjal, buru-buru deh pemerintah daerahnya klaim sudah punya canyon!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Canyon atau sudah di-Indonesiakan menjadi Kanyon /ka·nyon/ n bermakna lembah yang sempit dan dalam dengan tepi yang terjal, biasanya ada sungai yang mengalir di dasarnya; jurang.

Nah, ciri-ciri kanyon sesuai KBBI itu juga ada di Gianyar, Bali, konon baru setahun ini ditemukan, penduduk sekitar yang gembira dengan penemuan sisa sungai purba kala itu menyebutnya Hidden Canyon, keren juga yaa!

Berada di area Sungai/Beji Guwang dekat Pura Dalem Guwang, Sukawati, Gianyar, Bali, kata beji sendiri merupakan kata dalam bahasa Bali yang memiliki arti sungai yang dianggap suci. Sungai ini memang dianggap suci karena terdapat beberapa sumber mata air suci.

Beji Guwang memiliki sebuah aliran sungai yang diapit oleh tebing tajam di samping kanan dan kirinya. Air sungai bening berwarna kebiruan dengan ornamen batu kali hitam kecoklatan. Ngga banyak ditemukan lumut di wilayah yang lembab dengan pemandangan menakjubkan ini. .

canyon-4
Lima menit pertama sudah ketemu medan ini, jangan sok tahu dengan ambil jalur sendiri, nurut ajah sama Bli Guide kalau ngga mau tergelincir

Menuju Hidden Canyon terbilang ngga begitu sulit, walaupun besar kemungkinan terlewat karena (saat gua kesana) tandanya cuma plank print out dari bahan fleksi Cina murahan yang ditempel di tempok , buat yang baru sekali atau dua kali ke tempat ini kayaknya mesti kelewat dulu jalan masuk menuju canyon, baru keliatan tuh tanda dan ya mesti putar balik. Letaknya tidak jauh dari Pasar Seni Sukawati, Gianyar, jadi mesti sudah pasang mata selepas pasar Gianyar, atau di Google Maps juga ada kok, selow.

 

Tarif menelusuri Hidden masih terbilang murah, cuma Rp. 10.000 tapi yang mahal adalah dibutuhkan stamina baik dan waras sebab butuh waktu 3 jam lebih untuk melampaui canyon yang terbagi menjadi 3 area ini. Disarankan untuk menggunakan jasa guide yang tersedia, mengingat terlalu banyak jalur yang belum umum digunakan. Paparan terjal dan licin sepanjang jalan dari mula canyon hingga akhir ditambah gesture yang naik turun bersiko tergelincir bila salah melangkah.

Di muka pembayaran tiket, petugas sudah akan menawarkan untuk menggunakan jasa guide, seperti biasa,  gua sih jual mahal dulu, pura-pura udah pernah dan pura-pura ngerti, eh ngga lebih dari 3 menit turun menuju canyon udah nyasar. Terus lihat kanal panjang dengan tebing curam begitu, akhirnya nyerah juga saat guide lokal yang menawarkan untuk menggunakan jasa dia. Tawar menawar ngga terlalu ribet macem di tanah abang, mulanya dia mau gua bayar Rp. 30.000 etapi pas sampai akhir perjalanan, ngga tega juga bayar segitu. Gua senang, bayar gocap ngga jadi masalah.

Sebelum memulai perjalanan, guide sudah mengingatkan untuk melepas alas kaki, jadi perjalanan sepanjang kurang lebih 3 kilo degan berbagai medan ini harus dilampaui dengan tanpa alas kaki. Semua perjuangan ini terbalas dengan pemandangan yang sangat mengagumkan dari setiap titik yang kita lewati, ini luar biasa dan cukup memacu adrenalin, terpeleset sedikit bukan cuma jadi borok ini, patah tulang atau kepala pecah bisa mengingat bebatuan masiv terjal bakal menyambut kita dibawah.

Oh iya tentang dokumentasi no worry, guide juga sudah punya patern lokasi untuk mengabadikan foto sepanjang canyon, hanya yang patut menjadi perhatian cek hasil foto yang mereka ambil, maklum gua mengalami hampir semua foto yang mereka ambil melalu smartphone 98,5% buram, LoL. Oh iya coba-coba jalan melipir jurang dengan posisi gawai di tangan ya, sebab setiap saat resiko jatuh bisa terjadi, dan pastikan gawai juga masuk ke dalam plastik atau gunakan tas yang yang anti air bila resiko terjebur terjadi.

img_3018
Medannya ngga cuma karang terjal, sesekali mesti nyebur juga. Untung bawa model yang serba mau ini, LoL

Medan yang dilalui juga ngga melulu air dan tebing terjal, sesekali harus melewati genangan air setinggi paha orang dewasa, jadi jangan sampai salah konstum ke tempat ini. Sebaiknya pastikan bawa pakaian ganti untuk yang akan melakukan perjalanan ke destinasi lain selepas destinasi ini.

 

canyon-2
Bukan lebay, cara jalan begitu memang dilakukan semua orang sebab tapak untuk melangkah adalah batu dengan permukaan terjal

Akhir dari canyon ketiga bukan berarti akhir dari perjalanan ini, kita masih akan terus melintas jalan naik turun dengan anak-anak sungai kecil diantara rerumputan kering dan perbukitan. Jangan buru-buru, beberapa perbukitan ini menyediakan akar tali yang panjang, nikmatin bergelantungan diantara tali-tali itu atau bisa juga gunakan tali akar untuk memanjat ke atas tebing, kalau berani…

 

img_3046
Selepas canyon ketiga, udah ngga ada basah-basah lagi

Selepas main tali akar itu sudah selesai perjalan? BELUM hahahah, masihpanjang perjalanan. Kita akan melewati kebun pepaya, jenisnya Pepaya Hawaii, ada yang baru dengar? pepayanya kecil-kecil tapi manisnya aduhai, mampir lah ke beberapa gazebo yang menyediakan air minum diatara kebun Pepaya Hawai ini, kalau beruntung penjaga gazebo akan ambilkan pepaya ini, gratis!

 

canyon-3Hamparan padang rumput luas menemani perjalanan menuju parkiran, ada Mini Zoo juga sebelum mengakhiri Hidden Canyon, tapi gua pilih ngga mampir, selain panas terik juga mesti pergi ke beberapa destinasi lain. Sebelum banyak yang bercerita tentang Hidden Canyon, tempat ini patut dijajal, setidaknya you guys jadi generasi pertama yang menceritakan tempat wisata baru ini, seru kan? Seru! tapi bakal ngga jadi seru kalau pergi ke tempat ini menyisakan sampah bekas makanan atau minuman kemasan, you guys jangan buang sampah di tempat ini yaa, bawa keluar sampahmu, di parkiran mereka menyediakan tempat sampah kok!

img_3070

Menikmati Bali Lewat Garis Imajiner Legian-Nusa Penida

Punya duit dan waktu senggang dua tiga hari, pasti kepikiran jalan-jalan. Pilihan ke Bali lagi? ah! Bosan nih, Bali lagi Bali lagi. Eit! Nanti dulu Bali ngga cuma pantai, tempat makan mewah, night club dan beberapa tempat yang banyak diceritakan para blogger lokal ajah!

Kalau di Jogja ada garis imajiner yang menghubungkan Keraton Jogja, Malioboro dan Gunung Merapi, ngga ada salahnya kita bikin garis imajiner ala ala untuk Bali. Caranya gampang ajah sebelum pesen tiket online di Traveloka mampir dulu ke Google Maps, ambil satu lokasi terus coba tarik garis ke vertikal atau horizontal.

Sesuai tema awal ngga mau datangi tempat yang terlalu biasa dikunjungi orang-orang,  mari tarik garis imajiner segaris dengan Nusa Penida. Mendengar pulau tempat pembuangan presiden pertama bangsa ini bikin bulu kuduk merinding. Pengen tahu kenapa sih sampai pulau gersang di luar pulau Bali ini jadi “destinasi” penjajah waktu itu mengasingkan Soekarno? Yuk kita mulai petualangan menjelajah garis imajiner yang akan berakhir di Nusa Penida ini.

Pantai Legian jadi titik awal garis imajiner yang kita tentukan sendiri ini. Tapi rasanya terlalu biasa kalau cari penginapan juga di daerah pantai. Mari sebentar tengok Google map yang akan bantu kita cari penginapan yang tidak terlalu jauh dari Legian tapi tetap berada pada garis imajiner kita menuju Nusa Penida.

Fontana Hotel Bali rupanya ada pada garis ini. Pilihan bermalam di Fontana Hotel Bali ngga salah karena hotel dengan penghargaan Certificate of Excellence 2015 Winner dari Tripadvisor ini bertarif terjangkau namun punya banyak fasilitas. Bukan cuma itu di Fontana Hotel Bali kita bisa merasakan berada di rumah berkat interior yang “rumah banget”. Cari hotel ini di Traveloka juga mudah. Dari Fontana Hotel Bali perjalanan menuju Nusa Penida kita lanjutkan.

Museum Le Mayeur, Sanur

Diambil dari nama bekas pemiliknya, Adrien Jean Le Mayeur de Merpes, dia adalah seorang pelukis Bruxelles, Belgia yang datang ke Bali tahun 1932 melalui pelabuhan Buleleng Singaraja menuju Denpasar. Singkat cerita Le Mayeur bertemu dengan seorang penari legong keraton berusia 15 tahun, Ni Nyomam Pollok, yang kemudian dijadikan model lukisannya.

mg_0190
Perlu sedikit teriak untuk manggil penjaga loket sekalipun kita udah masuk ke komplek museum, waktu gua dateng penjaganya ketiduran di dalem

Usai menikmati karya-karya indah, tidak jauh dari museum Le Mayeur sudah tampak pos penyeberangan menuju Nusa Lembongan. Karena juga digunakan oleh penduduk, penyeberangan Sanur – Nusa Lembongan, Nusa Ceningan dan Nusa Penida terbilang ramai dan urusan harga ngga usah khawatir, tidak sampai bikin kita merogoh kantong sampai dalam deh.

Nusa Lembongan

Terdapat kampung pembudidayaan rumput laut  di Nusa Lembongan. Pemandangan turis asing yang asik mengintai aktivitas petani rumput laut di Nusa Lembongan lewat lensa panjang mereka jadi pemandangan yang biasa di kampung ini. Dari Dermaga Jungut Batu Nusa Lembongan perjalanan menuju perkampungan ini bisa menggunakan ojek sewaan, biasanya begitu tiba di dermaga Anda akan ditawarkan untuk paket sampai Nusa Ceningan.

Nusa Ceningan

Kurang afdol rasanya kalau sudah sampai Nusa Lembongan tidak mampir ke Nusa Ceningan. Pulau kecil yang bersisian dengan Nusa Lembongan ini terhubung dengan sebuah jembatan yang hanya bisa dilalui oleh orang dan motor, jadi jangan bayangkan kalau di Nusa Ceningan itu ada mobil. Berada di Nusa Ceningan tentu juga berbeda dengan di Nusa Lembongan. Pulau yang lebih kecil ini sebagian besar penduduknya bercocok tanam dan nelayan. Tidak banyak spot wisata di pulau ini, tapi bagi Anda yang menyukai duduk-duduk cantik diantara hembusan angin laut sembari menikmati camilan, pulau ini memberikan cukup banyak spot itu.

19835153634_9f2c659820_c
View dari Ceningan Cliff, di depan itu Nusa Penida. Disini gua ngga nginep cuma minum sama jajan cemilan tapi dapet pemandangan bagus ini #TravelerPelit

Bila Anda memilih untuk bermalam di Nusa Ceningan atau Nusa Penida, terdapat cukup banyak penginapan di kedua pulau ini. Bermalam lah sebelum melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida. Namun jika Anda ingin menghabiskan semua dalam satu hari dan pergi bersama rombongan, Anda disarankan untuk menyewa speed boat mulai dari Sanur.

Nusa Penida

Jangan dulu bayangkan Nusa Penida seperti Pulau Bali dengan kehidupan yang ramai dan spot hiburan dimana-mana. Kalau lihat dari Google Earth saja Nusa Penida sudah terlihat gersang dan terkesan kering. Tapi bukan kah kali ini kita mau traveling ke tempat yang tidak biasa?

Ada apa di Nusa Penida? Tanah babatuan dengan permukaan sebagian besar kering ini ternyata punya banyak lokasi yang bikin kita berdecak mulai dari tiba di tempat itu sampai meninggalkannya. Pasih Uug adalah Salah satu spot indah di Nusa Penida, Pasih uug yang bermakna pasir runtuh ini memilik legenda yang diceritakan turun temurun oleh tetua di Nusa Penida bahwa mereka tidak boleh berlaku sembarangan terhadap alam semesta.

pasir-uug
Pemandangan hamparan luas Samudra Hindia di balik Pasih Uug itu bener-bener keren, kayak bukan di Indonesia.

Agar eksplorasi Nusa Penida efektif dan cukup satu hari, disarankan untuk membayar ojek yang tersedia di Dermaga Nyuh, ojek disana tertib dan punya uratan sendiri, jadi kita ngga bisa pilih-pilih. Jauhnya jarak antar antar spot di Nusa Penida membuat Anda cukup bingung jika menyewa motor sendiri dan tidak menggunakan jasa ojek. Banyaknya area-area tak berpenduduk, tidak ada orang yang bisa ditanya dan satu lagi, provider ponsel ternama sering kali mengalami blank spot di banyak area di Nusa Penida sehingga Anda tidak bisa mengandalkan Google Map atau Waze yang pintar itu.

interspace
Gampang cari WC umum di Nusa Penida. Waktu gua bilang mau pipis, dia langsung berenti dan suruh gua pipis sembarangan sementara pipis, ini hasil potonya. 

Warung Makan Mak Beng

Selepas dari penyeberangan Nusa Penida, ada yang wajib kita kunjungi agar tidak ketinggalan cerita seperti orang-orang, namanya Warung Makan Mak Beng, lokasinya persis di setelah pintu keluar dermaga penyeberjangan.

Menu andalan yang ditawarkan adalah sup kepala ikan dan ikan goreng Jengki bumbu pedas hasil tangkapan nelayan lokal dari Pantai Sanur. Ikan Jangki segar yang telah dibersihkan ini dimasak selama kurang lebih 3 jam hingga dagingnya lembut dan empuk. Perasan jeruk nipis dan daun salam bantu hilangkan bau amis ikan ditambah campuran bumbu khas bali dan rempah-rempah yang dimasak dengan cara tradisional Bali. ah! Membayangkan gigitan ikan ini berbalur sambal campuran cabai, terasi,  gula jawa dan minyak goreng ini membuat semua lelah terbayar seketika. Salah satu yang unik dari warung ini adalah tidak tersedianya pendingin AC di semua ruangan, hanya kipas angin tua yang berputar membagi angin bagi banyak pembeli dengan peluh keringat. Suasana ini pasti bikin Anda semangat untuk tambah lagi dan tambah lagi.

Yuk ke Moyo

Berada pada sisi utara Sumbawa sejauh 2.5 km, pulau yang  mendadak terkenal seantero jagad lantaran pernah disambangi Lady Diana tanggal 16 Agustus 1993 selama tiga hari dua malam ini terbilang sangat mudah dijangkau.

Dari Dermaga Goa, Labuan Badas, sisi terdekat Sumbawa ke Pulau Moyo,  hanya membutuhkan waktu 20 menit dengan menggunakan speed boat Bintang Moyo Travel. Jasa ini adalah yang paling sering mengantar tamu-tamu lokal maupun mancanegara ke Pulau Moyo. Dengan tarif tiga juta rupiah pulang pergi untuk 10 penumpang, melakukan perjalanan berjamaah ke Moyo akan lebih murah dan hemat.

Selain pakai boat, you guys yang mau merasakan ambience perjalanan laut bersama penduduk Moyo yang lalu lalang ke Sumbawa, Bintang Moyo juga menyediakan fasilitas transportasi umum dengan kapal berukuran besar, tentu dengan tarif yang lebih murah. eh tapi inget, rasanya untuk hari jumat ngga ada perjalanan dari dan ke Moyo dengan kapal kayu, cek dulu ajah sebaiknya. biar ngga lupa tulis sekarang deh nomor telepon bintang moyo travel, +6285205111611

_MG_1188

boat Bintang Moyo yang gua tumpangi ini kayaknya berkecepatan 50 knot deh, konon sering menang lomba nih di Gili Trawangan

Demi alasan kenyamanan perjalanan di Moyo, mintalah pihak Bintang Moyo untuk mengatur itenerary dan fasilitas selama di Moyo, mereka adalah para pemuda asli Pulau Moyo yang gencar melakukan promosi dan kemudahan kepada siapa pun yang ingin berkunjung ke Moyo. Dengan senang hati mereka akan membantu menyiapkan guess house, konsumsi, berkeliling ke berbagai objek wisata, hingga snorkling di Moyo.

 

_MG_1192

Semacam kantor sementara Bintang Moyo di Dermaga Labuan Aji, masih dalam renovasi

Air Terjun Mata Jitu

bayangin deh ada di tempat ini terus denger gemersik air terjun itu, endah banget guys

Butuh waktu kurang lebih satu jam dari Labuan AJi, dermaga di Pulau Moyo, menuju air terjun ini. Lokasi ini lah salah satu yang dikunjungi almarhumah Lady Diana waktu itu.

_MG_1214

Menuju lokasi ini hanya bisa ditempuh dengan menggunakan ojek motor,  itu pun ngga sampai langsung ke titik air terjun, you guys kudu jalan kaki sejauh kurang lebih setengah kilo meter, motor yang kita tumpangi tidak bisa menjangkau lokasi air terjun ini sebab curam dan banyak akar-akar pohon yang menjulur ke jalan. mungkin itu salah satu

kenapa area ini begitu terjaga keasriannya: tidak ada asap knalpot di area Mata Jitu.

 

_MG_1242

jalan di jembatan yang terbuat dari ranting ini seperti dongeng kisah putri salju dan 7 kurcaci saat mereka pulang dari hutan

Di area yang masih disebut Mata Jitu itu, kita masih bisa menelusuri spot menarik lain, guide yang mengantar gua waktu itu menyebut tempat ini juga bernama Mata Jitu, aneh ya, ada dua air terjun, dua duanya sama-sama bernama Mata Jitu, ah biarin lah. emang keren lah dua-duanya

t_MG_1254

tuh guys, air terjun kedua, keren banget kan!!

Sumber air mata jitu yang berasal dari balik bebatuan besar tidak jauh dari air terjun Mata Jitu menghasilkan air sangat bening. Aliran saluran air yang dilalui menuju tempat yang lebih rendah bagaikan kaca, gua sampai bisa bercermin!!! (ngga penting haha)  pasir pada dasar airnya juga terlihat jelas, ngga ada sedikitpun kotoran mengambang apalagi sampah yang dihasilkan manusia di area ini, adanya hanya dadaunan dan ranting pohon tua yang jatuh.

_MG_1261

 

Dawu Mbha’i

_MG_1267 copy

gua sih sempet nyoba tuh gelantungan di tali itu, berhubung bobot gua sedikit lebih berat dari anak-anak itu, yaa cukup sekali ajah lah

No Gadget mereka tetep happy

Usai menghabiskan banyak waktu di Air Terjun Mata Jitu, sang guide udah tahu destinasi berikutnya. Dengan waktu tempuh setengah jam pakai motor, lokasi menarik lain adalah Dawu Mbha’i. Menurut bahasa lokal kata ini bermakna danau buaya, tempat semacam ‘water park’ yang banyak dikunjungi anak-anak lokal ini mengundang banyak perhatian. Aktifitas bermain air mereka yang sarat keberanian dijamin membuat berdecak melihatnya, bukan cuma aktifitas lompat dan naik melalui akar pohon, yang tidak kalah menarik adalah gaya mereka bergelantungan dan canda diantara mereka pada seutas tali dijamin bikin iri dengan kebahagiaan itu.

_MG_1217

Datang dan nikmati Moyo!

Enyahkan Bising dengan Headphones

Image

Dunia telah kian bising. Di lain pihak kita pada titik tertentu memang terpaksa hidup dalam kebisingan itu. Pergi ke tempat yang relatif tenang seperti ke pegunungan atau pantai bisa menjadi jawaban. Namun tidak setiap waktu setiap orang punya pilihan semacam itu. Ditempatkan pada situasi seperti itu, penemuan headphone menjadi suatu berkat

Meskipun telah dirintis sejak mula abad 20 headphone moderen baru ditermukan pada tahun 1950-an. Headphones stereo modern pertama muncul pada 1958 dan rasa terima kasih patut kita alamatkan kepada John Koss.

Sementara operator telepon dan radio masih memakai headphones dan earphones teramat sederhana, Koss menciptakakan headhones yang lebih moderen untuk mendengarkan musik. Produk pertamanya diberi nama Sp/3. Produk pertama ini dibundel bersama gramofon seukuran tas koper. Tak ada orang yang menyukainya. Namun di dunia rekaman gagasan ini mendapat banyak sekali pujian.

Koss memperbaiki hasil karyanya pada tahun 1960-an dengan merilis model sp/4 pada tahun 1962. Demi untuk tetap bersaing perusahaanya memperkenalkan headphones elektrostatis pertama.

Baru pada tahun 80-an kita mampu membeli produk lebih ringkas dan lebih murah. Bagi generasi itu, headphone banyak terhubung ke pemutar kaset legendaris milik Sony Walkman. Dibanding dengan desain headphones tradisional yang menggunakan semacam mangkuk demi menutup seluruh daun telinga, produk era 80-an telah menerapkan desain yang lebih ramah-gaya. Produk itu disebut supra-aura, dan orang-orang cinta mati kepadanya.

Pad ara 90-an, headphones serupa kapas pembersih telinga muncul. Pengeras pada headphones itu memiliki ukuran cukup kecil sehingga bisa diletakan tepat di liang pendengaran. Produk itu lebih mungil, murah, dan nyaman. Kita mengenalnya sebagai earphones. Namun karena suara dari luar bisa ‘bocor’ para pemakianya kerap memutar musik dengan volume tinggi yang tentunya lebih berbahaya bagi pendengaran.

Image

Dari segi desain, earphones memiliki generasi lebih baru yang disebut canalphones. Produk ini serupa dengan earphones hanya saja pada bagian yang mengarah ke liang telinga ada semacam tonjololan yang membuatnya memampatkan saluran pendengaran.

Secara akustik canalphones lebih baik dari earphones namun jika Anda kerap mendengarkan musik bersama, lebih baik tidak berbagi canalphones dengan telinga lain.

Tentunya masih banyak dan akan lebih banyak lagi penemuan yang berkaitan dengan headphones dengan berbagai nama dan teknologi sesuai kemajuan jaman. Anda boleh bangga dengan produk baru yang Anda beli di suatu Negara dan belum dapat ditemui tempat lingkungan sosial Anda di Indonesia, namun setidak nya prinsip dari alat itu tidak pernah berbeda di seluruh negara. Apa pun jenis dan teknologi headphone Anda, apa pun jenis musik yang Anda perdengarkan, sesungguhnya tenggelam dalam dalam musik yang kita cintai sungguh membuat kita berasa dalam studio pribadi.

Mengenang Kedigdayaan Krakatau

Image

Siapa pun pasti pernah mendengar kedigdayaan orang tua gunung yang kini masih setinggi 400 meter diatas permukaan laut itu. Pada masa purbakala konon gunung ini lah yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Sumatra. Kekuatan daya letus pada masa purba itu memang tidak banyak catatan, selain korban yang ditimbulkan tidak terlalu banyak (mungkin) karena belum banyaknya penduduk bumi pada masa itu.

Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyebutkan “Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara (yang dimaksud Batuwara ini adalah Krakatau). Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula…. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera. “

Walaupun cerita ini ditanggapi kurang serius oleh pa Syarif, penjaga Cagar Alam Krakatau karena tidak ada catatan ilmiah ketika itu, namun pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara benar adanya, tinggi Krakatau Purba saat itu mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.

Image
Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.

Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Letusan Krakatau paca letusan purba yang tercatat dalam banyak literatur adalah letusan tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan Krakatau terdengar hingga Alice Springs, di Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika sejauh 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20 itu letusan gunung berapi yang paling besar dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Berbeda dengan saat letusan purba, saat Gunung Krakatau meletus kali ini, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Berdiri diantara belerang dengan hamparan pasir panas Anak Krakatau sungguh merupakan pengalaman yang menakjubkan, dibutuhkan niat yang kuat dengan cukup keberanian menghampiri Anak Krakatau ini.

Image

Letusan Krakatau pasca letusan purba yang tercatat dalam banyak literatur adalah letusan tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan Krakatau terdengar hingga Alice Springs, di Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika sejauh 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20 itu letusan gunung berapi yang paling besar dalam sejarah manusia moderen. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Berbeda dengan saat letusan purba, saat Gunung Krakatau meletus kali ini, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Image

Berdiri diantara belerang hangat dengan hamparan pasir panas Anak Krakatau sungguh merupakan pengalaman yang menakjubkan, dibutuhkan 2 syarat yaitu niat yang kuat dan cukup keberanian menghampiri Anak Krakatau ini. Jika Anda memiliki dua syarat itu, datang dan nikmatilah.

Image

Sunrise via JT011

Hal yang ngga pernah gua lakukan sebelum ini adalah balik ke Jakarta menggunakan penerbangan paling pagi dari Denpasar. Kali ini gua lakukan karena dua hari jelang Nyepi hampir seluruh penerbangan di setiap jam penerbangan sudah ludes terjual.

Sore itu ada keburuntungan karena ternyata pemesanan tiket via online Lion Air untuk besok hari pukul 06:30 masih available dan cuma itu yang ada hingga penerbangan satu hari setelahnya sebab seluruh penerbangan dari dan ke Denpasar saat hari Nyepi praktis ngga ada.

Tiga hari tinggal di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur yang penuh dengan leyeh-leyeh akhirnya harus tegang sejak jelang tidur malam. Alarm, baik yang disetel di HP maupun titp via resepsionis hotel malam itu harus dipastikan banget bekerja untuk bangun jam setengah 5 pagi, sebab secara hitung-hitungan harus check out jam 5 pagi dari hotel. Perjalanan dari Sanur ke Ngurah Rai mungkin ditempuh setengah jam sekalipun pagi itu sudah gua bayangkan akan melintas tol Bali Mandara menuju Bandara Ngurah Rai itu.

Syukurlah seluruh alarm berbunyi, semua berjalan lancar walaupun agak kurang rela karena harus meninggalkan pantai Sanur dengan harapan sunrise yang mungkin bakal ada kerena dua hari kemarin selalu mendung.

Berbeda dengan Jakarta, pukul 5 pagi di Sanur rasanya ayam pun enggan bangun, cuaca yang sesekali gerimis itu memang mestinya masih enak untuk tidur atau bermalas-malasan.

Setibanya di Bandara Ngurah Rai ketegangan mulai memuncak, karena ternyata perjalanan Sanur-Bandara Ngurah Rai yang diperkirakan setengah malah sampai 45 menit ditambah dengan bandara yang baru ini, dimana motor (karena gua diantar motor temen Bali yang ikut menginap) ngga boleh melintas depan bandara (dulu boleh ngga yaa?) jadi harus lebih jauh ke belakang dan menempuh jalan kaki dengan memakan waktu cukup lama untuk sampai ke terminal keberangkatan.

Singkat cerita akhirnya duduk manis di kursi Boeing 737-300ER kursi nomor 39F Lion Air penerbangan JT011 pukul 06:30 dan bisa menikmati sunrise tentu bukan permintaan gua sebelumnya. Ini semacam posisi bonus buat gua, karena duduk di sisi kanan paling belakang pesawat dimana titik matahari terbit tepat berada di pandangan mata gua. Mungkin penumpang lain di depan ngga dapat kesempatan ini karena posisi mereka tertutup oleh badan pesawat di sisi kanan, apalagi penumpang yang ada di sisi kursi A atau kiri. Sedikit menyesal karena kamera DSLR sudah masuk tas di dalam kabin, tapi… ah sudahlah toh yang penting kan moment sunrise-nya. Dengan kemampuan zoom iPhone 4s yang gua pakai terpaksa gua manfaatkan moment ini

ini penampakan awal saat gua menoleh pertama kali ke jendela

Image

duh, selain belum begitu matang warna horizon-nya, tetesan sisa air hujan di jendela ganggu banget nih, lagian Mr. Matahari juga belum nongol bener, take lagi ah..

Image

nah, mulai mateng nih warna horizon-nya, tunggu sambil harap-harap cemas semoga bener-bener terlihat Sang Mentari pagi

Image

jreeeenggggg, baru deh tampak jelas seluruh body sunrise pagi itu, akhirnya dapet juga moment sunrise di pangkalan udara.

Ngga cukup saat matahari terbit pemandangan indah jelang pesawat taxi dan menuggu antrian di taxi way juga ada pemandangan antrian di landasan termasuk ‘jurang’ landasan take off pesawat dengan laut yang khas di Ngurah Rai, Denpasar.

Image

Masih ada lagi bonus tambahan setelah pesawat take off, duh nikmatnya penerbangan JT011 Lion Air ini. Ternyata dengan duduk di kursi F kita juga akan leluasa menikmati pemandangan jalan tol Bali Mandara sepanjang 12 KM yang menghubungkan Nusa Dua, Ngurah Rai dan Benoa di tengah laut ini.

Image

Tadinya gua kira bakal bete pagi-pagi buta sudah harus meninggalkan Bali. Diberi kesempatan duduk di kursi 39F bikin perjalanan balik ke Jakarta makin asyik. Suatu saat gua akan gunakan lagi penerbangan dari DPS ke CKG ini untuk dapet moment lebih oke lagi.

Jadi bagi yang mau dapet moment keren ini, pastikan memesan penerbangan dengan Lior Air penerbangan JT011 pukul 06:30, et!! jangan lupa, jangan simpan DSLR Anda di dalam bagasi, pastikan dia duduk manis bersama Anda di kursi dan siap jepret.

Sanoyara Bali

Dari Canti berlabuh ke Anak Krakatau

Mahmur di Canti

Pagi itu, Jumat 28 Februari 2014 mungkin akan menjadi hari yang bersejarah bagi saya dan Welly Kurniawan, GM Inna 8 Lampung. Kami bisa berbangga karena kami termasuk sedikit orang yang pernah menginjakan kaki di Anak Krakatau.

Tepat pukul 07:00 kami beranjak dari Inna 8 Lampung jalan Hiu nomor 1, Bandar Lampung. Perjalanan dari Inna 8 Lampung menuju Bandar Canti di Lampung Selatan cukup mengasyikan, lintasan pegunungan yang berbaris di jalur trans Sumatra lengkap dengan aktivitas masyarakat sepanjang perjalanan membuat perjalan kami terasa dekat hingga akhirnya tiba di Dermaga Canti.

Minimnya informasi yang kami dapatkan sebelum menempuh perjalanan menuju Anak Krakatau membuat kami mengocek kantung cukup dalam. Rupanya perahu yang menuju objek desa wisata Sebesi dan singgah ke Anak Krakatau ini reguler adalah pemberangkatan setiap hari sabtu pukul 8 pagi. Trip dengan tujuan tersebut menginap semalam di Pulau Sebesi dan balik menuju Dermaga Canti hari minggu pukul 2 siang.

Ibarat genderang perang sudah ditabuh dan bendera perang sudah dikibarkan, tekat kami bulat menuju Anak Krakatau, akhirnya kami tetap memutuskan menuju Anak Krakatau dengan menyewa 1 buah perahu dengan 1 nahkoda dan 2 ABK yang khusus mengantarkan kami menuju Anak Krakatau. Mahal? ya tentu saja sebab perahu yang biasanya bermuatan 20-an orang kali ini hanya dimuati kami berdua. Tepat pukul 10:45 perahu yang mengantar kami lepas sandar di Dermaga Canti.

Perjalanan menuju Anak Krakatau dari Dermaga Canti memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan rata-rata kecepatan perahu 20-30 km/jam. Suhu siang itu menurut seorang ABK tidak lebih panas dibanding biasanya, walaupun menurut kami itu sudah cukup terik. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat memukau, gugusan pulau yang kita lalui sangat menarik, sesaat kami berpapasan dengan kapal muatan barang yang datang dari Pulau Sebesi, bukan hanya itu berbagai jenis ikan yang beterbangan diatas air laut pun acap kali kami temui.

Satu setengah jam setelah melewati Pulau Sebesit “kecurigaan” kami mulai timbul ketika kami melihat ada tiga gugusan pulau dimana di sisi kiri dan kanan kanan berbentuk segitiga 90 derajat dengan diujung sana sebuah gunung berdiri tegak. Rupanya kecurigaan kami salah, ketiga gugusan itu adalah Pulau Sertung, Rakata, dan Panjang menurut ABK yang kami minta untuk menjawab kecurigaan kami disela-sela pekerjaannya. Lalu dimana si Anak Krakatau yang kami cari.

he stand besides me

Di sisi kanan perahu kami sebenarnya ada satu pulau gersang tandus dengan pepohonan yang hanya terdapat pohon dibagian bawahnya. Pada bagian atas gunung tandus itu sesekali terlihat kepulan asap. Kami berdua melakukan tebakan ulang terhadap apa yang kami lihat setelah tebakan kami sebelumnya salah. “oh mungkin ini, karena masih aktif”. Tebakan kami terjawab oleh arah perahu yang membelok menuju pantai pasir hitam tanpa dermaga ini. Ya, ternyata gunung hitam tandus ini lah yang kami tuju. tepat pukul 14:05 akhirnya kami berdua menginjakan kaki di Anak Krakatau. Haru campur was-was berada di anak gunung yang lahir tahun 1927 dari Kaldera letusan 1883 silam.

me on Anak Krakatau

Kedatangan kami disambut oleh pa Syarif dan pa Nainggolan, petugas Penjaga Ekosistem Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung. Dengan senang hati kedua bapak ini menjawab semua keingintahuan kami tentang Anak Krakatau dan mengantarkan kami mendaki hingga ketinggian kurang lebih 250 meter DPL ini dari total tinggi Anak Krakatu 400 DPL.

Pa Syarif

Penjelasan pa Syarif tentang anak yang rata-rata setiap tahun menjulang 3 meter dari atas permukaan laut ini membuat kami sangat berkeinginan menuju puncaknya. Walaupun tidak mendaki sampai puncaknya kaena alsan bahaya, tapi pendakian setinggi kurang lebih 250 meter dengan medan curam dan pasir yang panas di siang hari ini sangat menyita tenaga dan emosi kami. Perjalanan terpaksa harus berkali-kali berhenti, bukan karena alasan untuk mengabadikan gambar pada setiap pemberhentian tapi kondisi fisik yang mulai letih jelang 3/4 perjalanan. Makin keatas tentu pamandangan makin indah.

me on Anak Krakatau

Barisan tiga pulau di depan mata berlatarkan air laut yang tenang kala itu ditambah burung-burung elang yang beterbangan membuat letih hilang saat menginjakan kaki pada batas ujung pendakian. Aktivitas foto, mulai foto pemandangan hingga selfie-pun kami lakukan, cuma sayangnya provider yang kami gunakan tidak menjangkau tempat ini dan sharing foto bagi jejaring sosial terpaksa urung.

Satu jam lebih pendakian menuju puncak Anak Krakatau, dan hari mulai sore, hingga akhirmya kami putuskan untuk segera pulang karena kami masih punya satu tujuan lagi di sekitar yaitu Pulau Sebesi.

Disana Rakata

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan akhirnya kami merasakan kehangatan pasir panas Anak Krakatau. Ada yang kami sesali hari itu yaitu ekspektasi kami terlalu besar dengan “tujuan wisata” kami hari itu. Kami tidak menyediakan sedikitpun bekal berupa makanan dalam perjalanan ini, dugaan kami di tempat ini terdapat cukup banyak warung atau tempat kami duduk menikmati minum dan makanan kecil, ouwwww, tidak sama sekali. Jangankan berharap ada warung, melihat tempat seperti ini dan masih ada saudara-saudara kita yang mau tinggal dengan melakukan fungsi kontrol bagi ekosistem wilayah sekitar pun rasanya kami patut bangga dengan prefesi mereka. Salam hormat kami haturkan bagi mereka sebelum kami meninggalkan pantai Anak Krakatau dengan pasir legam ini disertai dengan kondisi fisik yang sangat lelah dan perut keroncongan. (mahmur)

[artikel ini juga dimuat di Majalah Pleasure inroom magazine Hotel Inna Groups]