Brown Canyon-Semarang, Bukan Canyon yang Sebenarnya

Tahun 2016 traveler lokal dikagetkan dengan munculnya canyon baru di Semarang. Ada blog travel sampai bilang Grand Canyon di Semarang tak kalah indah dari Grand Canyon yang ada di Amerika. Waw!! Mestinya keren banget lah kalau begitu Brown Canyon ini.

Tentu gua ngga bisa bantah begitu ajah tulisan blog travel yang berani bandingkan canyon yang ada di Amerika dengan yang baru ditemukan di Semarang, sebab gua belum pernah pergi ke canyon yang kalah indah di Amerika itu.

Tanpa rencana matang, akhir 2016 kemarin gua dan keluarga memutuskan untuk merayakan tahun baru dengan solo touring. Namanya touring yang penting jakarta coret. Bandung definitely bosan dan kepikir macet, Cirebon rasanya terlalu sebentar untuk 4 hari liburan. Akhirnya terpilih lah Semarang. Horeee angan-angan untuk sambangi Brown Canyon hampir terwujud.

Tol Cipali yang biasanya liburan panjang macet ikut panjang macetnya, eh kali ini lancar jaya, hanya hujan terus menemani sampai selepas Kendal hingga Allstay Hotel Semarang, Jalan Veteran tempat kami menginap. Kekhawatiran batal ke Brown Canyon membayangi hingga pagi. Menurut salah seorang traveler yang jumpa di hotel pagi itu bilang jangan memaksakan diri ke Brown Canyon kalau habis hujan, akan sangat becek, banyak lumpur bahkan sulit dilewati mobil pribadi.

Begitu dengar sulit dilewati mobil pribadi, adrenalin malah menggelora. Pasti asik tempat ini. Sabtu tanggal 31 Januari 2016 pukul 09:00 akhirnya gua berangkat dari hotel menuju Brown Canyon. Google Maps bilang jarak cuma 13 km dengan perjalanan ngga lebih dari 1 jam. Okel lah.

To get there

Sesuai sub judul, hari gini mah ngga sulit kalau mau ke sebuah destinasi, tinggal cari di Google Maps, dapat lah nama Brown Canyon. You guys kalau mau kesana tap embed map ini ajah https://goo.gl/maps/hyxMHM9tQHv.

Jangan bayangkan jalan menuju canyon juga lengkap dengan fasilitas petunjuk jalan, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju lokasi dihiasi oleh pemandangan indah layaknya beberapa lokasi wisata lain, ngga banget! Jangan bayangkan jalan menuju canyon papasan dengan para turis lokal maupun turis bule, ngga banget!

Jalan menuju Brown Canyon dari Semarang adalah jalan kabupaten dengan fasilitas 1 jalan aspal dua arah yang banyak dilalui motor-motor dan becak, ngga ada petunjuk jalan atau umbul-umbul mengarah lokasi. Sepanjang perjalanan dari Jalan Veteran Semarang ngga ada rambu petunjuk Brown Canyon. Karena ini jalan kabupaten atau bahkan jalan kecamatan, bakal ketemu tikungan-tikungan atau perempatan yang macet, mohon bersabar ajah. Satu lagi, jangan berharap papasan dengan para turis bule macam di Ubud atau di Hidden Canyon di Gianyar, ngga guys! yang ada elu hanya akan banyak papasan dengan truk-truk pengangkut tanah dengan supir dan kernet berwajah lelah dengan baju kaos merk Hings yang fenomenal.

Area lokasi canyon dengan hunian penduduk dipisahkan oleh jembatan kali yang hanya bisa dilalui 1 kendaraan, jadi mesti gantian. Apa yang dibilang si traveler itu ternyata benar, jalan menuju lokasi sangat becek dan licin. Ada 3 akses menuju lokasi terdekat ke bukit canyon, dua akses lain negatif untuk dilewati, tinggal 1 akses lagi dan you guys mesti bersaing dengan truk di jalan tanah itu.

Tingginya sisa tanah yang disebut canyon itu sudah terlihat kurang lebih 300 meter sebelum tiba di lokasi. Hujan yang turun terus menerus hingga pagi tadi bukan hanya ganggu jalan masuk menuju canyon, tapi juga ganggu pemandangan untuk foto canyon. Awan mendung sisa hujan bener-bener bikin kelam.

brown04

Fasilitas

Tidak ada lokasi parkir layaknya sebua tempat wisata, ngga ada gate masuk layaknya masuk ke DUFAN atau ke TAMAN SAFARI, ngga! Ngga ada. Tapi begitu mobil kita mulai parkir seadanya ngga jauh dari kaki bukit itu, dua motor sigap hampiri dan sodorkan tiket tanda masuk lokasi wisata senilai Rp. 5.000,- per orang. Mau berantem juga males cuma lima ribu doang cuma KZL ajah, maen todong begini, ah yaudah lah. Dengan sedikit ngobrol ngalur-ngidul salah satunya bilang yaudah pak, bayar 3 orang ajah. Kami berlima waktu itu. Jadi dia dapat Rp. 15.000 dan ngga tahu pergi kemana setelah itu. Mungkin ke pos penjaga tiket masuk, mungkin ada loh. Sebab gua juga ngga lihat lagi setelah itu.

brown02Banyaknya antrian truk menunggu giliran untuk diisi tanah oleh escavator, ramainya dentuman dinamit untuk hacurkan tanah-tanah yang masiv, banyaknya titik rawan dinamit untuk didekati dan tidak adanya titik safety point sekedar untuk berteduh menikmati INDAHNYA canyon bikin gua yakin betul tempat ini bukan tempat wisata. Jika ada yang bilang ini tempat wisata itu jelas dipaksakan berdasarkan sisa tanah tanah yang belum runtuh oleh dentuman dinamit. Tempat ini jelas berbahaya untuk dikunjungi.

Lalu kenapa banyak yang masih mau datang ke tempat ini? Bagi para pemburu foto, lingkungan ekstrem disini jelas jadi surga untuk ambil gambar. Ceruk yang tergali dengan meninggalkan bagian lain yang belum sempat digali tentu jadi daya tarik tersediri, termasuk beberapa bukit sisa yang belum dihancurkan.

brown01

Untuk Siapa Brown Canyon

Lalu kenapa lokasi ini sampai terbentuk canyon dan diberi nama Brown Canyon? Brown Canyon adalah nama yang kelak akan digunakan oleh si pemilik area untuk komplek perumahan orang-orang kaya di Semarang. Saat ini mereka sedang melakukan cut and fill area. Mungkin master plan mereka ada area yang harus di-cut, sehingga banyak tanah yang harus dibawa keluar area dan ada bagian yang dibiarkan atau bahkan ditambah ketinggiannya untuk bikin efek mengagumkan dari komplek perumahan yang akan ditempati orang-orang kaya nanti.

brown05

Sampai Kapan bayar Rp. 5.000

Terus tinggal berapa lama lagi para photo hunters bisa mengabadikan CANYON yang konon tak kalah indah dari GRAND CANYON di Amerika ini? Hasil obrolan gua dengan salah seorang mandor di sela-sela ledakan dinamit, kurang dari 6 bulan sejak hari itu sebagian besar bukit-bukit sudah akan rata dengan tanah. Sedih ngga? Ngga sedih sih. Susunan bukit-bukit sisa galian itu bakal hilang, tapi ngga usah khawatir, itu semua bakal digantikan oleh bukit baru yang lebih hijau, lebih bersih, lebih tertata dengan pintu masuk dan gerbang yang jelas ditambah baliho sangat besar mungkin bertuliskan Selamat Datang Di Komplek Perumahan (mewah) Brown Canyon. Oh iya satu lagi, kalau udah ada embel-embel Komplek Perumahan pasti jalan menuju Brown Canyon bakal banyak rambu petunjuk sejak dari Simpang Lima dan jalannya pasti makin halus.

brown03

Jadi buat yang mau menikmati Brown Canyon selagi bayarnya cuma Rp. 5.000 dari sekarang deh sambangi, sebelum bukit yang indah itu berganti jadi bukit buatan nan indah tak seindah Grand Canyon di Amerika.

escape01

Advertisements

Kota Baru Parahyangan, Cara Nikmati Bandung dari Sisi yang Berbeda

Mau menikmati segarnya Kota Bandung di hari libur tapi ngga mau ketemu macet-macet? Ya sudah ngga usah melaju terus sampai tol Pasteur, keluar ajah di Gerbang Tol Padalarang. Kota baru di Bandung Barat ini  patut dijajal.

Ada apa ajah sih di Kota Baru Parahyangan ini? Sebelum you guys benar-benar memutuskan untuk pergi kesana, ngga ada salahnya cari tahu ada apa ajah sih disana, yuk!

Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan

Kamu yang belum pernah dengar istilah Sundial, mending kita cari tahu dulu istilah Sundial. Menurut Wikipedia, Sundial atau Jam matahari adalah sebuah perangkat sederhana yang menunjukkan waktu berdasarkan pergerakan matahari di Meridian. Jam Matahari merupakan perangkat penunjuk waktu yang sangat kuno. Jaman dulu itu belum ada jam baik analog apalagi digital yang bisa kamu dapatkan dimana-mana seperti sekarang. Sayangnya tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan perangkat Sundial dibuat.

Jam Matahari tertua yang pernah ditemukan, kebanyakan berasal dari Yunani, berupa sebuah bentukan sirkular dengan penanda di tengah yang ditemukan oleh Chaldean Berosis, yang hidup sekitar 340 SM. Beberapa artefak jam matahari lain ditemukan, di Tivoli, Italia tahun 1746, di Castel Nuovo dan Rigano tahun 1751, dan di Pompeii tahun 1762.

111
Berada di rounabout Kota Baru Parahyangan, jadi mudah dikenal banget kalau ini adalah Puspa Iptek (Foto gua olah dari Google Maps, keren ngga?!!!)

 

Rancangan jam matahari memanfaatkan bayangan yang menimpa permukaan datar yang ditandai dengan jam-jam dalam suatu hari. Seiring dengan perubahan pada posisi Matahari, waktu yang ditunjukkan oleh bayangan tersebut pun turut berubah. Pada dasarnya, jam Matahari dapat dibuat menggunakan segala jenis permukaan yang ditimpa bayangan yang dapat ditebak posisinya. Kekurangan dari jam Matahari adalah tidak bisa mengukur waktu pada saat jam malam. Lalu bagaimana nenek moyang kita mengetahui waktu di malam hari? Sebagai pengganti pada saat malam hari dapat digunakan jam bintang. Kecanggihan nenek moyang kita untuk mengetahui waktu pada masa lampau bisa kamu lihat di Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan ini.

11111
Karya purba kala itu sekarang ada di Kota Baru Parahyangan

Selain jam matahari yang merupakan bukti kecanggihan purbakala, Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan juga punya lebih dari 180 buah alat peraga interaktif dimana kamu bisa mencoba dan mengeksplorasi sendiri alat teknologi itu. Menarik bukan? Jam buka Puspa Iptek Sundial Kota Baru Parahyangan beroperasi hari Selasa hingga Minggu dari pukul 08.30 hingga 16.30. Harga Tiket Masuk Puspa Iptek Kota Baru Parahyangan Bandung sebesar Rp.12.000 dan Rp.24.000 Harga Tiket Masuk jika ingin menyaksikan juga pertunjukan film 4 dimensi.

Bale Pare the Shop and Dine Experience

Ke Bandung ngga mampir ke wisata kuliner pasti ada yang kurang. Nah, selagi di Kota Baru Parahyangan sebaiknya kamu mampir ke Bale Pare. Bale Pare adalah kawasan komersial yang menawarkan konsep suasana wisata kuliner dengan nuansa alam eksotis. Kamu bisa menikmati kuliner dalam suasana bertema etnik budaya tradisional di alam terbuka nan nyaman.

Di Bale Pare terdapat 9 restoran dan 6 kafe yang menyajikan berbagai makanan dan minuman, dilengkapi dengan sarana bermain anak, hiburan musik. Untuk harga makanan dan minuman ngga usah khawatir. Harga makanan disini mulai dari Rp.20.000 sudah free Wifi.

11111a
Pas untuk arena main keluarga (Foto: liburananak.com)

Masjid Al-Irsyad Satya

Bandung tidak hanya memiliki tempat wisata alam, wisata belanja, wisata kuliner yang menjadi alasan kamu menyambangi kota ini, Bandung juga memiliki tempat ibadah yang bisa menjadi wisata religi yang khidmat dan menyenangkan. Salah satu tempat yang bisa dijadikan tempat wisata religi yang menyenangkan adalah Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan.

Terletak di lokasi yang strategis dan terbilang mudah ditemukan di Jl. Parahyangan Km 2,7 Kota Baru Parahyangan, Bandung. Kamu yang baru melintasi jalan ini pasti sudah akan aware dengan bangunan masjid bergaya mirip dengan bangunan Kabah.

aaaaaaaa

Artsitektur keren, sampai menyabet penghargaan internasional karagori tempat ibadah (Foto: Wikipedia)

Hal yang menarik dari Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan adalah arsitektur dan interiornya yang berbeda dari masjid-masjid yang lain. Masjid dengan arsitekur walikota Bandung Ridwan Kamil ini bukan hanya menarik dan unik dilihat dari luar akan tetapi sampai interior masjid juga menarik.

Dengan warna dasar abu-abu, masjid yang masih dalam satu komplek dengan Al Irsyad Satya Islamic School ini juga memberikan sentuhan ornament yang berbeda. Dinding-dinding yang menjadi pelindung masjid terbuat dari susunan batu bata yang mengagumkan. Susunan batu bata ini tidak sembarangan. Susunan batu bata ini membentuk kalimat Bahasa Arab yang bertuliskan kalimat syahadat.

Gimana Seru juga kan? kalau you guys mau sekalian bermalam disana, ada Hotel Maison Pine yang lumayan bagus dan punya view keren, terbilang ngga terlalu mahal kok. Oh iya saat di Kota Baru Parahyangan, posting di Path From-nya tetep Bandung kok? LoL.