Pasar Tomohon, (Bukan) Pasar Biasa

Apa yang ada di negeri orang kadang terkesan lebih seru dibanding apa yang ada di negeri sendiri, termasuk pasar. Pasar paling seru yang pernah gua lihat sebelum ini adalah pasar Yau Ma Tei di Hongkong. Kenapa seru, beberapa tahun silam waktu gua ke Hongkong, lihat pasar dengan pemandangan kepala babi berjajar sepanjang los udah gua anggap seru. Merah merona daging babi yang baru keluar dari tempat penyimpanan gua anggap seru waktu itu. Belakangan gua dengar Indonesia juga punya pasar seru, saking serunya pasar ini dapat julukan pasar ekstrem, adanya di Manado, namanya Pasar Tomohon.

Tanggal 8 Februari 2017 lalu gua berkesempatan sambangi Pasar Tomohon. Ternyata benar, pasar ini lebih seru dari yang pernah gua lihat di Hongkong. Gimana ngga seru, di Yau Ma Tei hewan yang dijual babi dan anjing itu pun gua ngga sempat lihat proses pelepasan nyawa, di Tomohon segala rupa hewan ada lengkap dengan prosesi mengerikan dalam rangka pelepasan roh dengan jasad. Ngerih!  Ini lah pasar hewan heterogen terlengkap di Indonesia yang pernah gua lihat, ada yang bilang paling heterogen se-Asia Tenggara. Bukan cuma babi dan anjing yang ada pada etalase berlumur darah di Tomohon. Mulai ular sanca sebesar betis orang dewasa, kucing, tikus, monyet, sampai kelelawar bergelayutan di pasar Tomohon menunggu pembeli meminang daging mereka.

 

_MG_4858

Ya, beda Tomohon beda juga Yau Ma Tei. Kalau di Yau Ma Tei gua lihat hewan-hewan itu terpajang sudah dalam keadaan mati, di Tomohon lihat prosesi dari roh menempel pada jasad hewan hingga roh melayang melintasi langit-langit pasar bisa bikin eneg. Pisau tajam terlalu mainstream buat mereka. Sebuah karung, kayu pemukul,  dan alat semprot api untuk menghilangkan bulu-bulu pada hewan itu jadi alat kerja utama pedagang di pasar Tomohon.

tom 3

Eh! Apa hewannya sudah mati saat disemprot api. Ngga loh! Mereka tetap sikat binatang yang meronta-ronta kesakitan itu dan menghabisi sisa nyawa dengan guyuran api ke tubuhnya. Waktu gua disana ada yang cerita katanya sudah ada beberapa persatuan penyayang hewan yang protes atau semacam keberatan dengan cara ini, tapi ya mereka jawab gampang ajah, “ini sudah kami lakukan turun temurun dari nenek moyang kami, dari dulu nenek moyang kami melakukan ini tidak ada yang protes”. Begitu jawaban salah satu penjual waktu gua kejar pertanyaan kenapa masih lakukan cara itu. Terdengar sadis ya, tapi itu yang gua lihat ketika mereka memenuhi permintaan pembeli anjing saat gua tiba di pasar Tomohon Rabu pagi itu.

tom 1

Pasar Tomohon sebenarnya sama seperti pasar tradisional lain di Indonesia. Ada dua sisi pedagang di Pasar Tomohon yang bersebelahan, yaitu pedagang sayur dan pedagang daging. Mereka yang perlu belanja sayur yang ke sisi sayur dan setelah usai belanja sayur mau belanja belanja beraneka jenis daging ya ke los daging, biasa kan?

_MG_4861
Gua sempat datangi orang yang baru beli daging kucing, ketika gua tanya suka ya daging kucing. Dia bilang biasa ajah. Terus saat gua tanya, serupa dengan daging apa rasa daging kucing. Dia jawab dengan santai “serupa daging anjing cuma kucing lebih panas ajah, jadi terasa lebih enak di badan”. Lebih panas. Okelah Bu, sambil bayangin tangan tu ibu muda menyantap  paha kucing pakai sambal roa.

 

Get there

Gimana sih caranya ke Pasar Tomohon yang ada di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut ini? Dari Manado ke Tomohon sangat mudah. Karena gua menginap di Hotel Aryaduta Manado, cukup menyeberang jalan pakai angkot No. 45 dari depan RS. Siloam Manado tujuan ke Pasar Kerombasan, tarifnya Rp. 4.000. Perjalanan dari RS. Siloam Manado ke pasar Kerombasan sekitar 30 menit. No worry lah, ngga bakal bosan naik angkot di Manado, sebab rata-rata angkot sudah full music, dengan volume kadang-kadang sesuka suasana hati supirnya.

Dari pasar Kerombasan menyeberang pasar menuju terminal bus. Nah disitulah tersedia banyak bus sedang jurusan Tomohon. Saat gua naik, bus sudah penuh dan kernet menawarkan untuk naik bus berikutnya. Ah tapi ngga lah, akhirnya gua duduk di tangga belakang dengan pemandangan langsung keluar. Seru!

 Turun di tempat perhentian terakhir bus ini, bukan terminal resmi tapi mereka menyebutnya terminal, ya terminal Tomohon. Dari terminal Tomohon ini menuju Pasar Tomohon bisa jalan kaki atau bisa pakai ojek motor, bayar Rp. 3.000.

 

Best Time
Hari apa dan jam berapa sih waktu terbaik mengunjungi Pasar Tomohon? Nah, seperti halnya pasar-pasar lain di Indonesia, di Tomohon juga ada hari pasar. Hari pasar di Tomohon adalah hari dimana para penjual dari gunung-gunung dan desa-desa yang sangat jauh dari luar kota Tomohon ini membawa berbagai jenis hewan mereka. Jadi kalau mau lihat betul hari pembantaian yang sebenarnya pergilah pada hari pasar yaitu hari Selasa dan Sabtu, tapi ingat ngga boleh lebih dari jam 11 siang, jam segitu komoditas sudah habis terjual. Bagusnya sih jam 6 sampai jam 8 pagi.
Lah terus gimana bisa sampai di Pasar Tomohon sepagi itu? Jangan khawatir, di sekitar Pasar Tomohon banyak sekali penginapan murah dan layak untuk orang-orang yang mau berburu “moment” pagi disana. Jadi pergi satu hari sebelumnya dan ambil penginapan di Tomohon adalah pilihan terbaik. Waktu gua disana, penginapan banyak diinapi oleh para turis Jepun dan Cina yang sengaja menginap beberapa hari di Tomohon untuk menikmati segarnya berbagai jenis hewan itu.
Kita boleh anggap Pasar Tomohon ini pasar yang ngga biasa karena membantai dengan cara yang ngga normal hewan yang akan diambil dagingnya, tapi buat orang Tomohon pasr ini adalah pasar biasa tempat mereka membeli berbagai kebutuhan daging sehari-hari. Buat yang belum pernah kesana mungkin melihat ini sebagai sebuah kekejaman, tapi gua yang pernah beberapa menit disana dan bincang dengan beberapa penjual dan pembeli rasanya menggap gua lebai saat bilang Pasar Tomohon adalah pasar yang luar biasa.
Kurang lebih dua jam perjalanan dari Manado memang cuma lihat keseruan di Pasar Tomohon ajah? ah tentu ngga! Jangan buru-buru pulang usai dari Pasar Tomohon. Di wilayah yang terbilang berada di ketinggian itu masih banyak pemandangan yang bikin seger mata, ya setidaknya menghapus pemandangan eneg selepas pembantaian.
IMG_4867
Mau tahu apa ajah tempat seru di Tomohon dan Minahasa, gua bikin tulisan terpisah deh yaa.

Brown Canyon-Semarang, Bukan Canyon yang Sebenarnya

Tahun 2016 traveler lokal dikagetkan dengan munculnya canyon baru di Semarang. Ada blog travel sampai bilang Grand Canyon di Semarang tak kalah indah dari Grand Canyon yang ada di Amerika. Waw!! Mestinya keren banget lah kalau begitu Brown Canyon ini.

Tentu gua ngga bisa bantah begitu ajah tulisan blog travel yang berani bandingkan canyon yang ada di Amerika dengan yang baru ditemukan di Semarang, sebab gua belum pernah pergi ke canyon yang kalah indah di Amerika itu.

Tanpa rencana matang, akhir 2016 kemarin gua dan keluarga memutuskan untuk merayakan tahun baru dengan solo touring. Namanya touring yang penting jakarta coret. Bandung definitely bosan dan kepikir macet, Cirebon rasanya terlalu sebentar untuk 4 hari liburan. Akhirnya terpilih lah Semarang. Horeee angan-angan untuk sambangi Brown Canyon hampir terwujud.

Tol Cipali yang biasanya liburan panjang macet ikut panjang macetnya, eh kali ini lancar jaya, hanya hujan terus menemani sampai selepas Kendal hingga Allstay Hotel Semarang, Jalan Veteran tempat kami menginap. Kekhawatiran batal ke Brown Canyon membayangi hingga pagi. Menurut salah seorang traveler yang jumpa di hotel pagi itu bilang jangan memaksakan diri ke Brown Canyon kalau habis hujan, akan sangat becek, banyak lumpur bahkan sulit dilewati mobil pribadi.

Begitu dengar sulit dilewati mobil pribadi, adrenalin malah menggelora. Pasti asik tempat ini. Sabtu tanggal 31 Januari 2016 pukul 09:00 akhirnya gua berangkat dari hotel menuju Brown Canyon. Google Maps bilang jarak cuma 13 km dengan perjalanan ngga lebih dari 1 jam. Okel lah.

To get there

Sesuai sub judul, hari gini mah ngga sulit kalau mau ke sebuah destinasi, tinggal cari di Google Maps, dapat lah nama Brown Canyon. You guys kalau mau kesana tap embed map ini ajah https://goo.gl/maps/hyxMHM9tQHv.

Jangan bayangkan jalan menuju canyon juga lengkap dengan fasilitas petunjuk jalan, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju lokasi dihiasi oleh pemandangan indah layaknya beberapa lokasi wisata lain, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju canyon papasan dengan para turis lokal maupun turis bule, ngga banget!

Jalan menuju Brown Canyon dari Semarang adalah jalan kabupaten dengan fasilitas 1 jalan aspal dua arah yang banyak dilalui motor-motor dan becak, ngga ada petunjuk jalan atau umbul-umbul mengarah lokasi. Sepanjang perjalanan dari Jalan Veteran Semarang ngga ada rambu petunjuk Brown Canyon. Karena ini jalan kabupaten atau bahkan jalan kecamatan, bakal ketemu tikungan-tikungan atau perempatan yang macet, mohon bersabar ajah. Satu lagi, jangan berharap papasan dengan para turis bule macam di Ubud atau di Hidden Canyon di Gianyar, ngga guys! yang ada elu hanya akan banyak papasan dengan truk-truk pengangkut tanah dengan supir dan kernet berwajah lelah dengan baju kaos merk Hings yang fenomenal.

Area lokasi canyon dengan hunian penduduk dipisahkan oleh jembatan kali yang hanya bisa dilalui 1 kendaraan, jadi mesti gantian. Apa yang dibilang si traveler itu ternyata benar, jalan menuju lokasi sangat becek dan licin. Ada 3 akses menuju lokasi terdekat ke bukit canyon, dua akses lain negatif untuk dilewati, tinggal 1 akses lagi dan you guys mesti bersaing dengan truk di jalan tanah itu.

Tingginya sisa tanah yang disebut canyon itu sudah terlihat kurang lebih 300 meter sebelum tiba di lokasi. Hujan yang turun terus menerus hingga pagi tadi bukan hanya ganggu jalan masuk menuju canyon, tapi juga ganggu pemandangan untuk foto canyon. Awan mendung sisa hujan bener-bener bikin kelam.

brown04

Fasilitas

Tidak ada lokasi parkir layaknya sebua tempat wisata, ngga ada gate masuk layaknya masuk ke DUFAN atau ke TAMAN SAFARI, ngga! Ngga ada. Tapi begitu mobil kita mulai parkir seadanya ngga jauh dari kaki bukit itu, dua motor sigap hampiri dan sodorkan tiket tanda masuk lokasi wisata senilai Rp. 5.000,- per orang. Mau berantem juga males cuma lima ribu doang cuma KZL ajah, maen todong begini, ah yaudah lah. Dengan sedikit ngobrol ngalur-ngidul salah satunya bilang yaudah pak, bayar 3 orang ajah. Kami berlima waktu itu. Jadi dia dapat Rp. 15.000 dan ngga tahu pergi kemana setelah itu. Mungkin ke pos penjaga tiket masuk, mungkin ada loh. Sebab gua juga ngga lihat lagi setelah itu.

brown02Banyaknya antrian truk menunggu giliran untuk diisi tanah oleh escavator, ramainya dentuman dinamit untuk hacurkan tanah-tanah yang masiv, banyaknya titik rawan dinamit untuk didekati dan tidak adanya titik safety point sekedar untuk berteduh menikmati INDAHNYA canyon bikin gua yakin betul tempat ini bukan tempat wisata. Jika ada yang bilang ini tempat wisata itu jelas dipaksakan berdasarkan sisa tanah tanah yang belum runtuh oleh dentuman dinamit. Tempat ini jelas berbahaya untuk dikunjungi.

Lalu kenapa banyak yang masih mau datang ke tempat ini? Bagi para pemburu foto, lingkungan ekstrem disini jelas jadi surga untuk ambil gambar. Ceruk yang tergali dengan meninggalkan bagian lain yang belum sempat digali tentu jadi daya tarik tersediri, termasuk beberapa bukit sisa yang belum dihancurkan.

brown01

Untuk Siapa Brown Canyon

Lalu kenapa lokasi ini sampai terbentuk canyon dan diberi nama Brown Canyon? Brown Canyon adalah nama yang kelak akan digunakan oleh si pemilik area untuk komplek perumahan orang-orang kaya di Semarang. Saat ini mereka sedang melakukan cut and fill area. Mungkin master plan mereka ada area yang harus di-cut, sehingga banyak tanah yang harus dibawa keluar area dan ada bagian yang dibiarkan atau bahkan ditambah ketinggiannya untuk bikin efek mengagumkan dari komplek perumahan yang akan ditempati orang-orang kaya nanti.

brown05

Sampai Kapan bayar Rp. 5.000

Terus tinggal berapa lama lagi para photo hunters bisa mengabadikan CANYON yang konon tak kalah indah dari GRAND CANYON di Amerika ini? Hasil obrolan gua dengan salah seorang mandor di sela-sela ledakan dinamit, kurang dari 6 bulan sejak hari itu sebagian besar bukit-bukit sudah akan rata dengan tanah. Sedih ngga? Ngga sedih sih. Susunan bukit-bukit sisa galian itu bakal hilang, tapi ngga usah khawatir, itu semua bakal digantikan oleh bukit baru yang lebih hijau, lebih bersih, lebih tertata dengan pintu masuk dan gerbang yang jelas ditambah baliho sangat besar mungkin bertuliskan Selamat Datang Di Komplek Perumahan (mewah) Brown Canyon. Oh iya satu lagi, kalau udah ada embel-embel Komplek Perumahan pasti jalan menuju Brown Canyon bakal banyak rambu petunjuk sejak dari Simpang Lima dan jalannya pasti makin halus.

brown03

Jadi buat yang mau menikmati Brown Canyon selagi bayarnya cuma Rp. 5.000 dari sekarang deh sambangi, sebelum bukit yang indah itu berganti jadi bukit buatan nan indah tak seindah Grand Canyon di Amerika.

escape01

Yang Tidak Usai di Singosari

Singhosari

Candi Singosari disebut masyarakat setempat sebagai Candi Cungkup, awalnya sempat dinamakan juga candi Renggo, Candi Menara,dan Candi Cella. Untuk sebutan yang terakhir karena candi ini memiliki celah sebanyak 4 buah di bagian tubuh candi. Hingga kini nama yang lebih dikenal adalah Candi Singosari karena letaknya di Singosari. Banyak yang menganggap bahwa Candi Singosari adalah makam Raja Kertanegara sebagai raja terakhir Singosari. Akan tetapi pendapat ini diragukan banyak ahli, lebih dimungkinkan Candi Singosari merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa karena sistem mandala yang berkonsep candi Hindu dan sekaligus sebagai media pengubah dari air biasa menjadi air suci (amerta).

Candi Singosari awalnya disebut dalam sebuah laporan kepurbakalaan tahun 1803 oleh Nicolaus  Engelhard, seorang Gubernur PantaiTimur Laut Jawa. Ia melaporkan tentangreruntuhan candi di daerah dataran tandus diMalang. Tahun 1901 Komisi Arkeologi Belandamelakukan penelitian ulang dan penggalian. Berikutnya 1934 Departemen Survey Arkeologi Hindia Belanda Timur merestorasi bangunanini hingga selesainya tahun 1937. Anda dapatmelihat goresan tanda penyelesaian pemugaranini pada batu kaki candi di sudut barat daya.Saat ini banyak arca-arca dari reruntuhan Candi Singosari disimpan di Museum Leiden Belanda.Ada informasi yang mencukupi dapat diketahuitentang Singosari dari teks Jawa kuno abad ke-14 yaitu “Pararaton” atau kitab raja. Candi Singosariyang dibangun tahun 1304 ini umumnya dihiasi dari bawah hingga atasnya.

Hiasan tidak seluruhnya terselesaikan sehingga ada dugaan candi ini dalam proses pembangunan yang belum selesai kemudian ditinggalkan. Dimungkinkan akibat adanya peperangan yaitu serangan Kerajaan Gelang-Gelang pimpinan Jayakatwang tahun 1292 hingga menghancurkan Kerajaan Singosari, sering disebut juga masa kehancuran Singosari atau pralaya.

Kerajaan Singosari didirikan tahun 1222 oleh seorang rakyat biasa bernama Ken Arok, yang berhasil menikahi putri cantik Ken Dedes dari Janggala setelah membunuh suaminya. Ken Arok kemudian menyerang Kediri dan berhasil menyatukan dua wilayah terbelah yang pernah dipisahkan oleh Raja Airlangga tahun 1049 sebagai warisan untuk kedua putranya. Singosari kemudian berhasil mengembangkan pertanian yang subur di sepanjang aliran sungai Brantas, serta perdagangan laut yang menguntungkan di sepanjang Laut Jawa.

Pada 1275 dan1291 Raja Singosari yaitu Kertanegara menyerang kerajaan maritim Sriwijaya di Sumatera Selatan dan kemudian mengontrol perdagangan laut di laut Jawa dan Sumatera. Dalam masa kejayaannya, Singosari begitu kuat, bahkan Kaisar Mongol Kubilai Khan yang perkasa menganggap penting mengirim armada dan utusan khusus ke kerajaan Singosari untuk menuntut Raja Kertanegara secara pribadi untuk memberikan loyalitas kepadaMongol. Sebagai jawabannya, ternyata Raja Kertanegara memotong telinga salah satu utusan tersebut sebagai pesan kepada Kubilai Khan bahwa Singosari tidak akan tunduk.

Kertanegara dibunuh oleh salah seorang raja bawahannya yaitu Jayakatwang tahun 1293. Ketika armada perang dikirim oleh Kubilai Khan tiba di Jawa, mereka tidak mengetahui bahwa rupanya Raja Kertanegara sudah tiada. Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, berhasil membujuk armada Kublai Khan untuk membunuh Jayakatwang, trik ini berhasil dan RadenWijaya berbalik mengusir armada Mongol dari Jawa setelah dimanfaatkan untuk membunuh Jayakatwang. Raden Wijaya selanjutnya mendirikan kerajaanMajapahit tahun 1294 di utara Singosari yaitudi Porong. Maka berlangsunglah sebuah masa keemasan bagi sebuah kerajaan bernama Majapahit yang kekuasaannya mencakup Indonesia saat ini dan bahkan hingga ke Malaysia dan Thailand.

DSC_0174

Tidak banyak sisa-sisa Kerajaan Singosari yang pernah berkuasa abad 13 di Jawa Timur. Hanya ada sebuah candi yang belum selesai dibangun dan dua patung raksasa yang berdiri menjaga di depan istana sebagai jejak yang tersisa dari salah satu kerajaan besar di Nusantara ini.

Letupan Semeru

Waktu menunjukan pukul 00:30 saat pa Rasiono dari pihak Inna Tretes Hotel mengetuk pintu kamar saya dan membangunkan untuk persiapan menuju Bromo. Begitu dinginnya di Inna Tretes hotel pagi ini, hal pertama yang saya lakukan adalah menengok gadget untuk tahu informasi suhu. wow!! ternyata 210 Celcius, lumayan dingin apalagi angin yang berhembus cukup kencang. Perjalanan menuju Bromo dari Inna Treres Hotel memakan waktu satu setengah jam kurang. Dengan kesigapan pa Margo, driver Inna Tretes pagi itu juga ditemani pihak marketing Inna Tretes, Ferdy, kami berangkat menuju Bromo dengan perbekalan yang cukup meriah, mulai minuman, makanan ringan hingga makanan berat (ini mau naik gunung apa pindah tempat makan yaa :p) Bagi yang tidak terbiasa dengan perjalanan mendaki dan berbelok, disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu. perjalanan menuju Bromo melalui titik yang disarankan oleh pa Margo ini terbilang cepat namun banyak tikungan dan tanjakan. 

menuju view pananjakan

Setiba di parkiran, rombongan sudah diterima oleh seorang pengendara Jeep, yang rupanya sudah dihubungi oleh pihak Inna Tretes untuk mengantar kami ke view point Pananjakan. Perjalanan menuju view point ini pun cukup asyik, pemandangan sepanjang jalur yang kita lewati tidak pernah berhenti ‘menyapa’ untuk kita lakukan pemotretan sembari Jeep 4.000 cc ini terus melaju. Setibanya di titik View Point Pananjakan pukul 03:46 rupanya sudah banyak sekali orang yang sudah siap dengan tripod berdiri siap membidik sunrise yang sesekali mereka arahkan ke kawah pasir Bromo yang eksotis. Jelang pukul 5:08 ketika sinar surya mulai merekah, suasana di tempat ini makin hangat, mereka yang menurut saya tidak saling mengenal itu tiba-tiba terlibat pembicaraan menarik tentang perubahan warna di sekitar puncak gunung. Setelah proses itu berlalu, dan beberapa orang sudah meninggalkan lokasi view point ini, tiba-tiba dari kejauhan terlihat semburan debu yang makin lama makin membesar. Tidak lain gunung yang mengeluarkan debu itu adalah Gunung Semeru. Bersyukur karena belum meninggalkan lokasi itu, segera saja kamera yang saya bawa mengabadikan pemandangan yang menurut beberapa orang tidak terbilang sering ini.

DSC_0464